Akhir pekan ini gue dan keluarga menghabiskan libur 2 hari di Jogja dan Klaten. Bukan untuk liburan, karena waktu 2 hari cukup singkat jika tujuannya hanya untuk berlibur. Gue dan keluarga ke sana karena ingin berkunjung ke tempat bude Piah di daerah Ngaglik Salam karena 5 hari lalu pakde menghadap Yang Kuasa. Kita semua juga berkunjung ke daerah Bayat Klaten untuk menengok pakde yang sakit sekaligus mengunjungi mbah.

Perjalanan yang melelahkan selama hampir 17 jam karena macet, tidak menyurutkan niat tulus untuk berkumpul bersama keluarga besar. Bapak sudah hampir 4 hari berada di sana. Sedangkan gue, istri, ibu mertua dan adik beserta suami menyusul Jumat sore karena ingin memanfaatkan libur 2 hari. Kami menyewa mobil yand dikendarai langsung oleh pak Kliwon, sang ketua RT di perumahan gue di Griya Serpong Asri.

Sesampainya di Salam Magelang, kami sekeluarga disambut oleh kehangatan yang ditunjukkan oleh keluarga besar di Salam. Dari obrolan yang penuh canda tawa, sajian kopi susu dan teh hangat, serta kue pukis dan tahu goreng membuat suasana makin menyenangkan dan bikin betah.

Setelah beristirahat dan mandi, kami pun berangkat menuju rumah bude Piah yang berjarak sekitar 5 kilometer dari tempat kami berada. Di sana kami disambut bude Piah dan keluarga dengan penuh keharuan. Kami pun sibuk menghibur dan menenangkan hati bude dan keluarga agar tetap sabar dan tabah menghadapi cobaan ini.

Tidak lama kami kembali larut dalam keakraban sambil ngobrol di ruang tamu ditemani hidangan kue dan minuman hangat. Kami saling bertukar cerita dan melepas kerinduan.Gue juga melihat keakraban terjalin antara keluarga dari istri dan keluarga gue yang memang belum intens bertemu semenjak gue dan Ririe menikah beberapa bulan yang lalu. Kami saling menanyakan kabar, ngobrol tentang apapun, serta memberikan perhatian satu sama lain lewat ucapan maupun tindakan sederhana.

Tidak lama kemudian, gue, bapak, adik sepupu dan mas sepupu beranjak menuju kolam yang ada di pekarangan rumah mbak untuk memancing ikan yang akan kami bakar nanti malam. Selepas doa untuk Pakde bersama tetangga dan keluarga, kami memang berencana untuk bakar ikan sambil tetap mempererat tali silaturahmi.

___________________

Acara doa pun dimulai. Para tetangga pakde cukup giat membantu dan hadir di rumah Pakde untuk mempersiapkan acara dan membuat acara bisa terlaksana dengan baik. Mulai dari menggelar tikar di ruang tamu, mempersiapkan hidangan, hingga ke detail pelaksanaan acara doa yang walaupun sederhana, namun tetap dilakukan dengan sepenuh hati.

Para warga dan keluarga saling bahu membahu dan bekerjasama dengan rukun dan penuh semangat. Tidak ada lagi hal yang membatasi, apapun itu. Baik soal status sosial, agama, budaya dan lainnya. Keluarga kami memang keluarga besar dan memegang kepercayaan yang berbeda. Gue dan keluarga serta beberapa bude dan pakde memeluk agama Katolik, sedangkan bude Piah dan beberpa bude dan pakde memeluk agama Islam. Namun perbedaan kepercayaan sama sekali tidak menjadi masalah. Bahkan kami semua makin dipersatukan dalam perbedaan.

Selesai acara doa, kami pun mulai mempersiapkan ikan yang akan kami bakar. Ada yang menyiapkan bumbu, racikan sambal, hingga ke peralatan memasak. Kebersamaan kembali terjalin diantara kami semua, dan mengenai apa yang kami santap tidak lagi menjadi sesutu yang menjadi persoalan. Selama kami bisa menikmati hidangan dengan bersama dan gembira, maka suasana pun akan makin terjalin hangat.

Selesai santap malam yang mengeyangkan, kami pun beranjak pulang untuk beristirahat. Walaupun lelah, namun kebahagiaan sungguh terpancar di masing-masing wajah, dan kisah yang terjalin akan selalu menjadi kenangan dalam keluarga yang akan bertahan dalam waktu yang lama.

Keesokan hari, setelah berpamitan dengan keluarga Salam, kami berangkat menuju Bayat Klaten untuk mengunjungi keluarga istri. Perjalanan selama satu jam terasa singkat. Sesampai di sana, kami bersua dengan pakde yang sedang sakit, beserta seluruh keluarga di Klaten yang ikut menemani. Walaupun dalam keadaan yang cukup haru, namun penghiburan yang kami berikan untuk pakde cukup membuat pakde merasa bahagia.

Kami pun kembali bersantap bersama, ditemani obrolan yang juga berlangsung cukup akrab dan hangat. Sajian soto dan ayam goreng menjadi pilihan menu yang terasa sangat istimewa. Obrolan, canda tawa, dan keakraban berlangsung dengan penuh cinta. Peluh yang mengalir karena masakan dengan bumbu pedas menjadi tambahan kisah yang unik dan menggoda. Kenyang, akrab, dan hangat. Itulah suasana yang ada siang itu.

Kami pun menghabiskan waktu hingga siang hari. Dan waktu yang berjalan pun terasa sangat singkat, walau tetap dilalui dengan menyenangkan. Sungguh tidak ada batas diantara kami, walau keluarga kami baru kenal dan dalam tahapan saling memahami satu sama lain.

Sesaat sebelum pulang, gue dan istri menyempatkan berjalan menyusuri kampung. Keramahan dan keakraban tampak nyata terlihat di masyarakat desa. Saling bertegur sapa, membantu mengangkat pupuk, dan obrolan santai di bawah pohon; semua tampak mengalir secara jujur.

Tiba di sebuah perempatan gang desa dekat lapangan olahraga. Gue dan istri ingin sejenak beristirahat di sebuah kursi kayu yang ada di pinggir lapangan. Sesaat kami berdua tertegun. Karena di atas kursi kayu tua itu kami menemukan sebuah coretan tangan yang berisi kalimat yang sungguh membuat kami kaget. Tulisan yang menggunakan cat hitam itu berbunyi, “Bukan untuk Arena Ngrasani Tonggo…” yang artinya kurang lebih, “bukan tempat untuk ngomongin/berpikiran jelek tentang tetangga”…

Gue dan istri tercekat dan tersenyum. Dalam hati gue berpikir, ternyata ada hal yang luar biasa yang diungkapkan oleh penduduk desa yang mungkin tinggal di daerah pelosok namun memiliki pikiran yang sangat dewasa dan maju. Tidak banyak pribadi yang memiliki pikiran baik dan berani mengungkapkannya dalam sebuah tempat umum. Memang kalimat di atas hanyalah sebuah tulisan biasa di sebuah bangku kayu tua. Namun, kekuatan maknanya sungguh terasa dan ini menjadi inspirasi tiada tara buat gue dan istri.

Setelah menghabiskan banyak kekraban bersama keluarga, ternyata perjalanan dua hari itu ditutup dengan sebuah kalimat yang walau sederhana namun sangat kuat dalam makna.

Kebersamaan dengan keluarga pun menjadi lebih bermakna dan memiliki kesan yang istimewa. Dan tidak hanya itu, kebersamaan dan kerukunan juga harus diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat. Mari selalu hidup penuh dengan cinta, dimanapun kita berada…