Tahun Baru Imlek. Hari istimewa ini akan selalu dinantikan dan dirayakan oleh seluruh masyarakat Tonghoa dan jutaan keturunanya di seluruh dunia. Imlek identik dengan perayaan dan ucapan syukur, seperti yang berlaku dalam perayaan tahun baru masehi yang dirayakan di seluruh dunia. Tradisi Imlek sangat mengakar, dan tradisinya tetap dipelihara di tiap keturunan.

Ada banyak hal yang identik dengan Imlek. Dari benda-benda yang berhubungan dengan Imlek maupun kegiatan yang dilakukankaitannya dengan Imlek. Keterangan di bawah ini gue sadur dari Kompas.com.

Hal pertama yang identik dengan Imlek adalah Angpao. Secara harafiah, ang pao berarti amplop yang berwarna merah. Ang pao telah menjadi salah satu simbol Tahun Baru Imlek. Pada hari raya ini, ada tradisi bahwa seseorang yang telah menikah memberikan ang pao yang berisi uang kepada orang yang lebih muda dan belum menikah. Soal jumlah, hal ini tergantung pada kemampuan dan kerelaan dari sang pemberi.

_______________________________________________________

Lantas, apa makna ang pao? Budayawan Budi Santosa Tanuwibawa mengatakan, ang pao memiliki makna filosofi transfer kesejahteraan atau energi. “Transfer kesejahteraan dari orang mampu ke tidak mampu, dari orangtua ke anak-anak, dari anak-anak yang sudah menikah ke orangtua,” ujar Budi.

Menurutnya, tradisi memberi ang pao telah berlangsung sejak lama. Tradisi ini diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya tanpa putus. Tradisi Tionghoa juga mengenal pemberian ang pao yang diberikan tujuh hari menjelang Imlek. Budi menyebut hal ini sebagai Hari Persaudaraan.

“Ini mewajibkan orang yang merayakan Tahun Baru Imlek untuk membantu sesama yang tak mampu merayakannya,” kata Budi.

Tradisi lainnya yang menonjol adalah sembahyang leluhur. Sebelum Imlek, para warga Tionghoa umumnya turut bahu-membahu membersihkan makam para leluhurnya. Tak hanya itu, pada hari pertama Imlek, para warga Tionghoa melakukan sembahyang untuk para leluhur.

Pada ritual sembahyang, mereka menyajikan makanan, minuman, dan buah di altar almarhum dan almarhumah. Budi mengatakan, sembahyang leluhur bukanlah tradisi tanpa makna. “Ini menunjukkan bakti kepada orangtua, yang tidak hanya merawat dan menjaganya hingga meninggal, tetapi juga setelah meninggal. Ini mengingatkan bahwa kita berada di dunia ini tidak semata-mata karena Tuhan, tetapi juga orangtua,” ujarnya.

Terkait tradisi santap kue lapis, jeruk, kue keranjang, ikan bandeng, tokoh Konghucu ini menilai hal ini tak lain hasil interaksi budaya China dengan masyarakat lokal. Kue keranjang atau nian gao disebut-sebut berkaitan dengan harapan agar rezeki selama satu tahun mendatang manis.

Nian sendiri berarti tahun dan gao berarti kue yang juga terdengar seperti kata tinggi. Oleh karena itu, kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat. Makin ke atas, makin mengecil kue itu, memberikan makna peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran. Pada zaman dahulu, banyaknya atau tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah.

“Kue keranjang itu artinya agar tiap tahun mencapai prestasi yang bertambah tinggi, setiap tahun ada peningkatan. Ini biasanya bagi mereka yang memiliki bisnis,” kata Yu Ie, seorang pengurus Klenteng Petak Sembilan di Glodok, Jakarta.

Adapun ikan bandeng dihubungkan sebagai perlambang rezeki karena dalam logat Mandarin, kata ‘ikan’ sama bunyinya dengan kata ‘yu’ yang berarti rezeki. “Bandeng itu ikan. Artinya, tiap tahun ada lebihnya uang atau rezeki,” ujar Yu Ie.

Buah-buahan yang wajib yang sudah pasti ada adalah pisang raja atau pisang emas yang melambangkan emas atau kemakmuran atau keuntungan yang besar. Begitu juga dengan jeruk kuning dan diusahakan yang ada daunnya. Ini juga melambangkan kemakmuran yang akan selalu tumbuh terus. “Ini supaya ada keuntungan yang besar dan terus-menerus,” jelas Yu Ie.

Selain itu, atraksi barongsai juga turut menyemarakkan Imlek. Budi mengatakan, atraksi barongsai terinspirasi dari Kilin, makhluk suci bagi umat Konghucu. Rupanya menyerupai naga, memiliki kulit bersisik, dan bertanduk satu. Kilin muncul ketika Nabi Konghucu lahir dan wafat.

