100-freeSebagai mahluk sosial kita tidak akan penah luput dari yang namanya relasi, baik itu dalam bentuk persahabatan, kerjasama bisnis, atau dalam kelompok kerja baik di kantor, kampus atau bahkan dalam organisasi  kemasyarakatan seperti di tingkat perumahan hingga ke skala yang lebih luas.

Secara gue yang hanya pribadi biasa aja, jadi gue gak akan menulis banyak hal mengenai relasi di tingkat atas atau yang luas. Cukup relasi yang ada dan yang gue alami di sekitar gue baik di kantor, di rumah, maupun di lingkungan sekitar dimana gue berakivitas.

Selain bekerja di kantor, gue juga kadang bersosialisasi di perumahan gue, di komunitas Inter Club Indonesia Moratti Regional Tangerang Raya, di Lingkungan Ratu Pecinta Damai yang masuk Gereja Santa Monika BSD, atau sesekali ngumpul bareng mantan temen SMP atau SMA. Nggak terlalu banyak kan?

Tapi di beberapa komunitas atau lingkungan itu gue bisa menemukan dan merasakan banyak hal yang penuh warna yang terjadi di dalamnya. Gue kadang memang memposisikan diri sebagai penikmat, tapi justru saat itu gue selalu menjadi pemerhati dan pengamat yang lumayan punya banyak waktu, hehe

Banyak pribadi dengan banyak karakter justru membuat sebuah relasi dalam sebuah komunitas menjadi semakin ‘meriah’. Kadang memang bisa membuat gue tersenyum, tertawa, sedih, marah, dan terharu, walau semua yang gue rasakan itu masih dalam batas kontrol gue alias nggak kebablasan.

Bagi gue, syarat membina sebuah relasi itu nggak sulit apalagi harus keluar biaya banyak. Bukannya pelit soal uang atau sok efisien ya. Tapi kalo menurut gue selama gue bisa punya rasa saling percaya, saling menghargai dan rasa peduli akan orang lain maupun rekan kita, rasanya sudah cukup. Bahkan beberapa faktor yang bersumber dari karakter dan sikap gue ini kadang membuat sebuah relasi yang gue jalani menjadi tahan lebih lama ketimbang dengan upaya menjaganya dengan bermodal uang atau materi.

Memang soal materi bukan hal yang salah ketika kita menjaga relasi; tapi yang jelas itu bukan faktor utama. Misalnya ketika kita ajak istri liburan di Nusa Dua Bali dengan fasilitas kelas satu, tapi kalau dalam keseharian liburan kita selalu ngomel nggak jelas dan selalu uring-uringan pastinya istri juga bakal sebel. Ngapain ngajak nginep di hotel bintang lima kalo gara-gara numpahin kopi di meja aja muka kita jadi semberut seharian, hahaha

Di kantor juga sama aja. Kadang ada rekan sekerja yang suka bayarin makan, atau ngajak main bilyar bareng sepulang kerja, dan pastinya kita bakal have fun bareng deh. Tapi, ketika ada masalah saat mengerjakan pekerjaan bersama saat di kantor, seakan-akan dia menjadi sosok yang sangat menyebalkan dan kadang menjadi pribadi yang sama sekali nggak kita kenal sebelumnya.

Tapi ada juga saat gue nonton bareng pertandingan Inter Milan di sebuah cafe bersama-sama anak Inter Club lainnya, dan kebetulan saat itu tim kita kalah dan gue BT banget, justru seseorang yang pertama dateng buat nepuk pundak gue dan bilang, “udah lah, santai aja bro. Besok Inter juga menang lagi..” adalah sosok yang sebetulnya gue sebel selama ini. Hmm… tak terduga kan?

Jadi yuk, menjadi pribadi yang lebih santai saat bersosialisasi. Menjadi pribadi yang lebih rendah hati saat berkumpul di komunitas, dan menjadi pribadi yang yang tidak ragu untuk meminta maaf ketika berbuat kesalahan di tim, atau selalu memuji ketika ada salah satu rekan kita yang melakukan sesuatu yang oke banget. Gampang kan? Murah dan tanpa biaya malah… hehe

Tetap semangat menjalani hari dan membina relasi yang baik ya… Mumpung nggak butuh biaya banyak buat ngejalaninya. Cukup tiga ungkapan sederhana tapi jadi luar biasa yang harus sering kita katakan saat menjalani keseharian, yaitu “maaf” (sorry), “terima Kasih” (thank you) dan “tolong” (please). Gak panjang dan gak sulit mengucapkanya kan?

GBU guys!