Ketika berada pada sebuah titik dimana terjadi perkenalan tentu menjadi sebuah kebutuhan dan keinginan untuk melihat, memahami serta mengenal lebih jauh dan lebih dalam. Entah itu wujud barang maupun pribadi. Ketertarikan awal menjadi sebuah pintu masuk menuju proses pengenalan yang lebih baik.

Ketika berkunjung ke sebuah megastore atau pasar, tentu banyak pilihan barang yang terhampar sejauh mata memandang. Kadang ada banyak keinginan untuk memiliki semua barang. Namun faktor kebutuhan menjadi kunci utama untuk memilih barang yang tepat. Karena tentu, uang belanja tidak cukup untuk memborong semua sayuran dan lauk pauk yang dijajakan.

Begitu juga saat menyambangi toko elektronik. Ketika niat hati membeli sebuah dvd player baru, justru ketika sudah berada di sana, rasa bingung kembali menerpa. Puluhan jenis merek, beserta puluhan keunggulan dan teknologi yang ditawarkan menjadi sebuah awal kebingungan. Sehingga proses melihat dan memilih kadang menghabiskan waktu hingga satu jam! Padahal, jika mengacu pada kebutuhan, tidak lebih dari 10 menit waktu yang dibutuhkan untuk memilih dvd player yang tepat dengan harga yang terjangkau.

Terlebih lagi jika berkaitan dengan pemilihan pribadi yang tepat dalam rangka pemilihan kepala daerah maupun wakil rakyat yang bernaung pada organisasi maupun partai tertentu. Kebingungan makin menjadi, karena dari pihak calon pemimpin membuat sebuah bentuk pendekatan lewat kampanye yang hampir semua pesannya bermuatan positih dan membuat hati berbunga-bunga akan janji.

Karena itulah, proses pencitraan harus mulai dibangun dari awal lewat sebuah identitas yang mudah diingat dan dikenali. Sebuah produk baru, kadang membuat kemasan yang menarik dan unik dalam upaya pengenalan produknya ke masyarakat dan calon konsumen. Jika biasanya susu cair dikemas dalam botol plastik atau kotak karton, maka sebuah produk baru mungkin mengemas produk barunya dalam kemasan gelas atau botol yang bisa diisi ulang. Jadi, selalu ada cara baru untuk membuat konsumen tertarik untuk membeli dan mencoba mengkonsumsinya.

Pemilihan kepala pemerintahan pun setali tiga uang. Para calon memperkenalkan diri dengan banyak simbol dan visual yang mungkin berbeda dengan yang ada sebelumnya. Di pedesaan kita mengenal simbol pisang, pepaya, apel, dan jenis sayuran untuk menandakan identitas yang nantinya akan menjadi muatan pesan kampanye. Siapa ingin masyarakanya lebih maju, yuk pilih pisang, dengan nomor urut 2! Begitulah kira-kira muatan sedikit pesan kampanye yang ada selama ini.

Jika identitas gambar sudah biasa, maka dipilih pendekatan lain. Elemen pakaian kadang menjadi pilihan. Baju kotak-kotak, sarung hingga ke blangkon kerap menjadi identitas dari para calon. Semua menjadi identitas yang membedakan dengan yang lain, dan ini tentunya menjadi sebuah awal pencitraan yang kuat kedepannya dengan banyak program baru yang ditawarkan ketika mereka terpilih.

Kenapa sebuah identitas gue sebutkan sebagai awal pencitraan? Karena sekali lagi ini adalah tahap awal pengenalan dengan cara yang lebih menarik. Dan jika para calon pemilih sudah tertarik dan memutuskan memilih barang atau pemimpin, maka pencitraan awal yang sudah ada harus dipertahankan. Jangan sampai konsumen ataupun warga menjadi kecewa karena merasa salah memilih. Ketika memilih mengkonsumsi kopi instan baru, ternyata rasanya tidak seenak seperti yang diiklankan. Begitu juga ketika memilih kepala desa, gubernur atau presiden. Ketika banyak program tidak sesuai berjalan atau gagal dijalankan saat menjabat, tentu akan menjadi kekecawaan besar.

Karena itulah, Ketika memilih barang baru yang akan dibeli ataupun pemimpin baru maka dibutuhkan proses pengenalan yang cermat serta sesuai dengan kebutuhan, dan bukan sebatas keinginan semata. Jika sudah sesuai dengan kebutuhan, maka apapun yang terjadi setelah kita memilih merupakan sebuah konsekuensi yang harus kita terima. Entah itu kebahagiaan, kepuasan, ataupun kekecewaan.

Hidup memang tak lepas dari pilihan bukan?