menjaga hatiMasa pra Paskah sudah mulai berjalan sejak beberapa hari lalu. Di masa ini, gue dan banyak umat Katolik lain di seluruh dunia menjalani ibadah puasa dan pantang untuk menyambut Paskah.

Bagi kami, ibadah puasa dan pantang ini tidak memiliki aturan yang baku apalagi dipaksakan. Waktunya memang telah ditentukan; selama kurang lebih 40 hari, yang dimuali pada hari Rabu Abu. Namun, bagaimana kita berpantang atau berpuasa, semua dikembalikan ke tiap pribadi.

Yang wajib untuk berpuasa adalah pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung; tiga hari menjelang Paskah. Selebihnya, kapan berpuasa dan berpantang menjadi pilihan kita semua. Begitu juga untuk memilih pantangan menjadi kebebasan kita. Apakah kita akan pantang daging, pantang nasi, pantang rokok, atau pantang jajan bagi anak-anak. Yang lebih utama, dalam masa puasa ini adalah semua menjadi satu bagian dalam sebuah bentuk pertobatan dan untuk meningkatkan semangat berbagi kepada sesama.

________________________________________

Cara berbaginya, bisa diwujudkan dengan berpantang daging, misalnya. Maka selama 40 hari kita berpuasa makan daging atau ayam. Nah, dana belanja yang biasa digunakan untuk membeli daging atau ayam, bisa kita masukkan ke dalam kotak APP (Aksi Puasa Pembangunan) yang nantinya akan diberikan kepada gereja untuk diteruskan kepada orang yang membutuhkan. Sedangkan sebagai bentuk pertobatan, pada masa puasa ini kita belajar untuk menahan diri lebih baik lagi. Untuk selalu menjaga hati, pikiran, dan tindakan. Intinya adalah pengendalian diri secara keseluruhan.

Oke, berbagi dan pengendalian diri bisa dilakukan kapan saja selain di masa pra Paskah. Namun di saat masa pra Paskah, kita semua diajak untuk semakin mengenali dan memahami cinta Tuhan yang besar kepada kita, dan kita sungguh diajak untun mengalami sendiri bentuk penyangkalan diri yang Tuhan sendiri ajarkan. Bagaimana kita berusaha untuk berjalan dengan langkah yang yang main baik, bersama pikiran yang makin bersih, tindakan yang makin santun, dan omongan yang makin bijaksana dan terarah. Semuanya sungguh dikembalikan kepada diri dan hati kita masing-masing.

Gue memang manusia biasa dan bukan seorang wali, romo ataupun pemuka agama. Makanya gue nggak terlalu bisa bertutur lengkap soal ajaran agama. Tapi gue hanya mencoba memahami dan menjalani yang terbaik menurut cara dan kemampuan yang gue miliki. Gue hanya mengandalkan hati yang selalu gue biarkan terbuka dan bersih. Semua yang gue jalani tidak harus sempurna, tapi semua gue akan jalani sebaik-baiknya. Karena itulah, gue menjalani masa pra Paskah ini dengan penuh semangat sukacita dan harapan.

Gue akan selalu bahagia menjalaninya, disertai banyak harapan bahwa yang gue lakukan ini bisa membentuk pribadi gue menjadi makin baik dan lebih baik lagi. Dan ukuran baik disini hanya gue dan Tuhan yang tahu. Hanya gue yang bisa melakukan semua pilihan hidup yang gue jalani. Dan gue yakin, selama gue bahagia menjalaninya, semua yang gue lakukan akan menjadi berkat buat gue maupun keluarga. Dan mudah-mudahan, semua itu juga bisa menjadi berkat buat sesama gue. Amin…

Yuk sama-sama menjaga hati, pikiran dan tindakan… Tuhan memberkati!