damai-di-bumiNatal telah lewat, tahun baru menjelang. Kebahagiaan Natal yang gue rasakan akan disusul oleh kebahagiaan baru saat merayakan pergantian tahun. Ini memang melulu soal peringatan dan perayaan sesuai kalender masehi yang berlaku. Tapi bagi gue, ini tetap perayaan, tetap menjadi momen untuk selalu bersyukur atas hidup bagi kita semua; apapun agama yang kita anut, asal budaya dan bangsa kita, atau apapun keyakinan, ideologi, paham, dan pemikiran yang kita pegang.

Gue nggak mau pusing soal bangaimana asal muasal agama, budaya, keyakinan dan aneka keberagaman lain itu terbentuk. Dan gue emang gak akan nulis soal ini. Gue hanya ingin menulis lagi soal yang gue rasakan dan yang gue harapkan saat ini dan bukan masa lalu. Hari ini dan bukan kemarin. Sekarang dan bukan tahun kemarin.

Oke, secara lebih spesifik gue mau menularkan harapan gue ke semua yang mungkin baca tulisan ini. Gue hanya ingin DAMAI, dan ada kedamaian yang selalu gue temui, ada kedamaian yang selalu diupayakan, ada kedamaian yang menjadi hal ‘lumrah’ dan ada kedamaian yang selalu jadi tugas kita semua buat ngejaga.

Gue bukan calon peraih ataupun peraih nobel perdamaian atau aktivis perdamaian dunia, ataupun ahli kemanusiaan yang selalu bicara soal kedamaian. Gue cuma seseorang yang cinta damai. Itu aja. Yah minimal gue gak terlalu ambisius, bisa bikin damai di lungkungan terdekat aja udah bikin gue hepi.

Banyak emang penyebab keadaan jadi gak damai. Dari dunia politik sampai ekonomi, dari dunia olahraga sampai dunia hiburan. Dari lingkup keluarga sampai RT, dari lingkup bisnis sampai dunia pendidikan. Penyebabnya kadang hanya karena adanya perbedaan yang hadir dan menimbulkan efek tambahan seperti berasa bener sendiri, berasa paling oke, membenci yang berbeda pandangan, sampai membunuh yang gak sepaham atau seagama, hiii serem…

Kalo menghilangkan perbedaan jelas gak mungkin. Gue Jawa, loe Batak. Gue Katholik, loe Moslem. Gue Demokrat, loe Republik. Gue Indonesia, loe Italia. Gue orang kota, loe orang desa. Masih banyak lagi deh. Baik dari sisi demografi, psikografi atau apapun.

Nah! kalo gitu satu-satunya cara ya dengan menerima dan menghargai perbedaan. Kita mungkin gak setuju dengan paham tertentu. Atau mungkin nggak sependapat dengan aliran tertentu. Atau nggak cocok dengan gaya hidup tertentu. Tapi ya udah, nikmati aja perbedaan itu. Gak perlu saling berkoar paling bener, nggak perlu benci ssampe ke hati cuma karena beda selera makan, apalagi sampe musuhan tujuh turunan gara-gara beda agama.

Gue gak perlu banyak kasih contoh lagi ah ya… takut dibilang sok tau dan sok tua, hehe Cuma gue hanya ingin berbagi semangat aja, agar kita semua terus bisa mengupayakan kedamaian di lingkungan sekitar kita. Di keluarga, lingkungan rumah, sampe ke kampus atau kantor. ‘No hurt feeling’ and ‘easy going’ aja kalo ada konflik atau masalah. Atau malah kalau bisa jauhi konflik dan jangan sampe membuat konflik. Gampang kok. Cukup senyum, kembali melangkah dan tebarkan kebaikan ke sekitar. Kan gak ada yang menang dan kalah, kecuali kalo kita memang atlet olimpiade yang emang harus gak mau kalah. Tapi atlet jika nggak juara, juga tetep bisa menerima kekalahan dengan senyum toh?

So, let’s be more friendly, kind, easy going and good people. Yah minimal jadi diri sendiri yang lebih oke aja lah. Kalo kita udah bersikap baik dan selalu mendahulukan kedamaian tapi tetep dianggap aneh dan malah dibenci orang, baru deh kita bisa bilang, “bodo amat ah, gitu aja kok repot!” hehehe

Damai di bumi damai di hati.

Selamat Natal dan Tahun baru ya….

Advertisements