gadget in ur lifeSebuah pagi. Alarm berteriak kencang dari iPhone di samping tempat tidur. Ia lalu membuka calendar untuk melihat beberapa schedule hari ini di kantor, sambil mencabut kabel dari Galaxy Note yang sedang di-charge. Tak lama, ia beranjak menuju meja makan. Ia mengambil susu dari kulkas, untuk kemudian dituang ke dalam gelas. Sambil minum, ia lalu mulai membuka tabletnya untuk membaca berita terbaru dari kompas.com sambil sesekali meneguk susu dan menghisap sebatang rokok. Sambil menunggu loading gambar pada web, ia meraih BlackBerry untuk mengecek apakah ada pesan di BBM malam tadi yang belum sempat dibaca.

Setelah kompas.com selesai menampilkan berita ekonomi, di tab lain ia membuka facebook dan twitter untuk kembali berselancar. Kadang ia tersenyum ketika mendapati komentar lucu dari status yang ia buat semalam. Tak lama, ia beranjak menuju kamar kerja untuk mencari majalah sport yang tergelatak di meja kerja bersama sebuah laptop HP yang sudah mulai jarang ia gunakan. Ia lalu meletakkan majalah di samping tas kerja itu karena akan dibawa ke kantor. Tidak lama, ia lalu menuju kamar mandi untuk segera bersiap ke kantor. Sambil mendengarkan musik dari sebuah iPod yang tersambung ke sebuah speaker mini di atas rak dekat wastafel, ia lalu bernyanyi-nyanyi kecil.

_____________________________________________

Catatan di atas adalah gambaran sebuah aktivitas seseorang saat memulai hari dan berlangsung selama 45 menit. Semua kegiatan dilalui bersama gadget. Belum lagi aktivitas yang akan dijalani hingga malam nanti. Mulai dari menyusun laporan di kantor, 3 meeting bersama 3 klien berbeda, press conference pada siang hari, lunch bersama rekan lama, hingga ke pemotretan produk di bilangan Kemang pada malam hari. Semua kegiatan itu pasti akan melibatkan jenis gadget yang berbeda dan akan menemani setiap detik aktivitas yang berjalan.

Suka atau tidak suka, inilah realitas kehidupan masyarakat saat ini, khususnya di daerah perkotaan yang sarat dengan aktivitas bisnis. Gadget menjadi sebuah kebutuhan, bahkan beberapa diantaranya menjadi sebuah ketergantungan. Bukan mustahil jika seorang Creative Director yang bergerak di bidang Periklanan pun tetap membutuhkan personal assistant lain selain seorang sekertaris yang bertugas di kantor. Ia akan beraktivitas bersama tas kerja yang di dalamnya tersimpan iPhone, BlackBerry, iPod, Samsung Galaxy, eBook Reader, Canon Digital Camera, Power Bank, dan sebuah hard disk external.

Seandainya semua jenis gadget itu tidak ada, apakah kehidupan bisa berjalan dengan normal? Dan apakah bisnis tetap bisa berjalan dengan baik? Well, ini mungkin adalah sebuah pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan mudah. Seandainya bisnis tetap berjalan tanpa gadget, bagaimana caranya? Adakah solusi dan metode lain yang bisa menggantikan fungsi gadget secara keseluruhan?

Gadget memang telah mengambil tempat yang istimewa dalam kehidupan saat ini. Baik di semua level masyarakat, di semua area geografis, maupun di semua bidang kehidupan, baik itu bisnis, maupun relasi antar individu, kapan dan dimanapun.Lalu apakah efek kertergantungan akan gadget dalam kehidupan menjadi sebuah kenyataan yang tidak bisa dihindari lagi?

Deal bisnis yang sukses, permusuhan karena facebook, cuek saat browsing ketika berada dalam busway, ilmu yang didapat saat mengakses situs National Geographic, obrolan politik bersama bbm, tindakan kejahatan e-marketing, dan pelanggaran hak cipta lewat e-media, semuanya bisa saja terjadi. Semua kembali ke kita. Menjadi seorang gadget freak, seorang yang anti sosial, seorang kepala keluarga yang hangat, seorang penipu di bisnis on line, atau menjadi seorang profesional muda yang efektif dalam bekerja, semua juga menjadi pilihan.

Hidup sepenuhnya di tangan Anda, dengan atau tanpa gadget yang menemani. Jalani dan kendalikan hidup Anda dengan bantuan gadget, tapi jangan gadget yang malah akhirnya mengendalikan hidup Anda sepenuhnya…

Happy Sunday!