Menikmati HidupMasa lalu adalah masa lalu. Semua mungkin akan teringat ketika kita mengalami dan menjalani banyak hal baru. Tapi masa lalu tetap masa lalu, dan nggak akan kembali. Tapi, gue bersyukur untuk hal ini.

Saat ini adalah masa Prapaskah yang kembali gue lalui. Sebagai seorang Katholik, masa Prapaskah adalah waktu dimana kita melakukan pertobatan dalam menyambut Paskah. Masa selama 40 hari ini juga disebut masa puasa dan berpantang. Tapi jauh lebih dari itu, di masa ini kita diharapkan bisa berbuat banyak hal baik untuk menjadikan kita ‘manusia baru’ lagi. Nggak sekedar berpuasa dan berpantang, tapi juga harus dilengkapi dengan banyak perbuatan baik sambil terus memperkuat iman. Sedaap…

Oke lah, gue nggak akan terlalu membahas soal tatanan liturgi. Yang barusan gue tulis hanya pengantar aja kok. Yang mau gue sharing di sini, adalah ketika kita mau sungguh berubah manjadi manusia baru di masa Prapaskah ini, tantangan yang dihadapi sangat nggak kecil atau nggak bisa dibilang mudah. Memang sih, pertobatan dan perubahan tidak hanya dilakukan saat masa ini, tapi Prapaskah sungguh menjadi momen ketika Tuhan menyapa kita lebih dalam dan mengajak kita untuk sejenak melihat ke dalam diri kita dan hidup kita masing-masing.

Ketika gue melakukan pantang dan puasa, tentunya ini juga menjadi tantangan tersendiri. Yang secara gue pecinta daging, seafood dan makanan hewani lainnya, saat ini gue punya niat untuk pantang menikmati itu semua saat masa Prapaskah. Yah, itung-itung gue belajar menahan diri, dan lebih banyak bersyukur dengan apa yang gue terima setiap hari. Begitu juga saat berpuasa. Menahan lapar dan dahaga, bukan semata faktor badaniah aja. Faktor emosional dan hati juga pasti akan terlibat. Selain bagaimana gue menahan lapar dan haus, gue juga harus bisa menahan emosi dan amarah, dan selalu berusaha berikap sabar tiap saat.

Kenapa gue bilang ini tantangan? Ini memang bukan hal yang super berat bagi sebagian orang, mungkin. Tapi bagi gue, ini sungguh tantangan, bro. Karena walau gue bukan penjahat dan tukang bikin onar, tapi gue juga bukan orang suci yang selalu melangkah di jalan bener. Gue kadang khilaf, gue kadang kebawa emosi, dsb, dsb.

Nah, di sinilah asiknya. Asik bukan karena terpaksa, tapi asik karena gue menikmati proses ini. Ketika gue mau marah, gue tersenyum. Ketika gue sebel lihat orang, gue mendoakannya. Ketika gue dibikin malu, gue nggak mau ambil pusing. Intinya, berkaitan dengan banyak hal yang terjadi di sekitar gue, bersama aktivitas yang  gue jalani; baik di keluarga, tetangga, lingkungan RT, pekerjaan, atau di banyak lagi tempat dan waktu.

Sekali lagi, memang yang gue lakukan belum seberapa. Tapi bagi gue, walau kecil banget, hal baik yang gue lakukan dengan semangat perubahan pastinya akan sangat berharga. (Gue bukan  ngikutin gaya orator partai politik loh ya.. hehehe). Tapi beneran loh, intinya adalah gue sendiri yang harus bisa mengukur seberapa besar dan seberapa jauh setiap perbuatan yang gue lakukan. Ngerugiin orang apa enggak, nyakitin orang apa enggak, dan bikin gue makin jadi orang bener apa enggak. Itu semua kita kok yang bisa mengukur dan pastinya nggak ada orang lain yang akan ‘aware’ dan berusaha ngingetin; kecuali kalo gue membajak pesawat, misalnya… hehehe. Kalo hal ini sih, pasti gue bakalan bikin heboh dunia persilatan… hahaha.

Gue nggak mau dianggap sok bener sih, apalagi sok paling bener. Gua hanya ingin sharing aja kok tentang yang gue rasain di masa Prapaskah ini. Gue akan berusaha keras untuk berubah, walau bagi banyak orang perubahan itu nggak kelihatan. Tapi gue tahu, kalo dulu gue males ke gereja, sekarang ke gereja jadi kebutuhan. Kalo dulu gue sok ngerti, sekarang jadi makin rendah hati. Dan kalo dulu gue menganggap gue manusia super, sekarang gue anggap gue bukan siapa-siapa. Yah, semua tentang sebuah perubahan sikap dan pola pikir. Perubahan yang nggak besar, tapi sungguh berasa banget buat gue.

So, enjoy your life ya guys… and keep smile on every steps you take…