Suatu malam saya melihat acara Mario Teguh Golden Ways di TV. 2 hari kemudian saya membaca Burung Berkicau yang ditulis Anthony De Mello. Seminggu kemudian saya menonton kembali film sensasional dan kontrovesial, The Secret. Dan satu bulan kemudian saya menonton langsung acara acara Kick Andy yang dibawakan secara luar biasa oleh Andy F Noya di studio Metro TV di bilangan Jakarta Barat.

Well, semua materi, bentuk serta konsep berbagai kegiatan tadi intinya berujung pada tujuan sama: pengembangan diri yang lebih baik, apapun bidang dan dunia yang sedang kita jalani. Dari soal kesuksesan, kabahagiaan rohani, kecukupan dan kelimpahan materi, serta terciptanya jati diri yang luar biasa.

Puluhan teori dan kisah testimoni pun tersaji di hadapan saya lewat berbagai aktivitas yang saya lakukan tadi. Muncul pertanyaan dalam hati, apakah saya merasa ada yang kurang dalam hidup saya? Ataukah hingga saat ini saya sedang mencari kebahagiaan sejati? Atau saya ingin hidup lebih lengkap dan punya makna lebih di masa depan? Atau saya ingin segera merasakan kebebasan secara financial nantinya?

Well, secara konsep, pasti jawaban saya: YA! Begitu juga secara nyata, saya pun merasakan kebahagiaan dalam hidup yang mirip sama semua teori itu. So, semua buku, film, acara LIVE di TV, hingga seminar dan apapun bentuknya yang berhubungan dengan ‘materi pengembangan diri’ sama sekali tidak salah. Bahkan bisa membuat hidup ke depannya bisa menjadi lebih baik. Tapi saya punya pemikiran agak beda. So, lewat tulisa ini, mari kita bahas mengenai ‘how’ dan bukan ‘What’ dalam banyak proses hidup yang kita jalani. Karena pertanyaan ‘what’ bisa terjawab dengan kehadiran banyak media yang saya sebut di atas. Tapi, pertanyaan ‘how’ bisa menjadi area yang sangat terbuka dengan banyak pendapat dan sikap dari banyak individu. Apa iya?

Sekedar sharing, saya sudah membaca, melihat, menonton, dan berpartisipasi dalam banyak media serta kegiatan yang berhubungan dengan pengambangan diri tadi. Lalu apakah itu merubah kualitas diri saya? Saya jawab ya! Tapi jujur, semua teori itu tidak langsung gue praktekkan dalam hidup gue. Tapi gue lebih mengeksplorasi bagaimana caranya  membuat dan melakukan banyak hal dalam hidup dengan sebuah konsep dan cara pandang baru. Semua hal tadi saya posisikan sebagai banyak bentuk inspirasi dan bukan tutorial yang bersifat lebih kaku dan agak ‘saklek’. Contoh, kalo mau bisa program komputer ya baca buku tutorial. Dan kalo mau hidup lurus ya rajin mencatat teori saat menghadiri seminar atau melihat banyak film yang berbau agama.

Bagi saya, fungsi banyak media tadi, ya harus dikembalikan ke asal katanya, sebagai ‘alat’. Jadi kalau di banyak media tadi ada jargon ‘dijamin sukses 100%’ atau ‘Kaya raya dalam 3 bulan’, semua itu saya anggap bagian dari banyak bumbu dan resep aja dalam sebuah proses memasak. Bagaimana gue memasak, dimana gue membeli sayuran dan lauk, serta bagaimana saya menyajikannya di meja makan adalah poin-poin utama yang ada di kepala saya. Manjadi sukses itu penting. Namun bagaimana cara dan jalan yang saya tempuh untuk meraih sukses menjadi jauh lebih penting.

Mungkin banyak dari loe yang baca tulisan saya ini berseloroh, ah itu kan teori saya aja… Justru saya juga sepaham sama yang menganggap begitu. Bagi saya teori memang harus ada. Tapi bagiamana merubah teori menjadi hasil adalah kebahagiaan sesungguhnya. Dan ini berkaitan banget sama proses. Seperti kata pepatah, menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa itu adalah sebuah pilihan. So, jika kita tua sekaligus menjadi dewasa pada saatnya nanti, sebuah konsep yang indah bukan?

Dan semua itu harus diawali dari sebuah proses sederhana. Ubah cara pandang, dan anggap diri loe istimewa. Saya, walau saat ini masih punya banyak rencana, dan punya banyak target dalam hidup, tapi saya sangat-sangat bersyukur, dan merasa nggak ada beban. Saya ingin kaya tapi saya nggak merasa miskin. Saya ingin sehat selalu, tapi saya bukan orang tipe yang sering sakit. Saya pingin punya mobil mewah, tapi saya tetap sayang sama motor RX King saya saat ini.

Saya bahagia dan bangga sama diri dan hidup saya. Dan semua keinginan serta rencana masa depan, sama sekali nggak jadi beban utama, karena saya menjalani hidup saat ini pun tanpa beban. Memang saya nggak selalu hepi tiap hati. Kadang saya juga kecewa, marah, sedih dan suntuk. Tapi saya pingin, semua perasaan-perasaan nggak enak itu nggak hadir dominan dan mungkin ngalahin kebahagiaan, kepuasan, dan rasa syukur saya sama hidup saya secara keseluruhan.

So, mau pilih ya ‘pasti’ atau tetap hidup pada ‘pilihan’?

Apapun pilihan yang kamu inginkan dalam rangkaian proses meraih banyak tujuan dalam hidup,tetap  jangan lupa untuk bersyukur dan tersenyum selalu ya….

Advertisements