Ketika mengarungi sistem kehidupan yang sudah terbentuk, ada sebuah keadaan dimana interaksi harus terjadi. Bagaimana, dengan siapa, dan kapan adalah banyak hal yang berbeda namun saling berhubungan serta memberi warna. Saat kita menghirup udara pertama di pagi hari, saat menikmati sarapan bersama istri, atau saat harus mempelajari surat penawaran dari perusahaan rekanan, adalah banyak ruang yang sering melibatkan emosi, hati dan pikiran. Tidak jarang, kontrol diri berterbangan satu demi satu dan menyisakan satu kondisi yang berujung pada satu jalan buntu: kegelisahan.

Komunikasi dalam hidup memang tidak bisa dihindari. Namun bagaimana kita berkomunikasi bisa menjadi pilihan yang bisa berujung pada banyak kemungkinan hasil akhir. Kebahagiaan, kagundahan, kebingungan, titik terang, dan solusi adalah beberapa contoh buah dari komunikasi yang berjalan entah itu melalui bentuk komunikasi yang baik atau gagal.

Komunikasi bukan sebuah bentuk barang yang berjajar di rak sebuah supermarket dengan harga yang tidak lagi bisa ditawar. Komunikasi adalah saat kita memilih untuk memanfaatkan waktu untuk santai ketika ada waktu luang. Kita bisa mendengarkan musik, memasak bareng istri, mengurus tanaman atau pergi makan di luar. Komunikasi adalah bentuk pilihan yang sangat terbuka, dan tidak ada patokan salah benar yang membutuhkan pemikiran segera bahkan cenderung kaku layaknya harga barang di supermarket tadi.

Komunikasi bisa dilakukan dengan baik jika ada keinginan baik. Komunikasi bukanlah sebuah doktrin yang jika tidak dilakukan dengan dewasa maka kita akan sakit perut, misalnya. Tapi jika memiliki hati terbuka untuk memilih cara berkomunikasi yang baik, itu adalah buah dari pikiran yang positif yang pastinya nanti juga akan memberi hasil yang membahagiakan.

Contoh kecil; ada beberapa ungkapan yang sederhana yang mengarah kepada bentuk komunikasi yang baik dan membahagiakan. Kalimat, “bagaimana kerjaan di kantor hari ini?”, “sudah makan siang belum?”, “ada yang bisa aku bantu?”, “udara cerah, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman kota?”, “jangan lupa jaga kondisi ya…”, “hey, i miss your smile!”, “ada ide untuk makan malam?”, “nice dress, hunny…”, “lagi ada masalah di kantor nih…”, “aku masak spesial buat kamu loh…”, “sudah nonton Life is Beautiful?”, “mas, aku ada ide…” adalah sebagian kecil dari banyak ungkapan yang mengawali sebuah komunikasi yang baik. Tentu semua ungkapan itu harus bersama dengan senyuman atau ekspresi simpatik jika kita melihat kegundahan di wajah lawan bicara kita di salah satu kesempatan.

Senyum menjadi kunci utama untuk memulai. Dan seandainya kondisi psikologis lawan bicara sedang tidak baik, tetaplah tersenyum dengan tulus tanpa harus dipaksakan yang malah membuat lawan bicara tambah galau. Lanjutkan tersenyum tulus bersamaan atau dibarengi dengan banyak ungkapan sederhana tadi, tanpa harus berharap mendapatkan jawaban langsung yang keluar dari mulutnya. Tetaplah duduk di sampingnya sambil tidak mengurangi senyum tulus kita. Kita menunggu dengan sabar tanpa harus memberikan paksaan agar ia segera membuka mulut dan menanggapi sapaan kita. Jika kita konsisten memberikan senyum dan menyapa dengan kalimat yang tulus, jika tidak hari ini atau minggu depan, pasti akan selalu ada waktu untuk terjadinya sebuah komunikasi yang hangat.

Jika komunikasi sudah mulai berjalan, tetaplah tersenyum namun kali ini dengan upaya mendengarkan. Sabarlah untuk mendengarkan semua hal yang diceritakan yang keluar dari hatinya. Jangan menyela pembicaraan, apalagi menunjukkan ekspresi meremehkan sambil berujar, “ya ampun bro… kayak gitu aja dibuat pusing…” Jika hal ini terjadi, lawan bicara akan mundur teratur dan bahkan mengurungkan niatnya untuk berbicara dari hati ke hati lebih dalam. Karena itulah, setialah untuk mendengarkan semua kisah yang terucap sambil coba memahami kesulitan yang dihadapi.

Jika ia mengutarakan, “bagaimana baiknya menurut loe bro?”, atau “ada masukan nggak bro buat gue?”, di situlah saatnya untuk mulai bicara. Inipun dengan muatan kalimat yang tidak menyudutkan dan membuatnya merasa menyalahkan diri sendiri. Kalimat “gue bilang juga apa..”, “tuh kan, bener kata gue…”, “kok bisa sih? emang loe ngelakuin apa?” atau kalimat-kalimat sejenis harus dihindari. Ungkapkan dalam susunan kata jika kita memahami kondisinya, dan semua orang pasti mengalami masalah yang mungkin kadang lebih berat dari yang dia alami.

Selanjutnya tawarkan bantuan, walau tidak berbentuk solusi yang nyata. Ungkapkan jika dia ada masalah, maka kita pun merasakan hal yang sama. Berikan penghiburan dan uluran kasih buatnya. Berikan saran yang bisa kita ambil dari pengalaman yang pernah kita alami. Jadi sifatnya lebih ke ‘sharing moment’ dan bukan menggurui apalagi menyalahkan.

Jika pola dan proses komunikasi ini sungguh hadir dan menjadi cara yang biasa kita lakukan saat berbagi dengan orang terdekat atau siapapun itu, maka sedikit demi sedikit kegundahan dan masalah yang dialaminya akan berkurang yang berujung kepada bentuk solusi pemecahan yang baik. Minimal, jika dalam waktu dekat mengalami masalah dan belum menemukan solusinya, ada sesorang yang mau mendengarkan dengan setia dan memberikan penghiburan.

Hal yang kecil yang kita lakukan, pasti bisa melahirkan hal yang besar di depan… Setuju?

Happy Sunday ya…