rumah mungil7 tahun lalu, gue menempati rumah di pinggiran kota Tangerang. Rumah kecil dengan harga yang menurut gue sangat terjangkau, apalagi dengan status gue waktu itu yang masih bujangan dan baru bekerja sekitar 3 tahunan di Jakarta setelah gue menyelesaikan pendidikan di Yogyakarta.

Pada awalnya, gue mengambil rumah memang tidak kepikiran untuk berinvestasi atau karena memang simpanan uang sudah banyak. Tapi niat awal waktu itu, karena gue ingin memiliki hunian sendiri dimana gue nantinya bisa belajar mandiri dan hidup prihatin. Apalagi gue sudah terbiasa ngekost di Jogja, walau hanya selama 3 tahun.

Gue pun membulatkan tekad untuk mengambil rumah tipe 33 dengan luas tanah 111 meter persegi. Yah berhubung rumah gue memiliki kelebihan tanah, maka dikit-dikit dipinjami sama orang tua buat membayar kelebihan tanah yang harus dibayar kontan. Singkat cerita, akhirnya gue pun menempati rumah gue dalam waktu yang nggak lama setelah prose angkat kredit. Dan justru disinilah awal dari keasyikan, kebahagiaan serta sikap keprihatinan gue yang sesungguhnya.

———————————————————————

Beberapa tahun sebelum gue memiliki rumah, gue memang sudah membeli beberapa barang yang sekiranya bakal berguna jika gue memiliki rumah sendiri, walaupun niat itu pun masih belum jelas kapan. Kamar gue di rumah orang tua gue sudah mulai dipenuhi barang-barang yang gue mulai beli buat kebutuhan nanti, walau nggak banyak. Gue udah mulai beli TV, Compo/CD player, DVD player, meja belajar, komputer, rak buku, sampai ke hiasan ruangan. Nggak banyak memang, tapi waktu itu sudah gue gunakan sehari-hari di kamar gue yang lama.

Akhirnya setelah pindah ke rumah baru, minimal rumah gue nggak kosong-kosong amat, hehehe… Gue ingat waktu itu tinggal beli sofa, kasur, lemari pakaian, sama kebutuhan sehari-hari seperti alat mandi, peralatan bangunan buat di rumah, dan kebutuhan dapur. Sisanya, ya pelan-pelan nambahnya. Tiap bulan beli apa, bulan berikutnya beli apa…

Sekarang setelah menikah, tentu barang di rumah gue sudah cukup bisa membantu aktivitas gue bersama istri. Walau tetap masih belum lengkap, tapi dalam keseharian kita bisa nyaman tinggal di rumah. Gue juga sudah mulai suka bertanam, dan mengatur keuangan untuk rutin melakukan renovasi yang perlu buat hunian gue yang sederhana ini.

Rumah bagi gue dan istri bukan hanya menjadi tempat berteduh dan berlindung. Tapi lebih dari itu, rumah harus menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali, tempat yang asik saat bekerja dan berativitas, serta menjadi hunian yang sehat, dan nantinya bisa menjadi tempat yang menyenangkan buat anak-anak gue.

Rumah adalah bentuk investasi. Bukan hanya soal uang, tapi juga investasi mengenai perkembangan diri secara spiritual dalam jangka panjang. Di rumahlah, gue akan menemukan kebahagiaan, bisa berbagi cinta, bisa melakukan aktivitas menyenangkan bersama keluarga, bisa bekerja dengan nyaman, dan bisa melakukan banyak aktivitas lain yang akan membentuk pribadi gue dan keluarga menjadi pribadi yang dewasa dan hangat.

Karenanya gue akan selalu berusaha membuat rumah gue selalu nyaman untuk dihuni walau dengan biaya yang tidak harus mahal, atau dengan upaya yang luar biasa ribet. Selama gue, istri dan keluarga gue bisa bahagia saat berada di rumah, kebersamaan juga tetap ada, serta aktivitas bisa berjalan dengan baik di lingkungan yang sehat, bagi gue itu sudah lebih dari cukup. Tinggal bagaimana kita harus selalu beryukur buat semua berkat yang telah diberikan Tuhan buat gue sekeluarga, dan gue bisa terus menjaga berkat itu tetap mengalir bersama istri dan keluarga gue di rumah mungil yang nyaman ini.

Beberapa desain awal untuk fungsi ruang dan halaman dan tampak depan dari rumah gue:

Desain fungsi ruang dan halaman

Desain fungsi ruang dan halaman – klik untuk perbesar

Desain tampak depan - klik untuk perbesar

Desain tampak depan – klik untuk perbesar

Baca juga catatan lain tentang rumah gue:

Home Sweet Home (Rumah Mungil Impian Gue)

Merancang Desain Interior Rumah Sendiri

Renovasi Rumah: Kebutuhan vs Keinginan