Malam sudah menunjukkan hampir jam 11 malam. Suasana makin riuh. Di sebuah tempat makan di daerah Lippo Karawaci malam itu ramai karena ada acara nonton bareng pertandingan Liga Italia anata Inter Milan versus AS Roma. Sekitar 200an penonton bertepuk tangan, bernyanyi, meneriakkan yel-yel sambil menikmati makanan dan minuman yang tersedia.

Gue hadir malam itu karena memang gue suka sepakbola dan Inter Milan. Ditambah lagi gue tergabung menjadi anggota dari Inter Club Indonesia (ICI) Regional Tangerang Raya. Karenanya walau sering terbentur dengan kesibukan, gue kadang hadir di acara nonton bareng yang diadakan oleh klub penggemar Inter ini.

HTM cukup murah; 7000 perak. Itu sudah termasuk minuman. Kalo mau makan ya pesan sendiri, karena tempat makan itu juga menawarkan aneka ragam jenis makanan dan minuman. Semua peserta nonton bareng juga sangat kompak dan berbaur dengan semangat yang luar biasa. Selain kita semua menggunakan atribut Inter seperti jersey, syal, atau topi, kita semua juga punya rasa kebersamaan yang kuat, karena kita semua memiliki satu kesaman: cinta dengan Inter Milan. Sekedar catatan, di Indonesia, grup penggemar seperti ICI sudah banyak terdapat di seluruh wilayah tanah air. Semua melabeli grup dengan sebutan ‘Regional’. Dan, hebatnya lagi, ICI sudah diakui langsung oleh Internazionale Milano sebagai klub penggemar resmi. Langsung dapet lisensi dari Italia loh…

______________________________________________________

Beberapa tahun lalu, gue juga asyik menyusuri malam bersama 6 rekan. Gue berjalan dengan persaan senang, walau badan cape banget. Maklum malam itu gue baru aja pulang dari nonton konser Slank di sebuah hall di bilangan Blok M. Gue bahagia karena gue udah bisa nonton Slank bareng ribuan Slankers (penggemar Slank) yang datang dari penjuru Jabotabek.

Semenjak SMA gue emang suka Slank. Awalnya memang gue suka saat album Generasi Biru diluncurkan. Tapi hingga saat ini Slank seudah menelurkan hampir belasan album, gue selalu memiliki dan mengkoleksi. Konser malam itu hadir dengan meriah. Nggak hanya cowo, tapi banyak penonton cewe yang hadir menonton. Semua larut dalam nyanyian bersama, antusiasme, dan kegairahan dalam menikmati alunan musik yang dimainkan Slank.

Harga tiket konser ndak terlalu mahal juga. Sekitar 50.000 waktu itu. Tapi sebagai seorang Slanker, hal ini nggak terlalu jadi soal. Setelah menyiapkan diri bersama teman sejak siang hari, akhirnya kita bersama berangkat menuju tempat konser. Semua dengan tujuan sama: menikmati musik dari band favorit dan bisa berbagi kebahagiaan bersama.

Menyukai musik ataupun olahraga memang hal yang lumrah. Menjadi penggemar yang fanatik juga masuk kategori yang sah-sah aja. Makanya gue sedari kecil udah tergabung sama klub atau komunitas tertentu. Dari Sustagen Club (Penikmat Susu Sustagen HP), Slankers (Penggemar Slank), Inter Club Indonesia (Penggemar Internazionale Milano), Benteng Mania (Pecinta Persikota Tangerang), sampai ke klub atau komunitas yang identik sama dunia belanja, dunia baca dan hobi lainnya.

Gue memang bisa menemukan banyak kebahagiaan jika menjadi anggota Fans Club atau komunitas yang ada. Tapi, gue nggak ikutan dengan hal yang merugikan loh ya. Misalnya tawuran ataupun berbuat onar. Gue hadir sebagai pecinta dan bukan perusak karena fanatisme sempit. Dan jika bertemu dengan sesama member, maka hanya kebersamaan dan keceriaan yang hadir. Nggak ada hal negatif yang terjadi, walau kita sering melihat atau mendengar kalau pertandingan sepakbola ataupun pertunjukan konser sangat rawan keributan dan gesekan.

Di sisi lain, menjadi anggota sebuah klub penggemar tidak hanya sebagai bukti kesetiaan, tapi juga bisa menjadi bukti eksistensi. Kok bisa ya? ya iyalah. Dengan memakai atribut dan sungguh memahami dan kenal dengan klub Inter ataupun grup Slank, orang di sekitar jadi tahu kalo gue Interisti ataupun Slankers. Emang semuanya berawal bukan dari niat pamer, tapi itu semua adalah bukti kecintaan. So, faktor eksistensi itu jadi faktor kesekian buat gue. Walau gue nggak pake jersey Inter, semua orang tetep tahu kalo gue seorang Interisti. Begitu juga walau gue nggak pake T-Shirt bergambar Slank, semua orang juga tahu kalo gue Slankers seusai kita ngobrol banyak dan membahas soal lagu-lagu Slank.

Yang jauh lebih penting, komunitas semacam ini bukan sekadar menyatukan kesukaan dan hobi yang sama. Tapi kita juga rutin mengadakan kegiatan yang berkaitan dengan apapun. Nggak melulu soal musik dan sepakbola. Selain acara nonton bareng dan nonton konser bareng, ada banyak kegiatan lain seperti kegiatan olahraga, main musik bareng, sampe ke kegiatan seperi donor darah dan kunjungan sosial ke rumah sakit.

Jadi menjadi penikmat musik atau olahraga bukan hal yang aneh. Menjadi anggota klub atau komunitas pun juga gak jadi masalah. Asal, hati dan niat tetap dijaga biar tetep bersih dan menjunjung tinggi sportifitas dan kedewasaan. Semua bisa disalurkan dengan banyak hal pokoknya. Dari berbagai cara juga, baik lewat web, milis, facebook, hingga acara yang berlangsung di berbagai daerah.

Sampai saat ini pun, gue masih Slankers. Dan gue juga tetep seorang Interisti sejati. Semua tetap memberi warna dan pengaruh positif buat gue. Baik lewat prestasi, lewat karya musik, atau lewat apapun. Dan sedikitpun gue nggak pernah menyesal ataupun merasa rugi menjadi seorang penggemar berat. Karena sekali lagi, yang gue jalanin tetap yang asik-asik aja. Nggak perlu ribut dan menggunakan kekerasan intinya. Slank dan Inter tetep ‘asik’, kenapa kita nggak?

So, yuk mari dengerin album Kampungan dari Slank, sambil prepare buat nobar nanti malam bersama anak-anak ICI…

Forza Inter dan Slank!