Dalam satu musim kompetisi tiap tahunnya, terdapat sebuah periode dimana setiap musim terbagi menjadi dua bagian rentang waktu. Masing-masing periode berjalan selama kurang lebih 6 bulan. Dari bulan September hingga Januari, dan dari Januari hingga bulan Mei atau Juni di tahun berikutnya.

Tingkat kematangan dan konsistensi sebuah klub benar-benar teruji. Karena selain bermain di Liga Domestik yang berjumlah kurang lebih 35 pertandingan, setiap klub juga harus menjalani kompetisi lain seperti Piala Liga, serta ajang Piala Champions atau UEFA (jika di akhir musim kompetisi sebelumnya mengakhiri di posisi yang menjadi ‘jatah’ resmi untuk mengikuti kejuaraan antar klub yang berlangsung di Eropa).

Liverpool misalnya. Selain harus menjalani 38 partai di Premier League, mereka juga harus mengikuti FA Cup dan Piala Liga serta kejuaraan Eropa di Liga Champions. Totalnya jika mereka masuk pada partai Final di semua kompetisi, maka setiap pemain di klub tersebut berpeluang untuk main dalam 50 sampai 60 pertandingan. Belum lagi pada awal kompetisi berikutnya. Mereka akan dipertemukan dengan antar juara seperti pada Piala Super Domestik, Piala Charity Shield, Piala super Eropa, hingga ke kejuaraan antar klub dunia. Belum lagi jika ada partai ujicoba antar klub. Sepanjang tahun akan menjadi waktu yang sangat melelahkan. Bagi bagi para pengurus klub, pelatih, pemain maupun pencinta sepakbola.

Karena itulah, kadang masalah konsistensi menjadi batu sandungan bagi banyak klub. Kondisi cedera, performa yang naik turun, masalah persaingan yang menguras pikiran dan uang, hingga ke masalah politik yang seringkali terbawa hingga ke dalam dunia sepakbola.

Karena itu, di bulan Januari saat ini dikenal sebuah periode , dimana pada waktu itu akan dibuka kembali jendela transfer tengah musim, yang bisa dimanfaatkan untuk menambah atau menjual pemain, agar di sisa setengah musim kompetisi bisa menjadi lebih baik dan syukur-syukur bisa berbuah prestasi.

Kabijakan transfer pemain pada Januari kadang menjadi kunci. Keberhasilan transfer pemain bisa berbuah manis dari segi prestasi. Dan ketika strategi kurang efektif dilakukan pada bulan Januari, maka kemungkinan di periode musim kedua, sebuah klub akan makin terpuruk dari segi prestasi.

Pada Januari, performa dan kontribusi pemain juga akan dinilai. Jika ia mampu menyesuaikan diri dan mampu berkontibusi maksimal, maka peluang pemain yang bersangkutan untuk tetap bermain hingga musim selesai cukup terbuka lebar. Sebaliknya, jika dalam waktu 6 bulan pertama pemain dianggap gagal memberi kontribusi, maka tidak menutup kemungkina ia akan dilego di tengah musim.

Selain karena masalah kebutuhan teknis, perubahan yang terjadi di susunan pemain pada bulan Januari juga tidak terlepas dari sisi keuagan/finansial sebuah klub. Jika si pemain sangat bagus dalam bermain, namun klub tidak sanggup membayar gaji yang diminta pemain, maka tidak akan terjadi kepemilikan jangka panjang. Masalah pribadi pemain juga sering menjadi alasan utama. Masalah keluarga, tidak betah dengan budaya setempat, serta perlilaku pemain di luar lapangan yang tidak baik juga bisa membuat pemain akan dijual pada bulan Februari.

Karena itu, pada masa Desember hingga Januari menjadi saat paling mendebarkan bagi semua pecinta sepakbola dan pecinta klub pada khususnya. Mereka berharap dengan adanya perubahan baik dari kebijakan manajemen klub, maupun komposisi pemain, bisa menjadi sebuah garis Start baru yang akan membawa banyak hal positif di tahun depan.

Banyak kasus yang terjadi baik itu keberhasilan maupun kegagalan yang bersumber pada perubahan yang terjadi pada bulan Desember – Januari. Semua komponen mau tidak mau harus menyesuaikan diri. Karena perjalanan baru berjalan setengah, dan masih ada separuh sisa waktu kompetisi yang harus dijalani dengan semangat tinggi.

Keluar masuknya pemain, perubahan nilai gaji dan bonus pemain, hingga ke masalah umum dalam manajemen sepakbola menjadi tolak ukur untuk menghasilkan warna baru dalam sepakbola. Dan bagi suporter sepakbola, tidak ada alasan untuk berhenti mendukung tim, karena banyaknya perubahan yang terjadi. Ini bukan soal kesetiaan lagi, tapi menyangkut ke ranah profesionalisme dan kecintaan yang tulus pada sebuah klub.

Dan perubahan yang terjadi akan menjadi warna baru. Dimana ketika di akhir musim klub bisa menunjukkan hasil maksimal baik dalam prestasi maupun keuntungan finansial, itu menjadi ssebuah akhir proses perjalanan selama setahun yang patut disyukuri sekaligus menjadi bahan pembelajaran yang baik untuk melangkah di musim berikutnya.

Mencintai sepakbola memang tidak mudah. Karena dibutuhkan juga sportivitas, kesadaran, kemauan, dan totalitas. Dan ketika di akhir musim lemari gelar klub yang kiota cinta menambah koleksinya, maka kita semua sebagai penikmat dan pelaku sepakbola akan memiliki kebahagiaan dan kepuasan. Sebaliknya, jika di akhir musim pencapaian klub tidak memenuhi harapan, maka ini juga bisa menjadi bahan refleksi bagi para jajaran manajemen sebuah klub dan imbasnya kadang juga dirasakan oleh supporter.

Lalu dimana posisi Anda sekarang dalam melihat sebuah sudut pandang di dunia sepakbola? Masihkah kita tetap bisa menjaga nila-nilai sportifitas dalam dunia olahraga? Suporter yang baik dan setia pasti tahu jawabnya.