Saat ini sepakbola sudah mendunia, bahkan menjadi topik bahasan yang menyita waktu banyak media, banyak pribadi maupun kelompok. Sepakbola merupakan sebuah permainan biasa yang dalam perkembangannya menjadi sebuah gaya hidup, kultur, sikap, ideologi hingga ke arah fanatisme layaknya sebuah agama.

Sepakbola memang tidak pernah lepas dari sejarah, baik itu peristiwa yang membahagiakan di masa lampau, peristiwa sejarah, politik, hingga ke pertumpahan darah yang semuanya secara ironi melandasi filosofi kecintaan akan permainan yang melibatkan 22 orang di lapangan ini.

Walau saat ini sepakbola sudah menjadi konsumsi global dan tiada lagi batas yang menghalangi sebagai sebuah bentuk kebudayaan, namun tidak dipungkiri, aroma sejarah selalu menjadi nafas tersendiri yang dibawa serta olef para pelaku sepakbola baik pengurus klub maupun pencinta sepakbola. Jika efek yang ditimbulkan positif, ini tentu tidak menjadi masalah. Tapi sebaliknya, jika kebencian tetap tumbuh di hati para tifosi pada tim maupun pendukung yang berseberangan, ini akan menjadi masalah yang tidak akan ada solusi pemecahannya.

Sepakbola yang seharusnya bisa menjadi kegiatan dimana persaudaraan, kegembiraan, sportifitas, kemeriahan, dan membuat hidup lebih hidup, mulai dicemari dengan aksi permusuhan yang mendarah daging, baik lewat provokasi, intimidasi, kebenciaan hingga ke tindakan kekerasan sampai pembunuhan yang dilakukan oleh para pendukung ‘garis keras’ dari setiap klub maupun tim nasional.

Istilah ‘garis keras’ sendiri ingin menggambarkan sebuah paham pemikiran dan tindakan suporter yang keras dan tidak bisa dihalangi oleh aturan maupun hukum dalam mempertahankan kecintaannya kepada tim sepakbola pujaan. Garis keras juga bisa berarti bahwa apa yang sudah menjadi paham pemikiran menjadi hal yang ‘kaku’ dan tidak bisa dibuat melenceng seperti coretan yang dinamis.

Berdasarkan catatan sejarah, ada banyak peristiwa ideologi dalam sepakbola yang menjadi lembaran hitam sejarah bahkan bertahan hingga saat ini, dan malah menjadi ‘budaya’ baru dalam kehidupan. Contohnya adalah sebagai berikut:

  • Permusuhan yang abadi antara dua klus sepakbola Skotlandia, yaitu Glasgow Celtic dan Glasgow Rangers. Pertikaian kedua klub sekota ini, karena atas dasar latar belakang sejarah dan agama. Glasgo Celtics, berbasis pendukung yang berasal dari keturunan Irlandia, dimana hampir semuanya beragama Katolik. Sedangkan Glasgow Rangers, merupakan klub yang cenderung lebih berwarna Inggris, dan mayoritas pendukungnya beragama Kristen Protestan.
  • Perselisihan klus Partizan dan Red Star Beograd. Dua klub asal Serbia ini, memiliki akar kebencian yang kuat, dimana setiap pertandingan yang mempertemukan keduanya selalu menjadi ajang ‘pertempran jalanan’ antar suporter, hingga menimbulkam banyak korban baik luka-luka maupun korban jiwa.
  • Kebencian pada Yahudi. Filosofi ini terus ditumbuh kembangkan pada sebagian klub sepakbola yang diidentikkan dengan ‘kumpulan orang Yahudi’. Beberapa diantaranya adalah, Bayern Munich, Austria Wien, AS Roma, Totenham Hotspur dan Ajax Amsterdam. Kebencian pendukung lawan, dilakukan dengan nyanyian yang meledek, hujatan, hingga ke serangan fisik. Klub yang menjadi musuh utama para klub di atas diantaranya: Borrusia Dortmund, Lazio, Chelsea dan Feyenord Rotterdam.
  • Perselihan yang berasal muasal pada kepentingan ekonomi di negara-naga dunia ketiga seperti Brasil. Pertikaian antar supoter muncul sebagian besar karena faktor ekonomi yang serba kekurangan, hingga akhirnya berujung pada kekerasan atas nama ideologi.
  • Kehadiran pemain kulit hitam di negara Eropa Timur seperti Ukraina. Kehadiran mereka menjadi hal yang ‘luar biasa aneh’ bagi penduduk setempat. Semangat rasialisme masih sangat kental, dan menganggap pemain kulit hitam berasal dari dunia yang tebelakang, walaupun seringkali mereka memiliki kemampuan dan tehnik sepakbola yang melebihi pemain lokal.
  • Ideologi kelas pekerja dan kelas ekonomi atas di kota Milan, juga menjadi semangat yang selalu dikobarkan dalam permusuhan dua seteru utama Klub yang ber-home base di stadion Giuseppe Meazza. Awal terbentuknya, AC Milan identik dengan golongan menengah ke atas sedangkan Internazionale Milano identik dengan kelas pekerja. Milan didirikan orang asli Italia sedangkan Inter didirikan 2 pria yang berasal dari Swiss dan Italia. Namun saat ini, penggemar kedua klub ini sudah sangat ‘kabur’, menyentuh banyak golongan, bahkan hingga ke dalam  satu keluarga, ada perbedaan kecintaan terhadap 2 klub ini.
  • Perseteruan Real Madrid dan Barcelona juga sarat dengan muatan Politis. Madrid, menjadi wakil pemerintahan utama Spanyol, sedangan Barcelona menjadi kebanggan masyarakan Catalan yang tidak pernah merasa menjadi orang Spanyol. Perselihan ideologi ini hadir dalam banyak peristiwa, seperti perebutan pemain, perebutan pelatih, dan dibawa ke ranah politik. Kadang saat partai yang mempertemukan kedua klub ini berlangsung, suporter Barcelona selalu memasang besar-besar Spanduk raksasa yang bertuliskan: ‘Catalan is not Spain’.
  • Masih banyak partai lain yang hadir ‘panas’ karena mempertaruhkan ideologi di antara klub maupun pendukungnya. Seperti permusuhan  abadi AS Roma vs Lazio di Italia, Manchester United vs Liverpool di Inggris, Marseille vs Paris st. Germain di Perancis, dan Persija Jakarta vs Persib Bandung di Indonesia.

Bagaimanapun, perbedaan ideologi memang menjadi warna dalam dunia sepakbola. Namun jika perbedaan ini memicu permusuhan, kebencian dan anarkisme, maka sepakbola berubah menjadi sebuah ajang pertempuran yang sesungguhnya yang menimbuklan banyak korban.

So, sebagai penikmat sepakbola, mari jadikan perbedaan ideologi dalam klub maupun negara menjadi sebuah warna-warni yang unik, dan membuat pertandingan sepakbola menjadi sebuah hiburan yang nyata, dan bukan sebaliknya, menjadi arena kekerasan.