suara-hatiHari ini, sebagian besar suara hati dari jutaan pribadi memunculkan diri, menyeruak diantara banyak suara-suara yang berseliweran. Keadaan ini sudah berlangsung beberapa bulan lalu, malahan. Kenapa begitu, ya karena saat ini bangsa kita sedang merayakan pesta demokrasi untuk memilih pemimpin daerah yang kebetulan diadakan di beberapa tempat, dan dilakukan secara serentak.

Saya juga dapat undangan untuk memilih. Kebetulan saya berhak memilih calon Gubernur Banten, karena saya tinggal di Tangerang. Kabetulan juga, hari ini bangun agak siang karena libur, hehe. Memang hari ini menjadi hari libur nasional berkaitan dengan diadakannya Pilkada alias Pemilihan Kepala Daerah. Dan saya pribadi pastinya akan menggunakan hak suara saya.

Saya nggak akan membawa kedua calon Gubernur Banten dalam pembahasan catatan saya ini. Selain bersifat pribadi, ini juga masuk area yang kadang kalo dibahas bisa menjadi polemik; merasa paling bener, paling tahu, paling ngerti sejarah, dsb. Makanya saya hanya ingin berbagi soal kenapa kita harus memberikan suara terlepas dari apapun pertimbangan kita. Namanya juga pesta demokrasi, boleh dong, saya juga ikutan have fun di pesta ini, hehe…

Nah, balik lagi ke soal suara hati. Saya tentu juga akan mendengarkannya baik saat memilih di Pilkada ataupun saat mengambil keputusan apapun dalam hidup. Suara hati memang terdengar pelan, bahkan kadang ‘kalah’ sama suara-suara yang ada di sekitar. Tapi kalo menurut saya, suara hati adalah bentuk yang paling jujur yang saya bisa jadikan sebagai alasan pengambilan keputusan. Mungkin terdengar naif bagi sebagian orang, tapi saya akan tetap mendengarkan suara hati, walau saya juga sadar kalo apapun keputusan yang saya ambil bukan berarti paling oke dan nggak bakal punya akibat. Yah, saya anggap, kalo saya udah bertindak sesuai suara hati, apapun yang terjadi nantinya ya harus gue terima sebagai konsekuensi, baik itu bakal oke atau enggak. Saya akan menikmati itu semua.

Tentu, sebelum pengambilan keputusan yang berdasarkan suara hati, akan ada banyak masukan, diskusi, pendapat, dan bujuk rayu yang ikutan hadir. Tetap saya akan menikmati itu semua, dan saya nggak mau ambil pusing. Saya akan tetap menikmati setiap proses yang terjadi. Sampai pada satu titik ketika saya harus mengambil keputusan, saya akan membuka telinga lebih dalam untuk memberi kesempatan suara hati gue yang berbicara. Sesimpel itu.

So, baik ingin menggunakan kesempatan untuk berpartisipasi dalam Pilkada dan ikut memilih adalah hak pribadi. Jika ingin memilih dan berharap hasil yang baik di kemudian hari ya kita tinggal memberikan suara. Jika nggak mau memilih karena alasan tertentu juga bebas aja. Yang penting saya dan kita semua sudah menggunakan hak kita untuk memilih. Ini memang hak dan bukan kewajiban. Nggak ada hukuman apalagi sanksi jika kita nggak berpartisipasi dalam Pemilu atau Pilkada. Cukup berpikir positif dan ikuti suara hati, dan tentukan pilihan. Itu saja. Kedepannya, jika keadaan tidak seusai dengan harpan, ya bukan salah gue atau loe semua yang ikut memilih. Nothing to lose aja, sambil membawa harapan juga tentunya…

Mari nikmati hidup, dan biarkan semua berjalan dengan semestinya. Nggak perlu pusing, stress, apalagi saling menebar kebencian dan permusuhan sesama anak bangsa. Cukup tentukan langkah, nikmati dan jalani proses ke depan dengan selalu berpikir positif. Simple kan?

Have a nice day ya.

Advertisements