Menurut cerita-cerita rakyat yang populer di China, atraksi barongsai ini bertujuan untuk mengusir roh jahat yang datang di awal tahun. Imlek juga tak lengkap tanpa kehadiran bunga sedap malam di altar leluhur. Hal ini, kata Budi, bertujuan untuk mengingatkan kita agar terus tertekad berlaku baik dan harum bak bunga sedap malam.

Mungkin masih banyak lagi hal yang berkaitan dengan perayaan tahun baru Imlek. Dan luar biasanya, perayaan Imlek tidak lah meriah dengan perayaan tahun baru masehi.

……………………………….

Jam menunjukkan pukul satu siang. Sahabat gue, Dicky, sedang berkunjung ke rumah. Dia gue kenal semenjak gue kerja di sebuah perusahaan swasta di Tangerang. Dan sampai sekarang, walau kita udeh berganti2 perusahaan, kita berdua tetap akrab. Dicky Wijaya, nama lengkapnya, adalah seorang keturunan Tionghoa.

Kita berdua memeluk iman Katolik. Dan sejauh yang gue tahu, Katolik memberi ‘kebebasan’ untuk merayakan Imlek sebagai sebuah tradisi, asal tidak menyinggung dan berlawanan dengan tradisi Gereja. Nah, saat itu ketika ngobrol sambil menikmati kopi susu hangat di rumah gue, tiba-tiba terlontar ucapan dari Dicky, “Duh, gue sebel nih kalo mau deket Imlek…” Nah loh? Gue kaget dong… Secara kan dia seorang keturunan Tionghoa. Pastinya Imlek jadi momen yang membahagiakan… Gue masih heran beberapa saat…

Sahabat gue itu lalu melanjutkan, ” Gue sebel banget kalo mau deket Imlek, selalu aja keluarga gue pada sibuk bersiap untuk mempersiapkan acara nanti. Ada yang ke salon, ada yang mempersiapkan soal makanan, sampe ada yang mewanti-wanti kalo saat Imlek nanti semua anggota keluarga harus berkumpul untuk merayakannya bersama-sama.” Gue masih serius mendengarkan dia.

“Padahal, kalo Natal, nggak ada tuh yang namanya antusiasme seperti Imlek. Persiapan menyambut Natal berjalan biasa aja. Kue memang ada, tapi nggak sebanyak di Imlek. Acara ngumpul keluarga juga ada, tapi nggak semua harus berkumpul. Yang bisa aja yang pada ngumpul. Trus soal berdoa, yah paling juga dilakukan di gereja aja. Nggak ada ritual tambahan di rumah, sebagai bentuk ucapan syukur atau apalah….” Sahabat gue itu lalu melanjutkan. Gue masih terdiam tapi sambil sedikit tersenyum.

“Gue tahu sih, Imlek itu tradisi. Tapi masak merayakan tradisi jauh lebih heboh dari perayaan agama?” akhirnya Dicky menutup celotehannya sambial tetap cemberut. Gue pun tertawa lepas, melihat tingkahnya. Jujur, spontan, dan cukup masuk akal. Tapi di sisi lain, gue juga gak begitu paham banget soal tradisi Imlek dan kaitannya dengan hubungan antara agama dan tradisi.

Yang bisa gue tangkap dari obrolan itu mungkin begini; sahabat gue itu memiliki kerinduan untuk bisa merayakan hari besar agama dangan hari raya yang bersifat tradisi secara sama meriahnya. Secara praktis, mungkin ada banyak kesamaan maksud dan muatan pesan yang terkandung baik itu perayaan Natal atau Imlek. Tapi secara ideologis, 2 perayaan ini jelas berbeda. Apalagi jika tradisi yang ada di kedua moment ini saling bertentangan dengan nilai yang dianut dari masing-masing area; agama dan tradisi. Ini jelas akan menimbulkan banyak perbedaan persepsi di banyak pribadi. Syukur-syukur bisa dibawa dalam sebuah percakapan yang terbuka. Tapi kalo enggak?

Natal dan Imlek memang dua momen penting. Tapi kadar nilai dan muatan jelas berbeda. Tidak salah untuk merayakan keduanya selama kita bisa membedakan makna keduanya secara bijaksana. Gue sih memang nggak paham banget soal teori kebudayaan yang terkait di dalamnya. Gue hanya menulis sejauh yang gue tahu aja. Selanjutnya biar rekan-rekan semua deh yang memiliki persepsi. Tapi inget, walau berbeda persepsi, bukan alasan buat nggak damai ya…. Piss yo….

Selamat Tahun Baru Imlek 2563.

Gong Xi Fa Cai! Tuhan memberkati…