pelayan kasihJumat itu gue hadir di misa Jumat Pertama (Jumper) di kantor gue. Hampir aja gue lupa kalo hari itu adalah hari jumat pertama dimana ada perayaan misa di kantor gue dan biasanya dihadiri oleh karyawan dari beberapa perusahaan yang berlokasi di sekitar situ. Di Katolik, memang ada tradisi perayaan Ekaristi setiap Jumat pertama di tiap bulan, sebagai lambang pertobatan.

Perayaan Ekaristi tiap Jumat ini memang rutin diadakan di tempat gue bekerja, tapi gue nggak ngerasa itu sebagai sebuah rutinitas yang menjemukan apalagi keterpaksaan daripada nggak ada kegiatan lain. Apalagi, kalo hari Jumat seperti biasa jam makan siang waktunya lebih panjang, karena selain kegiatan sholat Jumat buat saudara Muslim, tiap Jumat kadang jadi agenda makan di luar kantor buat sebagian karyawan dan lokasinya nggak seputaran kantor aja. Bisa di CP, Senayan, atau Taman Anggrek. Intinya Jumat adalah hari bersenang-senang saat lunch, hehehe

Balik lagi ke misa Jumper, hari itu yang menjadi Romo adalah salah seorang Imam tamu yang berasal dari Katedral yang juga kebetulan melayani di bidang pendidikan di Keuskupan Agung Jakarta. Sayangnya gue lupa namanya. Nah, saat homili atau kotbah itulah, gue merasa bahwa materi yang dibawakan sungguh menginspirasi gue dan membuat hidup gue makin hidup… halah!

Tapi memang gue nggak bohong. Pastur yang hari itu memimpin misa juga bukan sosok yang terkenal atau model pembiacara/motivator yang biasa nongol di TV. Materi khotbah-nya pun sebatas mengangkat tema keseharian yang biasa gue dan semua orang yang hadir saat itu biasa alami. Baik itu di lingkup pekerjaan, keluarga atau di masyarakat.

Satu yang akan selalu gue ingat dari homili siang itu adalah ajakan dari romo kepada kita untuk selalu menjadi ‘pelayan kasih’. Wuis, baru denger istilahnya aja udah agak berat dan pasti sarat akan makna nih.. hehe Pikir gue pertama juga begitu. Walau dua kata ‘pelayan’ dan ‘kasih’ memiliki banyak makna bahkan terkadang luas definisinya, ternyata ajakan itu sangatlah sederhana.

Maksud sederhananya (menurut gue yah) tuh begini: kita hidup melayani dalam kasih yang berarti melayani Tuhan lewat perbuatan sekecil apapun dalam hidup. Tuhan adalah Kasih tak terbatas, dan ketika kita melayani dan berbuat sesuatu atas nama kasih, berarti apapun yang kita lakukan harus selalu berlandaskan kasih. Bahasa lebih gampangnya buat gue adalah hidup baik, santai asal gak berbuat aneh-aneh yang bikin orang sakit hati. Karena yang kita lakukan semuanya hanya dengan satu alasan: kasih!

Emang sih kadang kala dalam hidup, gue selalu berhadapan dengan banyak masalah dan tantangan. Baik soal deadline kerjaan, pemenuhan kebutuhan hidup dan rencana masa depan, sampai dengan bersinggungan dengan pribadi dengan watak beragam di dalam keseharian gue, entah itu di kantor, di komunitas yang gue ikuti, atau di lingkungan sekitar rumah gue.

Kadang kalau ada banyak kendala dan ada banyak tantangan, gue suka berpikir terlalu dalam, secara gue tipe melankolis, hehehe Tapi jujur, gue selalu bisa merubah cara pandang ketika gue berhadapan dengan banyak tantangan itu. Yang selalu gue pegang adalah gue hidup sebagai pelayan kasih itu. Jadi semua hal akan gue lakukan dengan hepi, dengan semangat, dan tanpa rasa kuatir. Pelan-pelan sih gue mulai bisa melalui banyak hal dengan penuh sukacita walau kadang masih suka bad mood juga sih…

Tapi sih dengan kembali mengingat semangat melayani dalam kasih itu, gue kembali bangun dari tidur dan kembali melangkah dengan penuh semangat. Bukan mau sombong dan berkoar-koar penuh semangat kepada semua orang bahwa gue adalah si pelayan kasih sejati, atau layaknya korlap demonstrasi saat berteriak lantang di hadapan ribuan mahasiswa, atau saat berusaha meyakinkan sejuta umat layaknya Da’i kondang/Pengkotbah terkenal. Gue hanya ingin membawa semangat itu dalam hati dan gue akan dan harus selalu bisa menjadi diri sendiri dalam menjalani hidup.

Gue akan tetap jujur dalam hidup. Nggak mau terlalu pasif, tapi nggak mau terlalu ambisius. Gak mau terlalu lemot, tapi gak mau juga merasa paling pintar. Nggak mau terlalu kuper tapi gak mau juga ingin dikenal semua orang; dan masih banyak lagi lah…

Gue memang bukan orang suci, apalagi pribadi yang jadi panutan banyak orang. Yang penting adalah gue bisa menjadi pribadi yang baik dan menyenangkan, bisa membantu siapa saja dengan kemampuan yang gue miliki, dan yang pasti selalu bersyukur atas apapun yang gue alami dalam hidup. Hmm… klise, kadang susah dipraktekin walau sebenarnya sederhana kan?

So, ketika loe semua yakin bahwa jalan yang loe ambil adalah hal baik dan nggak merugikan orang, ya go ahead! Nggak usah ragu apalagi minder. Jadilah pelayan kasih yang sederhana, kadang masih suka berbuat kesalahan, tapi selalu kembali cepat ‘terbangun’ untuk kembali beraktivitas dengan cara pandang yang baru.

Percaya deh, hidup bakal berasa enteng walau tantangan seakan tiada habisnya. Gua aja bisa kok, apalagi loe semua yang mungkin punya banyak kelebihan dan talenta yang mungkin lebih oke daripada gue.

Semangat selalu ya bro and sis…