Dunia terdiri atas banyak bagian daerah, kalo mau melihat peta. Dan tidak langsung juga pasti akan terbagi menjadi banyak kelompok negara, masyarakat, agama dan kepercayaan, hingga ke ideologi yang diyakini oleh hampir lebih dari 5 milyar penduduk bumi.

Lebih dekatnya, di Indonesia juga begitu. Dari 200-an juta lebih penduduk, selalu ada keragaman budaya, pemikiran dan adat istiadat maupun kebiasaan yang terbentuk. Kalo mau melihat dari pembahasan audiens buat para praktisi periklanan dan marketing, kumpulan masyarakat yang ingin dituju dalam sebuah kampanye periklanan dibagi ke dalam banyak karakter. Baik dari segi geografis, psikografis, demografis, dan banyak lagi.

Pemetaan ini menjadi wajib, karena memang masyarakat sangat majemuk dan beragam. Jadi sasaran dari sebuah upaya komunikasi perlu ‘depersempit’ agar upaya penyampaian pesan komunikasi menjadi lebih efektif.

____________________________________________

Lebih jauh, ketika terdapat kesamaan paham, ideologi dan tujuan, pada akhirnya akan muncul sebuah perasaaan ‘satu rasa’ yang diwujudkan oleh dibentuknya sebuah badan, organisasi, komunitas, partai, golongan atau apapun istilahnya. Tujuannya hanya satu, ingin bergerak bersama dalam sebuah kordinasi yang diharapkan bisa membawa perubahan baik untuk anggota perkumpulan, maupun bagi orang lain secara luas.

Namun, ketika akhirnya sebuah komunitas yang didasari oleh kesamaan ide dan paham ini bersatu, kadang arah dan tujuan serta banyak hal yang dilakukan sering tidak mencerminkan sebuah penghargaan akan adanya perbedaan dan kedinamisan yang terjadi di dunia atau wilayah sekitarnya.

Bagi sebuah komunitas ini, kehadiran komunitas lain yang memiliki perbedaan paham dan tujuan kadang menjadi sebuah ancaman. Begitu juga dengan yang dilakukan oleh mereka, kadang mendasari tindakan yang merugikan hanya karena hal yang sangat tidak disukai oleh setiap anggota komunitas. Alasannya sangat sederhana: karena berbeda. Gue sama loe nggak sama.

Kebersamaan yang dihadirkan oleh sesama anggota komunitas pada akhirnya diwujudkan dengan penyerangan kepada idelogi yang dianut komunitas lain, bahkan seringkali berujung kepada tindakan kekerasan. Entah ini memang menjadi dasar pijakan sebuah organisasi atau menjadi akibat dari perbuatan beberapa anggota yang ‘salah kaprah’, menjadi tidak lagi bisa dibedakan.

Intinya, kalo gue A dan elo B, maka gue akan coba meyakinkan kalo A itu bagus dan paling oke. Kalo loe tetep B, maka jangan salahin gue kalo gue bakal melakukan kekerasan sama loe. Segampang itukah?

Dari soal agama, olahraga, politik, sampai pendidikan pasti pernah mengalami kekelaman dari peristiwa ini. Perusakan tempat ibadah, penyerangan suporter lawan setelah pertandingan, perkelahian mahasiswa satu kampus, sampai ke bentrokan antar pendukung partai kerap terjadi. Bukan hanya di tingkat akar rumput, tapi unjuk kekuatan ini juga hadir di tingkat kaum intelektual yang jelas-jelas makan bangku sekolahan sampe kepalanya pada botak! Lihat aja di MPR, hehehe

Lalu solusinya apa? Jujur, karena gue bukan siapa-siapa dalam arti gue gak paham banget soal paham satu dan lainnya sampe tingkat yang mumpuni, gue hanya bisa melihat dan memperhatikan. Tapi memang sebatas kemampuan nalar dan ilmu yang gue punya, kadang gue suka geleng-geleng kepala aja melihat setiap kejadian yang ‘kisruh’ hanya gara-gara perbedaan ideologi atau paham.

Jika ingin bicara mengenai ‘gerakan massa’ yang berujung kekerasan, mungkin gue bisa menyalahkan para pelaku kekerasan di lapangan. Ratusan orang yang anarkis itu yang perlu disalahkan karena gak bisa berpikir nalar saat melakukan kekerasan atau pengerusakan. Tapi mereka kan punya pemimpin. Jadi apakah pemimpin yang perlu disalahkan? Karena dari komando pemimpin-lah, mereka akan bergerak. Pemimpin mereka kurang bijaksana atau memang pemimpin mereka mengedepankan emosi ketimbang logika? Tapi , pemimpin juga akan bertindak sesuai ideologi dan paham yang dianut komunitas dong… Mengikuti AD ART organisasi lah istilahnya… Lalu apa memang organisasi-nya yang pantas disalahkan?

Gue nggak mau terjebak untuk saling menyalahkan. Apalagi sampai membenci mati-matian kepada pihak lain.  Sekali lagi, gue hanya bisa melihat saja, dan berusaha mengamati saja. Tapi tentu, sambil mengamati, gue bisa sekalian belajar untuk mengambil pelajaran dari banyak kejadian tadi.

Ketika kebersamaan, persatuan, dan kedamaian sering diagung-agungkan pada sebuah sistem masyarakat, ternyata karena ada perbedaan yang sebenarnya sudah sejak jaman dulu, menjadi sebuah isu besar yang perlu dibumbui dengan kekerasan.

Paham, arogansi, perbedaan, kekuatan, arogansi dan kekerasan seakan menjadi sebuah potret yang kerap terjadi di masyarakat dan menjadi sebuah lingkaranb kehidupan yang gak ada ujungnya.

Meski banyuak diskusi, banyak forum yang membahas, serta banyak cara yang dilakukan untuk mencari solusi, semua kadang tetap menyisakan kejadian-kejadian yang sama di kemudian hari.

Kalau sudah begini, pastinya harus kembali ke gue, elo dan kita pribadi masing-masing. Meski gue beda sama loe, dan paham kita beda, bukan berarti kita nggak ada waktu buat ngobrol santai sambil minum kopi bareng bukan? Bukan gue ngobrol sama orang lain sebagai cerminan gue sebagai seorang anggota sebuah komunitas, partai, atau apapun. Gue ngobrol sama loe ya karena gue ya gue aja. Sebagai pribadi aja, tanpa diembel-embeli kalo gue gue anggota komunitas tertentu. Kalo paham loe sama gue beda, ya biarkan aja. Lebih baik tetep ngobrol dengan penuh canda daripada kita mulai bersitegang. Sayang kan, kalo kita mulai emosi, malah kopi yang ada di depan mata jadi dingin… hehehe

Yuk, jadi diri sendiri… Hidup damai nggak ada ruginya kok…. PISS!