Gue haus, gue ingin melepas dahaga, dan gue minum. Gue lelah, gue pingin bersantai di kasur, dan gue tertidur. Gue ingin menghindar, gue berbohong, dan gue bebas. Gue muak, gue memaki, dan gue lega. Gue sabar, gue mengelus dada, dan gue tersenyum. Gue panik, gue susun rencana, dan gue selamat. Gue kalut, gue berjalan tergesa, gue malah terpeleset. Gue sedih, gue nggak menyentuh makanan di meja, malah maag gue kambuh.

Pikiran, hati, dan tindakan memang menjadi 3 bagian utama yang sering hadir dalam diri. Ketiganya kadang saling melengkapi, saling memberi peran, atau malah membuat keadaan makin runyam. Bagi gue, semua bagian itu memang harus hadir dan gue alami. Namun seberapa besar gue memberi peranan pada tiap-tiap sisinya itu yang menjadi penting. Memang kadang terjadi pertentangan, kegalauan yang parah, atau rasa pedih. Tapi jika kekuatan dan kesabaran menjadi tokoh utama, maka semua tahapan dlam hidup akan bisa dilalui dengan hati lapang walau kebahagiaan sepenuhnya belum hadir.

——————————————————————-

Jika ingin melihat sedikit bagaimana ketiga proses ini berjalan, maka pikiran menjadi bagian pertama yang harus dilalui. Pikiran selalu berjalan bersama hidup, suka atau tidak suka. Pikiran positif, negatif, dan semua hal yang berkecamuk dalam otak bisa membuat kita emosi, bingung, namun kadang juga antusias. Di tahapan inilah, tingkat kedewasaan emosional sangat berperan. Dan seringkali, pikiran kadang mengendalikan hidup dan langkah yang akan diambil, walaupun seringkali kita dihadapkan pada situasi yang tidak mudah.

Itulah sebabnya pikiran membutuhkan hati sebagai penyeimbang. Hati biasanya berperan atau hadir setelah pikiran. Saat kita emosi dan ingin seger melakukan tindakan cepat sesuai apa yang ada di pikiran, hati biasanya melakukan kontrol lebih dalam dan kadang mengajak untuk berpikir lebih panjang. Suara hati kadang bertentangan dengan apa yang dipikirkan. Keduanya kadang saling bersinggungan. Namun suara hati kadang menjadi pemenang dalam proses yang dilalui secara perlahan dan tidak terburu-buru. Suara hati memiliki jangka waktu pertimbangan yang lebih panjang dan luas cakupannya. Tidak hanya dalam waktu sesaat, namun bisa memberikan pengaruh dalam waktu yang lama. Itulah sebabnya suara hati membutuhkan proses yang tidak mudah dan kadang bertentangan dengan pikiran. Namun suara hati akan selalu jujur, asal mau didengarkan.

Barulah setelah suara hati mengambil peran, tindakan menjadi proses akhir yang dilalui dan diharapkan membawa suatu perubahan ataupun solusi dalam hidup. Tindakan yang dilakukan akan selalu berdasarkan pada apa yang dipikirkan maupun apa yang didengar dari suara hati. Tindakan bersifat nyata dan bisa dirasakan buahnya. Dan seringkali, banyak juga perasaan yang mengiringi setelah kita melakukan sebuah tindakan. Puas karena telah melakukan tindakan yang tepat, atau menyesal karena telah salah langkah.

Hidup memang sederhana, dan gue di sini bukan membuatnya menjadi malah ribet. Gue hanya ingin sharing kalo hidup bisa dibuat menjadi lebih sederhana lagi. Dan semua itu nggak butuh biaya mahal, apalagi sampai mengorbankan banyak hal besar. Yang dibutuhkan hanya kesabaran, dan melihat semuanya berjalan dengan sendirinya. Perubahan akan perlahan terjadi, dan keadaan yang baik akan perlahan terlahir dari sebuah proses yang dilakukan secara bijaksana dan hati-hati.

Kita hidup bukan untuk 1-2 hari bukan? Jalan panjang masih membentang di hadapan kita, dan kita ingin melalui itu semua dengan akhir bahagia. Walau dalam prosesnya, kegelisahaan akan tetap ada menemani setiap langkah kita.

Yuk mulai terbiasa dengan tetap berpikir positif, mengikuti kata hati, dan melakukan yang terbaik buat hidup kita.