Start NOWKehidupan di Jakarta dan kota sekitarnya sangat hirup pikuk setiap harinya. Termasuk gue yang tinggal di Tangerang dan berkantor di Jakarta. Dari pagi hingga malam hari, di sepanjang aktivitas gue selalu melihat ada begitu kenikmatan yang didapat lewat banyak persaingan. Di dalam judul tulisan ini sengaja gue tambahkan kata-kata ‘palsu’ dan ‘semu’ karena memang kenikmatan yang ada bersama persaingan ini tidak terjadi dalam sebuah arena kejuaraan atau pertandingan olahraga; melainkan terjadi di banyak kegiatan  di jalan raya, kantor, rumah makan, bank, ATM, kampus, atau dimanapun itu.

Kadang gue memang sebatas pengamat atau hanya melihat semua kejadian itu, tapi kadang gue juga berada di dalamnya atau sungguh mengalami sendiri. Tentu ada banyak perasaan yang terlibat di situasi itu. Geli, marah, kasihan, BT, sampai pusing. Tapi lama kelamaan gue menganggap itu semua adalah warna dari kehidupan kota yang memang harus ada dan suka enggak suka akan ada dalam keseharian hidup kita. Jadi buat apa pusing, mending kita menikmati aja. Makanya lewat tulisan ini gue mau sharing apa aja sih yang kegiatan yang bisa menggambarkan kenikmatan (palsu) dalam persaingan (semu) dalam keseharian di tempat gue tinggal dan berkarya itu?

Mengantri di loket pembelian tiket Commuter Line. Ini yang pertama gue lihat dan gue alamin. Saat mengantri tiket di loket yang tersedia hanya 2, kadang banyak orang nggak sabaran dan kadang memotong antrian. Gak peduli diteriakin sama calon penumpang lain, penumpang yang menyerobot itu seperti pura-pura bego dengan seribu satu alasan. Kereta mau dateng lah, takut nggak kebagian tiket lah, atau emang mau bikin orang lain emosi? hmm… Lucunya kejadian ini juga kadang terjadi hampir di semua loket pembelian tiket entah itu Busway, bioskop, wahana pasar malam, sampe kasir supermarket! Dengan menyerobot, mereka seakan mendapatkan kenikmatan tersendiri dan menganggap itu adalah sebuah persaingan.

Saat keluar dari tempat parkir. Entah itu di mall, di kampus, atau di terminal dan stasiun, sampai di pasar. Semua berebut untuk mencapai garis finish yang berarti adalah pintu loket parkir. Terutama parkir motor. Yang harusnya antrian dalam satu barisan, kadang bisa menjadi 5 barisan yang berantakan karena kelima barisan itu bermuara hanya di satu pintu. Kayak jutaan sperma yang berebut masuk ke sel telur ya… hehehe Dengan adu cepat menuju loket, mereka seakan mendapatkan kenikmatan tersendiri dan menganggap itu adalah sebuah persaingan.

Saat lampu hijau di perempatan jalan menyala. Ketika lampu masih merah, mereka tertib. Tapi kadang para pengendara motor mulai mencuri posisi agar saat lampu hijau menyala, mereka langsung melaju dalam sepersekian detik saja. Dan ketika lampu hijau belum menyapa-pun (ditunjukkan dalam waktu hitung mundur di tiang lampu yang terpampang yang kurang 5 detik lagi) mereka mulai membunyikan klakson. Bunyinya saling bersahutan tanda nggak sabar. Pusing! Dan saat lampu hijau menyala, semua pengendara lalu berlomba menekan dan menarik gas sekuat mungkin layaknya area Start ketika balap Formula 1 atau Moto GP berlangsung. Semua adu cepat, seakan sebentar lagi mau masuk garis Finish. Apa yang dikejar coba? Karena udah lapar, mau ambil gaji bulanan, apa mau ke toilet karena kebelet pipis? Entahlah. Dengan berperilaku begini, mereka seakan mendapatkan kenikmatan tersendiri dan menganggap itu adalah sebuah persaingan.

Saat mengambil antrian di loket BPJS, Jamsostek, Bank, Samsat, kantor Imigrasi, atau balai pengobatan umum. Kadang saat matahari belum muncul, saat subuh mereka masing-masing berlomba adu cepat menuju tempat yang disebutkan di atas agar bisa sampai lebih dulu dan mendapatkan antrian terdepan. Padahal, semua bisa diselesaikan di hari yang sama juga toh? Dan walau menghabiskan waktu lebih lama, bukan berarti kita menjadi orang-orang yang di-cap lamban dan nggak tangkas kan? Dengan berperilaku seperti ini, mereka seakan mendapatkan kenikmatan tersendiri dan menganggap itu adalah sebuah persaingan.

Saat naik KRL atau bus. Ketika moda transportasi ini datang, semua berlarian dan berebut masuk. Terjadi saling senggol, saling umpat karena terinjak dan sering  tidak mau kalah langkah. Okelah, ini soal waktu yang terus mengejar saat akan bekerja atau sekolah. Tapi ketika saat berebutan emosi menjadi naik dan darah memuncak di kepala, apakah itu semua juga menjadi harga yang harus dibayar selain dari tiket atau ongkos yang menjadi kewajiban? Mendapatkan posisi terbaik, cepat diangkut, nggak perlu menunggu lagi, kadang menjadi alasan. Tapi seringkali cedera ringan di kaki, tangan yang kejepit, dada yang sesak karena terdorong malah dianggap menjadi hal yang biasa asal cepat sampai ke tujuan walau bis dan kereta lainnya dengan jurusan yang sama masih ada. Biar lambat asal selamat nggak berlaku dong ya? Dengan memaksakan seperti ini, mereka seakan mendapatkan kenikmatan tersendiri dan menganggap itu adalah sebuah persaingan.

Beberapa contoh yang ada di atas pastinya hanyalah sebagian kecil saja dari berbagai bentuk kegiatan yang menggambarkan upaya untuk meraih kenikmatan palsu dalam dalam sebuah persaingan yang semu. Semua demi kepuasan yang tingkatnya pun sulit diukur selain dari kebanggan diri dan merasa menjadi pribadi yang lebih unggul dibanding yang lain, hehehe…

Agak berlebihan memang, tapi coba aja tanya semua orang yang pernah mengalami atau melakukannya dalam keseharian mereka. Yang ada hanya jawaban klise yang naggak jauh dari pembelaan diri, menyalahkan sistem, atau karena alasan yang kadang gak jelas: “senang aja kalau bisa duluan…” hehehe

Siap bersaing secara sehat dan sportif? Yuk dicoba mulai besok saat memulai aktivitas rutin kita. Siapa tahu kita udah bisa mulai bisa lebih nyantai dan nggak grasa-grusu. Lebih sabar ya… Rejeki emang nggak lari kemana kok… hehehe