Jumat malam saya mengendarai motor menuju rumah. Hari itu saya nggak pulang terlalu malam, karena kerjaan kantor memang lagi nggak banyak. Jam setengah 8 saya udah asik duduk di ruang TV bersama istri. Pyuh, senangnya setelah seharian bergulat dengan kerjaan dan kesibukan akhirnya saya bisa duduk sambil makan malam bersama istri.

Malam itu seperti biasa, rekan-rekan satu komplek berkumpul di dekat rumah. Kegiatan ini memang biasa dilakukan. Berkumpul, ngobrol, sambil melepas lelah bersama setelah seharian sibuk dengan pekerjaan masing-masing di kantor. Tapi malam itu ada kegiatan yang dilakukan. Teman-teman sedang sibuk memotong 3 ekor entog. Memang besok Sabtu libur, tapi kebiasaan memotong entog sudah lama nggak kita lakukan di komplek.

Selesai makan saya dan istri pun keluar untuk sekedar bertegur sapa. Saya pun melibatkan diri dan membantu mempersiapkan entog untuk makan nanti, walaupun yang saya bisa bantu pun sebatas yang saya bisa, hehehe… Istri pun membantu para ibu yang sibuk di dapur. Ada 3 orang ibu yang membantu memasak.

________________________________________

Memang di komplek saya, semangat kebersamaan dan kekompakan selalu terjaga. Semua rekan dikenal hidup berdampingan satu sama lain. Semangat saling menhormati selalu dijaga, sehingga keakraban selalu dipalihara. Termasuk juga malam itu.

Saatnya makan…. entog yang malam itu dimasak rica-rika sangat menggoda. Kita semua yang malam itu berjumlah sekitar 15 orang pun mulai menggelar terpal di pinggir jalan dekat rumah untuk menikmati sajian rica-rica entog yang masih panas. Rasanya, nggak ada duanya! Pedas, nikmat dan mengeyangkan… hehehe Saya jadi lupa kalo saya dah makan tadi…

Malam itu istri juga ikut bergabung bersama 2 rekan ibu lainnya. Canda tawa pun memecah bersama obeolan yang menambah suasana malam itu makin hangat.

Saat nambah dan sudah setengah jalan makan, saya dikagetkan dengan siraman air yang menerpa tubuh. Nggak tanggung-tanggung, satu ember penuh! Saya kaget dan langsung berdiri. Ternyata, Pak RT menyiram saya sambil berteriak, “selamat ulang tahun!!!” Saya makin kaget.. dan nggak lama, semua rekan yang berkumpul memberikan ucapan selamat.

Dari arah dalam rumah pak Yanto dimana entog dimasak pun keluar istri membawa kue ulang tahun dengan lilin-lilin kecil yang menyala, sambil menyanyikan lagu ulang tahun. Sumpah, saya makin kaget sekaligus terharu..  Istri pun menghampiri saya dikelilingi oleh semua teman-teman. Saya pun didaulat untuk memotong kue. Sambil tetap diiringi nyanyian, saya pun memotong kue, dan potongan pertama saya serahkan ke istri. Kecupan mesra pun saya berikan kepadanya. Semua rekan pun bertepuk tangan bersama. Duh saya makin terharu jadinya….

Ternyata kejadian malam itu sudah dipersiapkan sejak sebulan lalu. Otak di balik semua kejutan ini adalah istri saya. Semua kelengkapan acara dilakukan dan dibantu oleh semua rekan. Dari pembelian entog, pemesanan kue, hingga ke kordinasi untuk berkumpul bersama banyak rekan, semua dilakukan bersama. Sungguh luar bisa bukan?

Pagi itu tanggal 30 Juni menjadi perayaan ulang tahun yang tak kan terlupakan…. Badan yang dibasahi air dan bedak sungguh menambah warna dan kebahagiaan yang saya rasakan. Istri saya yang baru menempati rumah bersama selama 8 bulan setelah menikah pun ternyata mampu menjadi sosok yang supel, mudah bergaul dan bersemangat di lingkungan baru.

Kehangatan dan kebahagiaan malam itu menjadi bukti nyata, bahwa kekompakan yang ada di sebuah lingkungan akan selalu abadi terjaga. Semua ini adalah buah dari cinta dan kasih yang terjalin antara saya, istri dan semua sahabat…

Semoga kekompakan ini selalu terjaga.

Terima kasih istriku… I love u much… now and forever….

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements