Malam itu saya melihat banyak hal di TV. Sekumpulan banyak orang cerdik pandai berkumpul menjadi satu. Mereka bukan hanya sekedar berkumpul ngopi bareng atau main remi bareng. Mereka berkumpul dengan tujuan dan maksud yang jelas. Mereka ingin berbuat sesuatu demi bangsa dan rakyat di negeri ini.

Acara yang saya tonton bertajuk sidang Paripurna MPR yang salah satu agendanya memutuskan hal penting berkaitan dengan kebijakan penyesuaian harga BBM. Acara yang berlangsung hampir seharian dan memuncak pada malamnya yang gue tonton lewat siaran langsung selama hampir lebih dari 4 jam itu ternyata menguras banyak energi.

Saya emang nggak ahli soal ilmu ketatanegaraan apalagi soal urusan teknis pemerintahan dan lembaga kenegaraan. Dan saya yakin, para dewan yang duduk dan bersidang pun juga bukan tipe manusia yang sembarangan. Mereka pintar, berkualitas, cerdik, dan berpikiran maju ke depan. So, dengan siaran langsung ini saya bisa berharap mendapatkan banyak hal positif atau pembelajaran yang jujur, apalagi buat saya yang masih awam soal hal-hal yang berbau politik. Tapi gue tetep nonton karena terdorong rasa penasaran, kalo boleh dibilang begitu….

Saya berusaha nggak ambil pusing soal stigma yang berkembang soal para dewan yang terhormat. Saya hanya ingin melihat, mengamati sekaligus belajar. Ternyata, 4 jam di depan TV yang gue habiskan sungguh memiliki kesan yang sangat mendalam. Ketegangan, keseriusan, dan senyum tawa sangat jauh melebihi dari yang saya dapatkan saat saya menonton film drama Korea…

_____________________________________________________________________

Kadang saya serius mengamati setiap detail persidangan. Saya juga serius memperhatikan tata cara persidangan dan metode yang digunakan selama ini sesuai perundang-undangan. Tapi yang gak saya sangka, ternyata hampir 80% waktu yang saya habiskan saat menonton justru sambil tersenyum dan tertawa lepas sendiri.

Para dewan memang sering terlibat dalam diskusi yang berbobot dengan dasar ilmu yang tinggi buat saya. Tapi saya jadi geli saat memperhatikan hampir sebagian besar tingkah polah para dewan yang menurut saya nggak mencerminkan siapa mereka. Saling membantah, saling mengumpat, menjelekkan satu sama lain, tidak menghargai lawan bicara, hingga melontarkan lelucon yang sama sekali gak lucu, menjadi banyak hal kerap terjadi.

Mereka memang semua pintar soal ilmu hukum dan pemerintahan. Tapi, apa nggak ada ya ilmu soal etika dan pengertian serta kedewasaan yang mereka miliki?

Kadang saya berpikir, kalo saya punya anak nanti, bukan acara model begini yang jadi pilihan saya untuk menonton bareng anak saya. Bukan soal anak saya nanti bakal bingung soal banyaknya istilah yang saya sendiri nggak ngerti, tapi saya hanya takut kalo anak saya nanti bakal nyaman nonton.

Kok bisa?

Iya, soalnya saya yakin kalo anak saya nanti ngerti dan akan merasa kalo itu tontonan yang pas buat anak seusia dia. Soalnya, sikap para anggota dewan sungguh nggak berbeda dengan sikap anak-anak yang saling ngeledek, saling tuding, dan nggak mau ngerti orang lain selayaknya dalam sebuah permainan yang melibatkan banyak anak.

Saya nggak mau anak saya bakal nyaman nonton sidang Paripurna MPR hanya karena kemasan acaranya gak jauh beda seperti nonton film Doraemon atau film Satria Baja Hitam yang selalu penuh bumbu kisah yang menggoda. Bedanya, kalo di film jelas banget mana jagoan mana penjahat, dan gampang ditebak mana yang baik dan mana yang jahat, tapi disidang paripurna ini sama sekali nggak tahu siapa yang benar dan salah, siapa yang jago atau ngawur, karena perdebatan selalu saja terjadi selama berjam-jam durasi acara.

Makanya, saat di menit-menit awal yang cukup serius, pada akhirnya saya lebih banyak tertawa dan tersenyum melihat siaran langsung Sidang Paripurna MPR itu. Banyak hal lucu, hal aneh, sampai hal yang sangat menggelikan yang saya bisa tonton. Saya jadi males berusaha untuk belajar sesuatu atau sampe mendapatkan inspirasi. Yang ada program tadi menjadi ajang hiburan semata layaknya menonton film anak-anak.

Dan nggak salah, kalo jaman dahulu, seorang Gus Dur pernah melontarkan ungkapan yang sampe sekarang tetap saya dan banyak orang ingat, kalo MPR itu sama kayak Taman Kanak-kanak. Mereka bebas berbuat semaunya, dan nggak peduli sama sesama peserta sidang lain asal bisa berekspresi demi sebuah tujuan. Dan caranya ya pasti juga akan terlihat sangat natural dan lucu layaknya di sebuah sekolah TK. Walau merasa paling tahu, kadang anak-anak TK selalu menganggap mereka paling ngerti dan suka ngambek kalo dibilangin temen, guru, atau sama orang tua…

Jujur, jika ada siaran langsung sidang di MPR di televisi, saya nggak akan melewatkan acara ini. Karena saya sungguh kangen mengulang masa kecil saya dulu….

Walau saya akan tertawa lepas, tapi saya memahami kalo semua keluguan, kekacauan, dan kekisruhan yang terjadi adalah karena mereka memang masih setingkat dengan murid TK. Makanya saya gak akan ambil pusing selain tertawa dan mendapatkan hiburan secara gratis… hehehe

Advertisements