calcio italianoItalia, salah satu negara maju di Eropa memiliki tradisi sepakbola yang kuat, bahkan sepakbola sering disimbolkan sebagai ‘agama’. Sepanjang sejarah sepakbola, kiprah timnas Italia yang dijuluki Gli Azzuri, maupun sepak terjak klub Seri A seperti Internazionale Milano, AC Milan, Juventus, AS Roma dan Lazio di Eropa cukup mumpuni.

Italia berhasil meraih Piala Dunia pada 1934, 1938, 1982, dan 2006. Yang berarti setingkat di bawah Brazil yang mengoleksi 5 gelar juara. Sedangkan di kejuaraan antar klub Eropa, total klub Italia meraih Liga Champion sebanyak 12 gelar yang diraih Milan (7 gelar), Internazionale (3 gelar) dan Juventus (2 gelar), setingkat di bawah Spanyol yang berhasil meraih 13 gelar lewat dua klubnya Real Madrid dan Barcelona. Sedangkan di Piala UEFA, koleksi klub Italia meraih gelar terbanyak berjumlah 9 gelar yang diwakili Juventus, Inter Milan, Parma dan Napoli.

Namun sejak Inter Milan meraih treble pada 2010, klub-klub Italia tidak lagi menunjukkan kelasnya di kancah Eropa. Begitu juga untuk tim nasional, walau Italia sudah kembali ‘bangun dari tidurnya’ namun tetap belum mampu meladeni hegemoni Spanyol di tingkat Eropa. Belum lagi ditambah dengan merebaknya kasus Calciopoli yang melibatkan beberapa klub besar di Serie A beberapa tahun lalu, membuat sepakbola Italia makin terpuruk.

Namun dimulai sejak tahun lalu, sepakbola Italia kembali bangkit dan mulai berbenah. Bintang besar diciptakan baik di tim nasional maupun yang berkiprah di Seri A berhasil bersinar, dan menjadi nilai jual yang tinggi sekaligus meretas jalan untuk meraih prestasi.

Kehadiran Cavani di Napoli, Balotelli yang kembali ke Milan, Palacio yang makin gemilang di Inter besama Milito, hingga Mattia Destro di Roma menjadi harapan baru. Memang beberapa pemain pergi ke negara lain dalam bursa transfer musim ini. Namun kedatangan pemain baru siap menjadikan Seri A sebagai kompetisi yang akan disegani dalam waktu dekat.

Kehadiran Pablo Armero, Jose Callejon, Gonzalo Higuain dan Pepe Reina di Napoli bersama Raffael Benitez, kembalinya Douglas Maicon ke Italia bersama AS Roma, kehadiran Carlos Tevez dan Fernando Llorente di Juventus, hingga pelatih Walter Mazzari yang membesut Inter Milan, menumbuhkan harapan baru.

Musim baru memang belum dimulai, tapi geliat ke arah positif sudah mulai berjalan. Selain meningkatkan kualitas pemain muda, klub di seri A juga gencar berburu pemain berkualitas yang pada akhirnya juga mengundang banyak investor dan berimbas pada mengkatnya animo para pecinta sepakbola baik di Italia maupun di seluruh dunia.

Italia memang banyak belajar dari berbagai peristiwa yang membawa dunia sepakbola mereka berada pada titik terendah, jika dibandingkan dengan Inggris, Spanyol atau Jerman sekalipun. Turunnya peringkat di FIFA, serta jatah peserta Liga Champions yang makin berkurang menjadi banyak bukti lain. Apalagi dengan keengganan pemain bintang untuk merumput di Seri A beberapa tahun belakangan ini.

Tapi semoga, tahun ini membawa banyak perubahan bagi dunia sepakbola di Italia. Kualitas tim nasional yang makin mendunia, juga akan dibarengi dengan kualitas para klub serie A yang tidak lagi merasa inferior jika berhadapak dengan klub-klub dari Spanyol maupun Jerman.

Selamat datang (kembali) kegairahan sepakbola Italia!