light behind the doorHarapan berkecambah, dan semakin meninggi bersama impian. Sukacita yang tersusun semakin kokoh beralaskan cinta. Tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa hati tidak berjalan sendiri. Harapan selalu menemani, angan selalui menyelimuti. Tiada lagi kata yang bisa terlontar selain desah bahagia yang mengalir pelahan.

Ini barulah awal. Belum menapaki bagian akhir perjalanan.

Ketika saat itu tiba, ternyata ada kegelapan yang membawa banyak hujan. Mentari terselimuti, yang ada hanya kesedihan dan kegalauan karena rencana untuk menikmati hari yang cerah harus kembali tertunda. Hujan makin deras, atap mulai goyah karena sersapu angin yang tidak lagi bersahabat. Dan ketika merebahkan raga pada sudut ruang sambil memejamkan mata, hati mulai meneteskan kesedihan yang jujur. Semua hapan kini hilang, dan entah kapan ia akan hadir kembali mengetuk pintu hati.

………

Hari berganti. Hujan yang tidak berhenti dalam beberapa hari menyisakan genangan dan lumpur yang menumpuk di pekarangan. Hawa dingin membuat lemah pertahanan badan hingga luluh lunglai. Angin tetap kasar menampar hati dan keseluruhan ruangan. Tiada lagi keinginan untuk beranjak dari sofa dan dipan, hanya terpekur dalam kesepian, kesendirian, dan kekosongan. Malam datang, siang hadir, tetap menghadirkan kesedihan. Entah sampai kapan.

Awan bergerak, air sisa atap berjatuhan satu-satu di pekarangan.

Entah hari atau bulan yang kesekian. Sorot mentari menukik tajam menerabas ruang kamar. Sebagian hinggap di sisi wajah yang lusuh. Ada suara pelan menggugah dari luar halaman, menawarkan koran pagi yang selama beberapa hari lalu terendam di teras rumah. Langkah tetap gontai saat menuju puntu, dan membuka hanya sedikit untuk memicingkan mata karena silau. Hmm… aroma pagi seperti ini yang sudah lama tak ditemui.

Memberanikan diri untuk mendorong lebih banyak daun pintu. Aliran cahaya pagi makin meyeruak dan silih berganti memasuki ruangan yang gelap dalam banyak waktu lalu. Coba membuka kelopak mata lebih lebar. Pelan, perlahan. Tidak lama kemudian air mata kembali menghiasi pipi.

Rasa haru hadir. Begitu indah pagi ini. Begitu bercahaya hari ini. Ada apa ini? Pertanda apakah ini?

Sisa air hujan yang masih menempel di ujung daun. Merpati yang berebutan makanan di ujung gang. Warna kehijauan yang hadir di tanah lapang. Angin mendesah manyapa wajah. Seorang anak kecil yang berlari riang menuju sekolah.

…….

Gue nggak lagi melo, dan gue juga nggak lagi berada di titik terendah. Ini hanyalah celoteh harian yang biasa bahkan terlalu biasa. Namun terkadang kesedihan gue menutupi sesuatu yang biasa itu. Matahari tetep bersinar seperti biasa. Arah terbit juga sama. Burung juga tetap ada di pagi hari. Jumlahnya makin banyak, malah. Semua ya seperti biasanya. Gue mendramatisir suasana, gue meluluhlantahkan diri sendiri dan merasa punya beban paling berat saat itu.

Tapi pagi ini, walau gue belum mandi, dan badan gue bau, gue malah tersenyum sendiri. Senyum yang dipicu oleh kesadaran bahwa semuanya itu adalah hal biasa sebenarnya. Mau hepi, susah, seneng, semua itu punya bagiannya sendiri. Selama masih punya langkah, kenapa harus berhenti terlalu lama?

Mending kembali yuk menyambut pagi yang baru, dan menertawakan masa lalu yang sebenarnya juga bingung. Bingung kenapa banyak bagiannya kok bisa membuat hidup gue kacau. Hehe…

Selalu ada hari baru, selalu ada harapan baru, selalu ada kesuksesan baru. Selalu juga ada tantangan baru, selalu ada kesulitan baru, dan selalu ada kegagalan baru. Ya pasti akan begitu terus… Dan semua itu bisa dinikmati dan dirasakan keindahannya. Nggak percaya?