imlek-2017Tahun Baru Imlek yang kebetulan jatuh pada hari Sabtu kemarin, tentunya disambut penuh sukacita oleh rekan-rekan gue yang merayakan. Berbagai aktivitas, tradisi, serta banyak ciri khas lainnya menjadi hal yang mewarnai perayaan tahun baru Imlek, ataupun perayaan tahun baru masehi yang juga dirayakan oleh semua orang.

Berbagai perayaan maupun peringatan hari besar agama, budaya, maupun nasional tentunya akan berlangsung rutin setiap tahun dan pastinya akan menghadirkan kegembiraan. Tapi, semua yang rutin dilakukan setiap tahunnya ini, kadang sebatas menjadi bentuk rutinitas semata; yang (sudah pasti) membutuhkan biaya tidak sedikit, tapi tidak memiliki makna yang ‘sesungguhnya’. Hanya berkumpul bersama, makan-makan, ngobrol bersama, itu aja.

Tapi, ini bukan pendapat yang menyamaratakan semua perayaan Imlek ya. Ini hanya sebatas yang saya lihat di sekitar kehidupan saya saja. Jujur, saya memiliki banyak teman dekat dengan berbagi latar belakang agama maupun budaya. Yang merayakan Lebaran, Natal, Nyepi, termasuk yang juga rajin besembahyang di Wihara. Bagitu juga teman-teman saya ada yang berasal dari suku Jawa, Batak, Manado, Sunda, Padang, Bugis, sampe keturunan Tionghoa. Pokoknya beragam.

Nah berhubung saat ini sedang riuh rendah perayaan Imlek, maka saya coba sharing aja soal obrolan yang sering saya lakukan bersama teman saya yang kebetulan merayakan Imlek. Teman saya itu memiliki banyak adik dan kakak. Keluarga besar lah pokoknya. Temen saya itu anak pertama dari 7 bersaudara, belum lagi ditambah para cucu yang tentunya makin menambah jumlah keluarga.

Sebagai keluarga yang merayakan Imlek, tentu teman saya dan keluarganya juga ikut ‘menjalani’ tradisi budaya yang mereka rayakan selama ini. Baik itu membuat kue tradisional, beli baju baru, sampai melakukan aktivitas makan malam bersama. Semua anggota keluarga yang kebetulan tinggal di beberapa kota berbeda sudah menyediakan waktu khusus agar bisa merayakan Imlek bersama. Sebagian sudah pesan tiket pesawat dan kereta jauh-jauh hari, mengambil cuti, sampai membuat daftar belanja kebutuhan yang perlu dibeli saat merayakan Imlek nanti. Para ibu malah sudah mulai menyiapkan dan membuat kue dan makanan khas sejak seminggu sebelumnya. Hadir di rumah orang tua dan merayakan Imlek bersama keluarga seakan menjadi hal yang wajib dilakukan.

Di sisi lain, teman saya itu yang menganut Katolik dan juga merayakan Natal pastinya, tidak menemukan kebersamaan dan kegairahan yang sama saat dia dan keluarga merayakan Natal. Contohnya, kadang tidak semua anggota keluarga bisa berkumpul semua. Ada yang tidak bisa datang ke rumah orang tua untuk berkumpul dengan berbagai alasan. Entah soal kesibukan usaha, soal pekerjaan, atau apapun. Seandainya mereka mengunjungi orang tua, biasanya dilakukan seminggu sesudah Natal. Tentunya, momen berkumpul dan makan malam bersama menjadi kurang afdol atau kurang berkesan, karena tidak semua anggota keluarga hadir.

Itu sih salah satu contoh aja. Masih banyak contoh lainnya yang berhubungan dengan tradisi dan kebiasaan merayak hari raya. Karena itulah, bolah percaya atau enggak, temen saya itu nggak begitu antusias menyambut Imlek.

Menurut temen saya itu, Imlek juga bukan hanya sekedar makan bersama, beli ini itu, pesta dan selesai. Imlek adalah momen menyambut tahun baru yang bisa menjadi momentum untuk melihat ke dalam diri, hal baik dan target apa yang ingin diraih tahun depan, sambil meninggalkan keburukan pikiran dan perilaku di tahun lalu. Nggak jauh beda saat Natal. Bukan hanya perayaan semata, tapi bisa menjadi awal untuk menjadi manusia baru yang lebih baik.

Memang perayaan sebagai bagian dari tradisi sah-sah saja dilakukan. Tapi yang jauh lebih penting ya bagaimana cara pandang kita saat merayakan Imlek dan Natal, misalnya. Jadi setiap tahun selalu ada momentum untuk lebih melihat ke dalam diri kita untuk berbuat lebih baik kedepannya, tidak hanya sekedar membuat kue enak, beli baju baru, dan makam malam bersama keluarga di restoran wewah.

Sekali lagi, karena bangsa Indonesia terdiri dari banyak agama dan suku, maka tentunya banyak juga temen saya yang punya ‘kisah’ yang sama untuk urusan merayakan hari besar agama atau menjalani ritual budaya ini. Dan obrolan yang sering saya lakukan bersama rekan-rekan saya itu nggak berusaha merubah tradisi atau ajaran agama, tentunya. Ini hanya sekedar menambah wawasan untuk merubah cara pandang dan diwujudkan dalam bersikap; bagaimana merayakan hari raya tanpa harus kehilangan makna sesungguhnya. Dan ini berlaku umum, dari latar belakang agama dan budaya apapun. So, tetap semangat ya…

Selamat Tahun Baru Imlek buat semua yang merayakan.

Semoga tahun depan membawa banyak berkat buat kita semua dan keluarga ya. Amin…

Advertisements