Bagi gue kesabaran adalah hal yang sederhana walau susah. Cara gampang gue dalam melatih kesabaran ada banyak, walau nggak semua asik dijalanin. Selama gue bisa menahan diri, nggak berpikiran sempit, dan melangkah dengan cara pandang baru, itu udah cukup.

Apapun bentuknya dan bagaimanapun caranya, ya hanya gue yang bisa memilih. Termasuk jika ada banyak hal berat yang harus gue jalanin karena keputusan gue melatih kesabaran. Ini beberapa cara gue diantaranya:

  • Menarik napas panjang.
  • Ngemil.
  • Menghisap sebatang rokok.
  • Berjalan ke mana aja.
  • Mendengarkan musik kesukaan gue.
  • Browsing.
  • Nulis blog pemanisbuatan.
  • Baca buku puisi Remy Sylado.
  • Dengerin kaset Benyamin.
  • Tidur.
  • Nonton DVD koleksi gue.
  • Telpon sahabat.

Kalo semua itu nggak mempan juga, gue kembali menarik napas panjang, dan bersyukur. Apapun yang gue alamin, ya memang harus gue alamin. Dan ini bukan alasan buat stuck kelamaan. Walau belum ada ‘solusi’, gue nggak mau jadi orang lain. Gue ya gue. Pribadi yang kuat, dewasa, agak ngawur, walau tetap sayang sama diri gue dan orang-orang terbaik di sekitar gue.

So, kesabaran memang bukan impian atau talenta baik yang udah ada sejak gue lahir. Tapi kesabaran kadang sebuah proses panjang yang nggak jarang bikin eneg dan mau muntah. Tapi pastinya harus muntah dulu, baru ngerasa enak bukan?

Kesabaran juga bukan solusi paling efektif. Tapi kesabran buah dari banyak perjuangan diri. Gue nggak ngerti teknis psikologinya, tapi gue masu jalanin aja semampu dan sebisa gue. Masak sih nggak ada habisnya? Detik jam terus jalan bukan?

So mari menikmati prosesnya, suka atau enggak. Nyaman atau enggak.

Lupain Mario Teguh, Anthony de Mello, atau banyak orang pinter yang memberi banyak inspirasi. Tinggal sekarang, gue sendiri yang akan menginspirasi apa yang akan gue lakukan selanjutnya.

Dan gue pun kembali menarik napas panjang, sambil tersenyum…🙂