healthySiapa yang gak mau hidup sehat? Ada banyak ribuan tips dan cara, tapi kadang kita males baca dan coba memahami lebih dalam. Berhubung gue lagi suka baca-baca yang berhubungan dengan kesehatan dan haya hidup sehat, gak ada salahnya gue masukan satu artikel yang sengaja gue sadur dari artikel pesona.co.id, tulisan dari Monika Erika, dengan Konsultan: dr. Peni Hedi P MKM (Gz). Semoga bisa memberi inspirasi ya… Terima kasih dan mohon ijin buat Ibu Monika dan dr.Peni.

Semoga tips sederhana ini gak harus bikin dahi berkerut atau males baca karena banyak nggak ngertinya… Yuk sama-sama mulai belajar hidup sehat, dengan cara apapun itu…

___________________________________________

Berbagai artikel kesehatan di media, berbagai saran medis yang kadang pro kontra dan beragam iklan produk yang mengklaim produk sehat membuat segalanya terasa membingungkan. Michael Pollan mengajak kita untuk kembali ke cara hidup sederhana yang sehat namun kerap dilupakan oleh masyarakat modern yang mau serba instan.

Jangan membeli produk makanan yang mengandung bahan yang tidak umum digunakan.
Bahan tersebut seperti; ammonium sulfat, kalsium propianat (bahan pengawet), atau selulosa. Bahan-bahan tersebut mengandung bahan kimiawi tambahan dan memiliki sifat amoniak. Anda  tentu tak ingin menggunakan bahan kimiawi tersebut dalam makanan yang Anda dan keluarga Anda makan bukan?

Sederhana saja, hindari bahan makanan yang bahan bakunya susah untuk dilafalkan anak SD.
Bayangkan, bahasanya saja susah dilafalkan apalagi kandungan kimia di dalamnya. Usahakan selalu membeli produk makanan yang Anda kenal bahan makanannya dan mengandung bahan yang sederhana. Lebih baik lagi, membeli produk makanan segar.

Produk dengan istilah ‘rendah lemak’ atau ‘tanpa lemak’ bukanlah selalu pilihan yang bijak.
Mengapa? Sebab memisahkan lemak dari bahan makanan bukan berarti menghilangkan lemaknya sama sekali. Bahkan, kemudian produk makanan tersebut ditambah dengan pemanis agar lebih kaya rasa. Ini berarti, mengurangi satu gizi penting -lemak- namun, justru mengizinkan zat lain -seperti karbohidrat atau pemanis buatan- dan kita tanpa sadar mengonsumsinya terlalu banyak.

Konsumsi makanan dari bahan yang bisa Anda bayangkan bentuk mentahnya atau tumbuh di alam.
Bisakah Anda membayangkan bentuk mentah dari berbagai keripik kemasan? Anda bisa membeli keripik kentang atau singkong, bila keripik tersebut memang singkong atau keripik yang diolah tanpa tambahan bahan perasa lain yang begitu banyak rasa.

Boleh saja makan fast food asal Anda membuatnya sendiri.
Sesekali mengonsumsi ayam goreng cepat saji, burger, atau soda tentu tak dosa. Hanya saja, produsen makanan telah membuat sajian yang sebelumnya mahal dan sulit untuk dibuat ini menjadi murah sehingga kita sering mengonsumsinya. Bandingkan bila Anda harus membuat kentang goreng, panekuk, ayam cepat saji, atau burger setiap hari, tentu saja saat membuat sendiri Anda memilih bahan yang segar dan berkualitas, bukan? Masalahnya, Anda tak kan membuat makanan sejenis fast food setiap hari di rumah, bukan? Sedangkan produsen membuat makanan fast food dengan jumlah yang banyak, harga yang relatif, dan mudah didapat. Intinya, makanan yang Anda buat sendiri di rumah dan langsung dimakan jauh lebih sehat daripada makanan restoran.

Gunakan selalu yang alami.
Jahe, lengkuas, kunyit memiliki sifat pengawet dan antiseptik alami. Jadi bila ditambahkan dalam makanan yang sesuai makanan dapat bertahan lebih lama dari sehari meski tanpa bahan pengawet buatan.

Kembali ke kearifan lokal. Ingat lagi menu-menu warisan tradisional nenek kita. Ingat lagi masa saat makanan cepat saji atau makanan asing belum sedemikian menjamur di negara kita. Saat itu, penyakit dan obesitas belum menjamur seperi sekarang. Karena kita menggunakan bahan-bahan makanan alamiah dan segar. Memasak makanan tradisional dengan bumbu-bumbu tradisional jauh lebih sehat daripada memasak makanan Barat dengan campuran saus dalam kemasan botol.

Selamat memulai hidup sehat….