CemasKetika berhadapan dengan uang dan memikirkan cara pengelolaannya, mungkin menjadi sisi yang tidak akan ada habisnya untuk dibahas. Terlebih jika sudah berkeluarga, akan menjadi tantangan lagi saat mengatur keuangan. Kenapa gue sebut tantangan? Karena banyak sebagian rekan menganggap sebuah pengaturan keuangan/pendapatan menjadi beban. Banyak juga yang mengampangkan soal pengaturan keuangan, jadi tidak perlu memikirkan terlalu berat. Ini yang kadang pada akhirnya bisa membuat kondisi keuangan tiap bulan menjadi rawan dan tak jarang berujung pada hutang.

Gue yang belum lama berkeluarga, juga merasakan hal yang sama. Kebutuhan saat hidup berkeluarga tentu berbeda jika dibandingkan saat gue masih lajang. Dan pelan-pelan gue juga mulai belajar mengelola keuangan keluarga. Mau tidak mau gue harus mulai membiasakan diri. Belum lagi jika nanti gue memiliki buah hati tentu juga akan berbeda lagi, bukan?

———————————————————————————————-

Gue memang bukan seorang financial planner yang berpengalaman. Gue cuma mau share aja soal gimana sih mengatur keuangan keluarga, yang mungkin bagi sebagian orang menganggap cara gue ini sangat jauh dari sempurna. Yah, gapapa deh, kita semua kan sama-sama belajar. Jadi gue nggak takut kalo ada yang bilang kalo cara gue salah, atau masih banyak hal lain yang perlu dibenahi. Dan gue juga bukan pribadi yang anti kritik loh…

Saat ini gue memiliki penghasilan tetap sebagai karyawan di sebuah perusahaan swasta. Penghasilan tidak tetap gue dapat dari usaha freelance di bidang desain. Sedangkan istri gue memiliki penghasilan tetap sebagai agen asuransi, dimana pendapatan tidak tetap berasal dari bisnis kuliner (pesanan kue).

Bagi gue dan istri, penghasilan/income yang didapat tiap bulan boleh dibilang sangat cukup saat ini dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Memang sekali lagi tolak ukurnya juga sangat dinamis. Ada yang menganggap cukup tapi mungkin ada yang bilang masih kurang. Tapi bagi gue dan istri, selama gue bisa memenuhi kebutuhan saat ini dan berinvestasi buat masa depan, itu sudah lebih dari cukup. Semua memang membutuhkan banyak proses bukan?

Gue membagi tingkatan kebutuhan dari pendapatan menjadi beberapa bagian utama. Ini yang membuat gue dan istri bisa mengontrol secara penuh dan bijaksana setiap penghasilan yang kita dapat tiap bulan. Bagian-bagian dari kebutuhan itu adalah:

A. Kebutuhan masa depan/utama

Yang masuk kategori ini adalah tabungan, asuransi jiwa dan kesehatan, asuransi pendidikan anak, kredit pemilikan rumah (KPR), kredit pemilikan kendaraan bermotor (mobil/motor), dana pensiun, jamsostek, investasi, liburan tahunan, hari raya dan renovasi rumah.

B. Kebutuhan sehari-hari

Di dalamnya termasuk biaya belanja bulanan, biaya makan, transportasi (ongkos, bensin, dan servis kendaraan), tagihan bulanan (listrik, air, telpon, internet, koran, majalah, kartu kredit, dll), kesehatan (berobat, make up istri, olahraga, medical check up), perawatan rutin rumah, sosial (kas RT/RW, arisan, sumbangan kemanusiaan, serta paguyuban), kebutuhan pakaian (kemeja, dasi, blazer istri, t-shirt, dll), dan hiburan (makan malam, beli buku atau DVD, nonton, jalan-jalan, dll)

C. Biaya tak terduga

Yang masuk di sini adalah biaya yang mungkin sekiranya harus dikeluarkan diluar dari rencana kebutuhan yang sudah dianggarkan rutin di awal bulan. Kisarannya sekitar 10% dari total pendapatan.

Ketiga pengelompokkan ini tentu juga tidak kaku. Dalam artian, jika kita belum mampu melakukan kredit rumah dan kendaraan (mobil) sekaligus, tentu harus ada yang diprioritaskan. Yang penting semua kebutuhan yang masuk kategori A harus dipenuhi dan diupayakan untuk dipenuhi.

Begitu juga untuk ketegori B. Jika anggaran untuk kebutuhan pakaian tidak terpakai/belum mencukupi untuk membeli sebuah setelan jas baru, misalnya, dana ini bisa ‘disimpan’ dan ditambahkan ke alokasi yang sama bulan depan. Jadi ada sitem tabungan juga. Ini jauh lebih baik ketimbang kita membeli dengan kartu kredit, misalnya. Walau sama-sama mencicil, tentu jumlah cicilan dengan kartu kredit pastinya beserta bunga.

Pengelompokan kebutuhan ini semua diluar dari pengeluaran yang dialokasikan untuk orang tua dan keluarga. Tidak ada salahnya jika kita mengajak keluarga besar makan malam, atau jalan-jalan ke satu tempat di dalam kota, sekedar untuk berbagi kebahagiaan, dan menjaga keharmonisan bersama keluarga.

Secara teknisnya, gue dan istri biasa menggunakan sistem amplop untuk kebutuhan bulanan rutin. Masing-masing pos kebutuhan dimasukkan ke dalam amplop berbeda. Ini menjaga konsistensi dan kedisiplinan dalam membelanjakan uang kita, dan mencegah adanya kelebihan belanja karena keinginan dan bukan karena kebutuhan.

Semua metode ini, sebenarnya mudah untuk dijalani, karena tidak menggunakan sistem yang njelimet juga. Tantangannya hanya satu, mejaga kedisiplinan dan konsistensi. Tidak masalah jika kita menunda untuk membeli buku bagus jika memang dana yang tersedi untuk pos pembelian buku belum cukup. Minimal bersabar sampai bulan depan.

Saat ini gue sudah mulai belajar menjalani pengelolaan keungan dengan seperti yang gue paparkan di atas. Soal berhasil tidaknya, semua tergantung kita. Dan metode yang dipilih pun semua tergantung kita semua. Jika ada meode yang lebih baik dan lebih cocok dijalankan bersama Anda dan keluarga, kenapa tidak? Yang penting, kondisi keuangan kita akan selalu sehat, dan di sisi lain, kebutuhan kita pun semua terpenuhi, yang ujung-ujungnya akan membuat kita makin hepi.

Tetap bersemangat ya!

Baca catatan lain soal pengelolaan keuangan sederhana di Gemar Menabung=Pangkal Kaya? dan Bukan sekedar Financial Planning