Say no to piracy! Slogan yang selalu terdengar lantang dan disuarakan hampir di seluruh dunia. Banyak yang setuju, banyak juga yang tidak mengamini. Begitu juga gue. Satu sisi gue nggak setuju sepenuhnya dengan DVD Film atu musik bajakan. Tapi di sisi lain gue nggak bisa dan nggak mau memungkiri kalo gue menikmati banyak karya bagus lewat kepingan DVD bajakan. Dan gue bahkan melakukan koleksi banyak film dan musik bagus versi bajakan.

Semua ini salah nggak sih? Pastinya iya kalo mau ngomongin hukum dan aturan hak cipta yang berlaku. Lalu kenapa proses pembajakan masih terus berlangsung dan penjualannya masih sangat bebas di Indonesia? Bukan hanya DVD film, tapi juga CD MP3, CD Audio, sampe ke CD yang berisi program edukasi atau program lainnya. Bahkan fakta bahwa Indonesia masuk urutan teratas di dunia soal pembajakan belum ada perubahan datanya dari tahun ke tahun. Bahkan persentasi dan jenisnya makin meningkat.

Jadi apa gue ikut andil dalam hal ini? Pastinya. Karena gue setia mengkonsumsi media bajakan; khusunya film dan musik. Okelah, gue tahu ini melanggar hukum. Dan gue melakukan ini semua tidak dengan alasan ikut-ikutan apalagi dengan alasan nggak tahu. Gue udah ngerti soal peraturan dan larangan. Tapi kenapa gue masih ‘setia’ menikmati media bajakan baik film maupun musik?

______________________________________________

Walaupn cenderung subyektif, gue akan menggambarkan alasan gue kenapa masih mengkonsumsi media bajakan baik film (terutama) dan musik.

Yang pertama, soal harga. Dengan bermodal 5000 sampe 7000 perak, gue udah bisa memiliki DVD bajakan. Bahkan di beberapa lokasi penjualan, dengan pembelian 10 keping, maka gue bisa dapet gratis 1 keping. So, berarti harga udah pasti sangat murah. Bandingkan dengan harga DVD Original yang ditawarkan dengan kisaran harga 50.000-350.000 per keping.

Yang kedua, pilihan judul dan jenis materi yang super lengkap, bahkan dibandingkan dengan megastore DVD original sekalipun. Karena itu, kenapa gue akhirnya memulai untuk mengkoleksi judul-judul yang menurut gue oke dari berbagai genre dan dari berbagai masa. Dari Film yang berjudul legendaris seperti Ben Hur, E.T, The Godfather, Sleepless in Seatle, sampe ke film yang masuk kategori the best movie seperti Kingdom of Heaven, Ghost, Independence Day, Alien, My Best Friend’s Wedding, the Deer Hunter, dan lainnya semua gue punya dan nikmati. Begitu juga ragam artis seperti Michael Jakson, U2, Bob Marley, David Benoit, Four Play, Mettalica, dan banyak penyanyi atau grup musik juga gue punya. Total judul film dan musik bajakan yang gue punya hampir mencapai 350-an judul. Dan itu dari berbagai genre seperti, drama, hostorical, comedy, romance, epic, action, documentary, sampe ke thriller dan horror. Kalo dari musik ada yang pop, classic, rock, reagee, hingga ke jazz. Dangduj aja yang nggakšŸ™‚

Yang ketiga adalah sumber inspirasi yang nggak ada habisnya. Dengan menikmati dan menyimpan koleksi ratusan judul film dan musik yang bisa gue nikmati sewaktu-waktu, bukan hanya menjadi media hiburan, tapi juga jadi sumber inspirasi akan hidup mengenai tema apapun. Dan gue emang tipe orang yang suka terkesan dengan cerita-cerita bagus dalam film dan musik bagus. Kadang gue terinspirasi bahkan sampe jadi acuan bagaimana gue bersikap dan memiliki pola pikir. Terobsesi? Nggak juga. Gue hanya sering terkesan dan ingin berbuat dan berpikir dengan cara yang sama seperti yang dituangkan dalam banyak kisah di film atau lewat musik yang bagus. Ini bukan soal yang identik dengan kekerasan, ke-sok tahuan, kebencian apalagi tindakan kriminal loh ya. Tapi lebih ke sisi manusiawi bagaimana gue harus bersikap dengan sabar, bijaksana, toleran dan menghargai cinta dalam hidup yang dihadirkanĀ  lewat banyak film dan musik yang gue pernah nikmati.

