Kemarin Jakarta resmi berulang tahun. Nggak tanggung-tanggung, usianya 485 tahun. Nggak bisa dibilang tua lagi… Sebuah pertanyaan sederhana, gimana Jakarta sekarang di usianya yang banyak itu? Sebagai asli kelahiran Jakarta, walau gue bukan orang Betawi, gue mau memberi gambaran tentang Jakarta yang gue rasain pribadi aja. Secara gue bukan ahli sejarah, atau ahli antropologi.

Gue jelas kalah tua banget sama ni kota. 3o tahun lebih, gue lahir di Kebayoran. Secara bapak dan ibu merantau ke Jakarta, dan di kota inilah mereka dipertemukan oleh cinta, maka gue pun lahir di kota ini. Walau nggak lama gue sekeluarga pindah ke Karawaci Tangerang, tapi keseharian dan banyak sisi kehidupan selalu bersinggungan dengan ibukota negara kita ini.

Jaman tahun 80-an dulu, bapak ibu gue termasuk ‘nekat’ ngambil rumah di Tangerang. Walau sekarang jarak tempuh menuju Jakarta bisa 20 menit aja, tapi jaman dulu, bisa 2 jam! itu juga ditambah naik bis tua yang jumlahnya sedikit banget dan harus melalui jalan yang kalo boleh dibilang adalah lintasan off road terpanjang di dunia. Bisa kebayang kan, sulitnya keadaan meskipun baru sebatas akses menuju ke rumah?

___________________________________

Gue kecil dan besar di Tangerang. Tapi gue juga sering ke Jakarta dan mengalami banyak kisah di kota ini. Dari jaman ngejar-ngejar bis yang nggak cukup banyak, serunya naik becak keliling kota, sampai melalang buana di PRJ yang jaman dulu masih di daerah Monas. Kehidupan Jakarta memang unik. Beragam budaya tumplek blek dan berbaur jadi satu. Layaknya banyak kota metropolitan di belahan dunia manapun, Jakarta pun menjadi banyak destinasi dari banyak orang dari berbagai daerah lain di Indonesia.

Itulah yang membuat Jakarta menjadi banyak warna. Perpaduan dari banyak budaya dan semangat yang beragam dari banyak daerah, harus disatukan dalam satu ruang. Suka atau enggak. Dan jika bisa sungguh hadir dalam keragaman budaya, pada akhirnya Jakarta menjadi tempat yang kaya rasa dan kaya warna.

Lalu bagaimana dengan Jakarta 2012? Geliat kota semakin menjadi, walau masalah juga nggak ada habisnya. Dari segi transportasi, mobil pribadi makin banyak, motor nggak ada habisnya. Tapi dari segi transportasi umum, penambahan busway dan hilangnya becak memberi warna baru. Bis-bis umum makin melimpah, termasuk bis tanggung seperti Metro mini, kopaja, dan angkutan kota yang lebih kecil. Ini tentu memberi banyak pilihan alat transportasi yang murah. Tapi di sisi lain, ada PR besar, bagaimana bisa menjadikan sarana jalan menjadi seimbang, sehingga banyaknya kendaraan tidak membuat perjalanan makin tidak menyenangkan gara-gara macet! kalo yang ini udah jadi masalah klasik kalo nggak mau dibilang basi… hehehe

Roda ekonomi pun makin menggeliat. Banyaknya perumahan baru, pusat perbelanjaan baru, dan kantor-kantor baru menjadi bukti. Nggak susah cari mal. Lah wong satu kecamatan ada yang punya 3 mal! Dan kalo mau kerja di kantor ada banyak pilihan, walau tetap ada standar yang berlaku. Begitu juga perumahan. Dari perumahan sederhana sampai yang kayak istana ada banyak. Belum lagi apartemen. Gak bisa lihat tanah kosong dikit, pasti nggak lama berdiri mal atau apartemen.

Itu kalo melihat yang kelas atas. bagaimana dengan kelas bawah? Pasar tradisional walau tetap jumlahnya nggak berubah, namun sudah mulai dibuat lebih modern dan agak rapi. Begitu juga tempat tinggal di kampung-kampung mulai ditata rapi. Dari sarana umum, kebersihan lingkungan, hingga tersedianya rumah susun baru yang bersih dan nyaman menjadi pilihan. Karena kalo nggak mulai dibenahi, kesan nggak nyaman tinggal di Jakarta makin melekat. Cari uang alias kerja boleh di Jakarta. Tapi untuk tempat tinggal mending memilih di sekitar Jakarta seperti Tangerang, Bekasi, Depok dan Bogor. Apalagi sarana transportasi yang menghubungakn keempat kota itu juga makin beragam dan nyaman. KRL salah satu contohnya.

Dari sisi sosial kemasyarakatan, semua keragaman dan keadaan kota akan menjadi pemicu banyak hal. Mulai dari tingkat kejahatan yang makin besar baik dari segi kualitas dan kuantitas hingga ke nilai-nilai bermasyarakat yang mulai pudar. Banyaknya suku yang hidup di RT atau lingkungan yang sama, harusnya bisa menjadi keunikan yang harus dijaga. Nilai yang dibawa dari masih-masing daerah, harus bisa disatukan agar memberi warna baru masyarakat kota.

 Tapi semua nggak berjalan lancar. Perbedaan suku dan paham, sering memicu hadirnya perselisihan dan kecurigaan. Kadang ini dibawa hingga ke anak cucu. Maka kadang, ada tetangga yang bersebelahan rumah sudah tahunan nggak bertegur sapa. Pemicunya, karena selisih paham. Sering ini meluas menjadi stereotipe kedaerahan. Orang Sunda pelit, orang Batak kasar, orang Padang sombong, orang Cina kikir, dsb. Bahkan sekedar berjalan sendirian untuk menikmati suasana lingkungan dan mencari udara segar sudah agak langka. Beda banget kan seperti di kota-kota besar lain, yang kadang masyarakatnya masih suka berjalan kaki atau bersepeda keliling kota dengan keluarga untuk sekedar menikmati udara pagi… Kadang banyak anak-anak yang nggak boleh main di luar terlalu banyak. Karena para orang tua khawatir dengan keselamatan si anak. Ck… ck… sebegitu parahkah tinggal di Jakarta??

So, di ulang tahun yang ke 485 Jakarta memang akan tetap bergeliat dengan kemajuan dan permasalahan yang ada. Walau usia sudah menua, tapi bagaimana biar tetap kelihatan awet muda dan tetap kelihatan mempesona menjadi PR warga Jakarta semua.

Ke Jakarta aku kan kembali….🙂