Pagi hari, gue terjaga. Sambil menahan kantuk gue beranjak dan menuju ruang keluarga dimana sudah tersedia secangkir kopi susu panas. Istri sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Gue selalu aja kesiangan, karena semalam tadi baru selesai memberekan pekerjaan. Kantor baru memang selalu membutuhkan tenaga ekstra. Mulai dari soal adaptasi di lingkungan baru, juga termasuk banyaknya kerjaan baru yang harus gue pegang. Apalagi, saat ini tim gue nggak banyak. Jadi semua kerjaan boleh dibilang ‘harus’ bisa dilakukan dengan maksimal, baik, cepat dan memuaskan. Belum lagi kerjan sambilan yang juga gue hadapi. Semua memang menyenangkan, tapi gue memang harus siap berjibaku dengan waktu dan tenaga ekstra.

Di kantor gue sekarang, gue tetap berada di divisi marketing communication. Tapi bedanya kalo dulu 80% kerjaan gue berkutat di seputar penciptaan karya desain yang komunikatif, sekarang gue juga harus nyemplung dan membiasakan diri dengan bidang fotografi, event, dan aktivitas lain yang mendukung sebuah proses komunikasi pemasaran. Satu sisi memang melelahkan dan menguraskan energi serta otak. Tapi di sisi lain, bagi gue ini merupakan sebuah kesempatan untuk belajar lebih banyak, mengaplikasikannya lebih sering, yang berarti juga menambah pengalaman gue.

Satu saat ketika bekerja di sebuah perusahaan, gue kadang gelisah. Gue galau. Seringkali gue dihadapkan pada kondisi baru yang jauh berbeda dengan tempat gue bekerja terdahulu. Bukan hanya soal load kerjaan yang banyak, tapi gue juga dihadapkan pada urusan ‘how to run the business’ dengan cara yang berbeda. Kalo di bidang gue, semua sebenarnya sama aja tujuannya, yaitu buat ngedukung upaya pemasaran lewat berbagi bentuk kemunikasi yang efektif dan efisien. Tapi mungkin secara mikro, teknisnya bisa aja berbeda. Dan kalo gue nggak punya mental adaptasi yang ‘super’, mustahil gue bisa survive.

Semua perubahan memang harus terjadi, suka atau enggak. Dan bagaimana kita menyikapi perubahan menjadi sebuah ujian yang sangat penting dalam bagaimana menyikapi hidup secara lebih luas. Karena itulah, dengan semua hal baru yang gue hadapi, gue selalu bersikap terbuka dan selalu melihat dengan mata hati. Kenapa mata hati? karena mata ‘biasa’ kadang memberikan gambaran instant yang kadang tidak menggambarkan kondisi yang sebenarnya.

So, buat gue, sebuah kegelisahaan menjadi hal yang sangat gue perlukan. Bahkan bisa menjadi sebuah keharusan. Karena dari sebuah kegelisahan, gue akan melakukan sesuatu yang besar. Kegelisahaan menjadi sebuah pemicu untuk menarik gas labih kuat dan berlari lebih kencang. dan itu semua masih dalam koridor kewajaran dan kemampuan tentunya. Namun, seperti banyak orang besar berpendapat, sebenarnya hal yang biasa kita lakukan baru memanfaatkan separuh dari potensi yang ada di diri kita, itu juga menjadi ‘kekuatan’ buat gue. Masalahnya kita nggak sadar kalo kita punya ‘sisa’ potensi yang bisa membawa kekuatan dan perubahan itu.

Maju dengan dan bersama kegelisahaan adalah sesuatu yang bisa menjadi landasan dari semua yang akan gue lakukan. Dan gue gak akan pernah merasa jadi orang paling malang sedunia kalau gue merasa gelisah. Tinggal menguatkan hati, dan menggerakkan otot jari untuk menarik pelatuk dengan sisa peluru terakhir, dan… dor! gue menembak tepat sasaran, dan gue pun tersenyum setelah semalaman gue mencoba hal yang sama dan tak pernah berhasil.