Yang keempat, karena gue mencintai banyak karya seni. Baik itu lukisa, hasil foto, desain, karya arsitektur hingga ke musik dan film. Memang kadang ini soal selera, dan nggak ada acuan benar dan salah. Semua orang pasti punya selera yang berbeda. Dan bagi gue, ini bukan jadi masalah jika ada perbedaan dan ketidakcocokan antara gue dan banyak penikmat seni lainnya. Selama gue dan orang lain memiliki pendapat dan selera beragam, asal bisa membuat hidup makin senang, bagi gue bukan masalah.

Yang kelima risiko penggunaan yang relatif kecil. Gue nggak perlu khawatir DVD film atau musik yang gue miliki rusak atau hilang. Karena ya memang belinya murah dan gampang dicari dimanapun. Dari lapak pinggir jalan hingga ke mall bintang 5 istilahnya… So, jika ada yang hilang atau rusak dari koleksi film dan musik gue, tinggal besok atau kapan mampir ke mall, pulangnya dari sana gue udah dapat DVD yang sama sebagai gantinya.

Nggak adil kalo gue nulis banyak hal yang gue setuju aja. Ada banyak faktor negatif yang juga berkaitan dengan kebiasaan membeli produk DVD Film dan musik bajakan.

Yang pertama adalah soal legal, hukum dan aturan. Dilihat dari sisi manapun, kebiasaan ini jelas melanggar hukum. Baik secara aturan yang ada hingga ke soal etika. Ada banyak pihak yang dirugikan dalam hal ini. Pemerintah sebagai pusatnya aturan, para pembuat film dan pengarang lagu serta penyanyi, perusahaan film dan rekaman dan berbagai perusahaan lain seperti distributor dan pengusaha toko yang hanya menjual produk original, hingga ke banyak pihak yang berkepentingan. Kalo dari soal etika, siapa sih para pembuat film atau pengarang lagu yang suka karyanya diperbanyak secara ilegal dan disebarluaskan, walau secara nggak langsung banyak juga yang akan menikmati karya mereka?

Yang kedua adalah faktor ekonomi. Walau murah harganya, justru ini yang jadi masalah baru. Gue sering membeli DVD film atau musik bajakan dalam jumlah besar. Selain untuk koleksi dan dinikmati, juga untuk jaga-jaga seandainya suatu saat gue susah mencari barang dengan judul yang sama. Aneh ya… walau murah tetep aja mikir risiko ke depan, hehehe… Secara otomatis pengeluaran gue justru makin besar dalam hal ini. Dibandingkan dengan membeli DVD original 2 atau 3 keping perbulan, ditambah biaya nonton di bioskop 2 kali sebulan, jumlah pengeluaran gue untuk membeli DVD bajakan akan lebih besar lagi, meskipun harga satuannya tergolong murah.

Yang ketiga, adalah soal attitude dan etika. Secara gak langsung gue udah mencontohkan bagaimana berbuat yang gak halal, walau bagi gue banyak manfaatnya. Walau banyak kesalahan dan kekurangan, gue akan tetap punya alasan dan penjelasan yang gak masuk akal. Apalagi jika gue sampai memberi saran ke banyak orang seperti rekan dan teman sekantor. Kebiasaan ini bukan makin berkurang malah makin bertambah kadarnya kan?

Well, mungkin masih banyak faktor lainnya yang gak sempet gue tuangkan di catatan gue kali ini. Gue hanya ingin sharing dan bertutur apa yang ada di otak gue. Bagi orang lain, tentu memiliki versi dan pendapat yang berbeda.

So, the point is… dengan pemaparan gue di atas, baik gue pribadi maupun orang yang membaca catatan gue ini, apakah bisa menerima, mengerti dan bisa menarik kesimpulan? Gue nggak berhak menilai kalo soal urusan orang lain. Tapi bagi gue pribadi, gue bisa melihatnya dengan proporsi yang seimbang dan sesuai isi hati. Dan bagaimana tindakan gue selanjutnya, gue belum bisa menentukan. Bukan takut dibilang nggak konsisten, atau dibilang cuma bisa ngomong dan nulis doang. Tapi jauh lebih dalam dan penting, gue akan berusaha melakukan banyak hal dalam cara, tujuan dan porposi yang tepat. Syukur-syukur gue masih bisa melakukan banyak kesenangan dalam hidup tanpa harus melanggar hukum dan tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam juga, hehehe…

Semoga…