globalism & footballMencermati dunia globalisme saat ini tak akan jauh dari urusan uang. Dan ini melingkupi banyak sisi dan bagian. Globalisme yang salah satu definisinya berarti keseragaman akan sebuah pengaruh yang berlaku di seluruh dunia, mengakibatkan banyak faktor tercipta untuk mendorong sebuah keadaan sehingga disukai dan memiliki pengaruh di seluruh dunia, dimanapun itu. Dengan begitu, secara tidak langsung keuntungan secara finansial juga akan mengalir tanpa henti. Baik itu budaya k-pop, gadget trend, hingga ke dunia pendidikan. Lalu bagaimana dengan sepakbola?

Tak jauh berbeda, sepakbola kini sudah menjadi konsumsi global yang sangat menguntungkan. Dari pihak management klub, pecinta sepakbola, hingga ke banyak merek dagang ‘menceburkan diri’ secara total ke dalam pengaruh globalisme. Jika bisa berprestasi, memiliki banyak penggemar di seluruh dunia, dan memiliki neraca keuntungan yang positif setiap tahunnya, kenapa tidak?

_______________________________________________________________

Idealisme dan bisnis seakan menjadi 2 faktor yang saling berbenturan atau bisa saling mendukung satu sama lain. Contoh nyatanya banyak. Kepindahan pemain bintang dan pelatih ternama ke klub lain, bertambahnya sponsor baru yang membentengi nerasa keuangan klub, serta banyak kunjungan klub Eropa ke berbagai belahan negara di dunia ketiga menjadi banyak hal yang saat ini terjadi.

Kemarahan suporter ketika pemain pujaannya dijual karena alasan bisnis dan keseimbangan keuangan seakan tidak berarti apap-apa bagi pengelola maupun presiden klub. Alasannya jelas, semua yang dilakukan demi kepentingan prestasi klub di masa depan, dan demi keuntungan yang besar yang pada akhirnya tentu akan membuat mereka makin cinta pada klub yang bersangkutan. Publikasi yang gencar oleh media pun dianggap pihak pengelola klub sebagai nilai jual yang menaikkan brand awareness yang pada akhirnya berujung pada keuntungan finansial dalam jangka pendek maupun panjang.

Ketika banyak hal dikorbankan demi sebuah perubahan yang lebih baik tentu tidak salah. Namun jika semangat sepakbola itu harus dikorbankan oleh kepentingan komersial semata tentu menjadi hal yang sangat salah bahkan tidak akan bisa ‘disembuhkan’ dalam waktu lama.  Blunder yang dilakukan oleh para pengelola klub bukan hanya membuat prestasi klub makin anjlok, tapi juga akan berimbas ke penurunan pendapatan dan keuntungan bisnis secara perlahan tapi pasti. Jika ini terjadi, masih adakah sukacita dalam sepakbola?

Kita hanya bisa berharap, bisnis tidak membuat sepakbola menjadi cacat. Sebaliknya faktor bisnis dalam era globalisme ini menghasilkan banyak faktor yang posisif, menguntungkan dan membahagiakan. Sepakbola tidak melulu soal untung rugi atau mengejar laporan tahunan keuangan yang positif setiap tahunnya bagi klub. Sepakbola juga bicara soal cinta, loyalitas, keindahan, dan kepuasan hati bagi semua pecinta sepakbola; termasuk juga para pemilik klub beserta jajaran direksi tentunya.

Pengeluaran jutaan dollar setiap musimnya untuk membangun tim, atau keuntungan jutaan dollar ketika melepas pemain bintang yang dicintai suporter setia, seakan tidak mampu ‘melunasi’ kekecewaan dan kesedihan semua pecinta sepakbola terutama suporter sejati jika klub yang bersangkutan mengalami kemunduran prestasi.

Memang banyak ‘die hard’ suporter yang rela mati karena mencintai tim pujaannya. Tapi jika berbicara globalisme, dimana ada kecintaan yang mendalam dari semua pecinta sepakbola dari seluruh dunia, maka ini menjadi sebuah catatan yang harus sungguh-sungguh dipertimbangkan oleh para pembuat keputusan dan kebijakan di klub, baik itu soal pembelian dan penjualan pemain/pelatih, maupun faktor pendukung lainnya yang berpengaruh. Kecintaan suporter yang setia dan kadang menjadikan sepakbola sebagai ‘agama’ mereka juga menjadi hal yang tidak bisa dikesampingkan.

Semoga kita tetap bisa bangga mengenakan jersey klub kesayangan kita, karena selain berprestasi luar biasa setiap tahunnya, juga karena ia telah menjadi ‘brand’ yang mendunia, layaknya kita memakai gadget terbaru, produk fashion ternama, atau menyusuri jalan ibukota dengan mobil super canggih yang juga disukai oleh banyak orang di seluruh muka bumi…🙂

Semoga sepakbola tidak menjadi korban globalisme, melainkan menjadi bagian yang tidak terpisahkan darinya dan bisa membuat banyak pecinta sepakbola menjadi orang paling bahagia sedunia.

I love football as i love globalism!