Sepakbola menimbulkan banyak kegembiraan. Saat menikmati sepakbola, selalu muncul antusiasme dan sukacita. Permainan yang melibatkan 22 orang di lapangan ini memang menjadi sebuah bentuk hiburan yang paling nyata. Entah menikmatinya lewat televisi ataupun menonton langsung di stadion. Sepakbola juga bisa menjadi alat pemersatu bagi banyak orang. Terlepas dari latar belakang budaya, sosial dan ekonomi yang berbeda bukan menjadi alasan untuk menikmati permainan ini dengan hati yang lapang dan bahagia. Ini tidak hanya berlaku di sebagian tempat, tapi juga berlaku di seluruh dunia.

Namun belakangan hari ini saya terhenyak. Beberapa hari yang lalu terjadi peristiwa yang membuat hati miris. Sepakbola kembali makan korban. Kali ini hampir 75 orang lebih meninggal dunia saat hadir di stadion di negara Mesir. Sudah banyak peristiwa semacam ini yang terjadi di dunia sepakbola, dan sebagian karena alasan yang sama, kerusuhan penonton atau standar keamanan dan bangunan stadion yang tidak memadai.

Banyak dari penonton sepakbola yang membawa kebencian saat menonton sepakbola. Terlebih jika yang dihadapi adalah tim rival utama. Niat utama mereka tidak lagi datang ke stadion untuk menikmati pertandingan, tapi untuk mencari keributan. Ini berlaku di Jakarta, Beijing, Roma, London hingga ke Afrika Selatan. Semua niat kekerasan sudah menjadi doktrin, dan tidak ada seorang pun yang sanggup mencegah apalagi menghalangi. Keributan antar penonton, penonton dengan pemain, antar pemain, pemain dengan wasit, serta pemain dan penonton dengan aparat keamanan menjadi kasus yang sangat biasa kita dengar.

____________________________________________________

Begitu juga dengan hal lain seperti rubuhnya tembok pembatas stadion, ambruknya tribun, serta banyak korban akibat gas air mata petugas bukan menjadi hal yang baru. Sejarah memang selalu terulang menurut orang bijak. Tapi jika yang terulang adalah sejarah kelam, tentu bukah menjadi hal yang membuat hati bahagia. Kadang saya sebagai penikmat sepakbola pun melihat ini sebagai sebuah ironi besar yang belum juga mendapatkan cara bagaimana mengatasinya.

Jika ingin melihat kembali ke belakang, banyak peristi kelam yang memakan korban dan terjadi saat pertandingan sepakbola yang penulis coba kutip dari berbagai sumber. Misalnya:

  • Mei 1985: 39 orang meninggal saat tembok pemisah runtuh pada pertandingan antara Liverpool dan Juventus di Stadion Heysel, Brussels, Belgia. Ini merupakan laga final Liga Champions Eropa yang dimenangi Juventus 1-0, berkat gol penalti Michel Platini.
  • Maret 1988: 93 orang meninggal karena terinjak-injak setelah menyelamatkan diri dari badai es di Stadion Kathmandu, Nepal.
  • April 1989: 96 orang meninggal menyusul pertandingan antara Liverpool dan Nottingham di Sheffield, Inggris.
  • Januari 1991: Paling tidak 40 orang meninggal dalam insiden terinjak-injak pada pertandingan persahabatan di Orkney, Afrika Selatan.
  • Oktober 1996: Sekitar 80 orang meninggal dalam insiden pertandingan kualifikasi Piala Dunia antara Guatemala dan Kosta Rika.
  • April 2001: Lebih dari 40 orang meninggal di Stadion Ellis Park, Johannesburg, Afrika Selatan karena kondisi yang terlalu penuh.
  • Mei 2001: 127 orang meninggal setelah polisi di Ghana melepaskan tembakan ke arah massa setelah kerusuhan dalam pertandingan antara klub Hearts of Oak dan Assante Kotoko di Stadion Accra.

Masih banyak lagi peristiwa kelam yang terjadi di sepakbola. Banyak jatuh korban dan banyak orang yang kehilangan karenanya. Semua bagai sebuah lingkaran setan yang akan terus berhubungan. Kadang, banyak sisi historis yang menjadi alasan sebuah pertikaian. Ini tentu menjadi hal yang sangat disayangkan…

Menikmati sepakbola sebenarnya hanya sebuah peristiwa hiburan yang tidak perlu melibatkan emosi. Ketika ketika menikmati permainan, ketegangan, perasaan cemas, dan grogi kadang menghampiri. Apalagi saat nonton bareng bersama suporter tim lain. Namun selesai pertandingan, apapun hasilnya, kebesaran hati harus menjadi syarat utama. Kelegaan menerim kekalahan, kebahagiaan atas suguhan permainan yang indah walau hasil tidak sesuai, dan nilai sportivitas harus selalu dijaga. Jadi setelah permainan sepakbola tidak akan ada lagi peristiwa tambahan seperti keributan hingga ke pengerusakan fasilitas umum.

Semoga sebagai penonton sepakbola kita semkin menjadi dewasa…