Semangat, harapan, dan kebahagiaan adalah pencapaian yang ingin dituju dalam hidup. Daya, upaya, dan cita menjadi faktor yang mengiringi upaya pencapaian itu. Semua pribadi akan selalu mengalami hal yang sama. Siapapun dia, dan dari golongan manapun dia berasal. Namun yang menjadi pembeda adalah kualitas diri yang dimiliki untuk selalu setia dalam perjalanan hidup.

Catatan ini ingin memberi banyak contoh mengenai kesetian perjuangan dalam hidup yang dialami oleh banyak pribadi. Memang semua hampir melihat pada gambaran wong cilik. namun bukan berarti perjuangan hidup tidak dimiliki oleh pribadi yang berkecukupan. Namun dari semangat wong cilik ini gue mendapatkan banyak inspirasi sekaligus semangat. Karena bagi para wong cilik ini tidak ada pilihan lain. Jika tidak  berjuang demi hidup, maka: mereka nggak akan makan hari ini!

_________________________________________________

Dan secara lebih luas, hidup akan makin berat dijalani karena keadaan yang memang sudah parah. Bukan soal pribadi yang malas atau takdir dari jaman nenek moyang. Tapi keadaan berat ini karena memang latar belakang keluarga yang tidak mampu, dan selalu sulitnya mereka mendapatkan kesempatan yang mungkin bisa membawa hidup ke arah lebih baik. Dengan begitu pilihan hanya satu: Fight for Life! Berjuang terus buat hidup sambil terus bersyukur setiap saat.

Ini beberapa contoh yang gue temui dan kadang gue ajak ngobrol dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan perjuangan hidup itu…

Parkiran Mal WTC Serpong. Seorang ibu tua duduk di jalan menuju parkiran. Ia duduk di sebelah baskom plastik berisi beberapa bungkusan makanan kolak dan klepon. Keduanya makanan tradisional. Ibu itu menawarkan dengan senyum tanpa niat memaksa. Gue dan istri berhenti sejenak untuk menanyakan mengenai makanan yang dijual. Dia pun mulai bertutur, dari cara membuat makanan, rumah yang berjarak hampir 5 km dan terletak di desa Ciseeng, aktivitas yang dijalani seorang diri, hingga harus membawa kembali makanan yang tidak terjual yang kadang cukup banyak. Namun tidak sedikitpun mimik sedih atau gundah gulana yang terpancar. Ibu itu kembali bertanya, “Jadi mau kelepon atau kolak, bu? Rasanya enak kok bu…”

Bus Kopaja 86 jurusan Lebak Bulus – Kota. Gue ada di bus kecil itu dalam perjalan menuju kantor selepas turun dari kereta di stasiun Palmerah. Bus kecil itu sangat penuh. Parahnya, keadaan jalan macet pula di daerah Slipi. Gue yang kebagian tempat di pintu, terpaksa bergelantungan karena memang nggak ada ada lagi ruang di dalam bus. Kondektur Kopaja yang tampangnya agak sangar berdiri bersebelahan dengan gue. Tiba-tiba dia berseloroh, “waduh tiap pagi macetnya kayak gini… bisa berkurang nih setoran…”  Gue tersenyum, dan menyambut celetukannya dengan kata-kata semangat. Yah sabar aja bang, namanya juga di Jakarta… macet dimana-mana… Lalu mulailah dia cerita banyak, soal keadaan di jalan, bayaran sekolah anaknya yang makin mahal, keselnya dia karena sering melihat aksi copet, sampai kebijakan pemerintah yang bikin ekonomi makin susah… Perjalanan 20 menit menjadi waktu yang walau bikin gerah karena macet dan hawa panas, namun menjadi sebuah ajang obrolan yang juga menginspirasi dan memberi semangat hidup. Walau semua keluar dari mulut seorang kondektur sekalipun…

Penitipan motor, stasiun Serpong. Setiap hari gue menitipkan motor di tempat penitipan motor yang terletak di area stasiun Serpong. Ratusan motor lain juga dititipkan di sana. Dengan tarif Rp 3000 perak sehari untuk per setiap motornya, terpapar betapa kerja keras harus dilalui oleh seorang remaja yang bertugas sebagai penjaga penitipan. Kerja keras makin berasa saat hujan, karena kadang harus mengatur tata letak motor agar tidak terlalu kehujanan, mengingat area yang tertutup atap hanya 80% dari luas area penitipan. Uang makan 20.000 perhari, menjadi sebuah penghasilan dan cara untuk mencari sesuap nasi setiap harinya. Keletihan, kelelahan dan kerepotan kadang tidak terpancar. Yang ada hanya raut wajah bersahabat dan niat untuk memudahkan para penitip sepeda motor hari itu, tanpa terkecuali.

Cisauk, suatu sore. Istri gue pulang dari membeli kebutuhan memasak di sebuah warung kelontong. Di pinggir jalan ia melihat sesosok lelaki tua yang duduk kelelahan dengan sebuah baskom plastik yang ditutup kain. Istri lalu menyapa hangat sambil bertanya, “sedang istirahat pak? sedang menunggu seseorang?” Bapak tua itu tersenyum sambil menjawab sambil tersenyum. Tidak lama setelah istri gue menghampiri, dia lalu bercerita bahwa ia sehabis pulang dari mencari ular sawah untuk dijual agar bisa membeli makan buat keluarga. Ular akan dihargai 10.000 rupiah per kilogramnya. Sedangkan ia baru dapat menangkap 2 ekor hari itu. Hm… sangat jauh dari jumlah yang dibutuhkan untuk mencapai 1 kilogram. Kesabaran dan keteguhan bapak tua itu memberikan kekuatan di diri istri dan bagaimanapun keadaannya istri melihat bapak itu tetep setia dalam perjuangan hidupnya. Akhirnya, istri pun berbagi 5 liter beras dan 5 mie instan agar bisa dibawa pulang bapak tua itu untuk anak istrinya di rumah.

Perjuangan hidup memang membutuhkan usaha luar biasa. Bukan hanya demi kita sendiri, melainkan juga demi anak dan istri di rumah. Pilihan hidup yang tidak ada membuat semangat menjalaninya menjadi satu-satunya alasan utama untuk bertahan. Mereka pantang menyerah, bahkan sekedar memohon belas kasihan kita. Mereka berusaha dengan keringat dan air mata untuk bertahan hidup.

Semangat inilah yang harus menginspirasi kita semua. Kita harus bersyukur bahwa ketika sulitpun, kita masih bisa makan tiap hari, walau dengan lauk seadanya. Kita masih bisa merasakan nikmat Tuhan walau dengan cara yang sederhana. Tapi bagi banyak orang di sekeliling kita, kadang kesempatan itu harus dilalui dengan kerja keras. Karena pilihan mereka hanya satu, berusaha atau tidak makan.

Tuhan memberkati kita semua…