Dunia penuh warna, itu betul. Dunia penuh dengan banyak pribadi itu betul. Dan dunia terdiri dari banyak kejadian itu betul.

Dunia memang nggak statis. Dunia selalu dinamis bergerak dan beraneka ragam bentuknya. Karena itulah muncul istilah selera. Antara aku, kamu dan dia pasti punya selera berbeda.

Aku tinggal di Griya Serpong Asri, kamu tinggal di BSD, dan dia tinggal di Kelapa Gading. Aku merokok Dunhill Mild, kamu merokok Dji Sam Soe, dan dia merokok Minak Djinggo.

Aku suka memilih kemeja di Executive, kamu di Versace, dan dia di Matahari. Aku mengenakan G-Shock, kamu mengenakan Giorgio Fedon dan kamu mengenakan Seiko. Aku biasa ngopi di kantin depan kantor, kamu di Starbuck dan dia di warkop. Aku suka kaos Dagadu, kamu suka Polo dan dia suka Tucked In.

Aku suka makan di angkringan, kamu suka makan di Istana Nelayan, dan dia suka makan di Fish & Co. Aku suka nonton Braveheart, kamu suka Sleepless in Seatle, dan dia suka Harry Porter. Aku suka sepakbola, kamu suka bulutangkis dan dia suka wall climbing. Aku suka U2, kamu suka Metallica, dan dia suka Andrea Bocelli. Aku memakai Iphone, kamu suka Blackberry, dan dia suka Samsung.

Komik yang paling aku suka Mimin, kamu Street Fighter dan dia suka Kung Fu Boy. Aku suka menulis di blog, kamu suka nge-twitt, dan dia suka update status di facebook. Aku ke Gereja, kamu ke Masjid, dan dia ke Pura. Aku suka makan rica-rica ayam buatan ibuku, kamu suka rendang, dan kamu suka tenderloin steak. Aku suka Superman, kamu suka Batman, dan dia suka Sinchan. Aku suka pakai Nike, kamu suka Reebok, dan dia Adidas. Aku suka membaca Burung Berkicau, kamu suka The God of Small Thing, dan dia suka Saman.

Masih banyak lagi….

So, ini soal selera? gaya hidup? atau kebutuhan?

Bagi gue, ini semua soal kenyamanan. Saat gue mencicipi, saat mengenakan, dan saat memanfaatkan fungsi, yang gue cari hanya kenyamanan. Walau gue harus keluar duit jutaan, hingga 10 ribu aja, semua tetap balik lagi ke kanyamanan.

Gak perlu membuat orang kagum, takjub, apalagi terkesima dengan selera kita; padahal kita sendiri nggak nyaman bukan?

Ini bukan soal idealisme, tata cara dan etika yang berlaku, apalagi mengikuti trend. Juga bukan soal pelit atau royal. Juga bukan membentuk dan menjaga citra diri.

Apa yang gue kenakan dan gue makan memang menjadi gambaran diri, tapi itu semua bukan karena gue ingin membentuk citra diri yang ‘dipaksakan’.

Jadi walau gue pake baju merk bagus, dan gadget terbaru, jangan heran kalo loe menemui gue saat nyeruput kopi susu sambil menikmati nasi dan tempe orek yang mantaf banget di warung nasi pinggir jalan.

Mau makan bareng di mana nih?🙂