Sebuah catatan harian istriku – 16 Oktober 2011

Kadang, kegundahan yang melanda sangat sulit untuk diusir. Cemas datang, dan perut mulas. Ada baiknya untuk dicatat namun tidak dimasukkan ke dalam buku catatan harian. Karena dalam setiap buku harian, aku harus berusaha mencatat seuatu yang membahagiakan, agar setiap kata manis yang terbaca selalu menjadikan aku untuk mengulangi dan melakukannya lagi…

Sering terbaca kata pahit yang menjadikan duka dan tidak bisa ku lupa. Kata manis dan pahit berpadu menjadi satu di dalam hidupku. Ada baiknya setia hal dalam hidup menjadi sebuah bahan permenungan dan ini bisa kulakukan dimana saja termasuk saat berdiam diri di kloset.

Ketika berada di kloset, aku tidak perlu takut jika ada orang lain mencoba membuka lambaran kisah sedih dalam hidupku, dan aku pun tak perlu membaca ulang semua kisahku di belakang yang tidak enak. Saat di kloset aku hanya tinggal berdiam, santai dan menumpahkan semuanya tanpa rasa malu.

Aku bisa menahan kepedihan, mengingat kenangan indah, tersenyum bahkan menangis, dan semuanya tanpa harus malu dilihat orang. Setelah semua usai, maka kloset pun aku siram, dan aku akan tinggalkan, sambil mempersiapkan diri untuk menyambut sisi kehidupan baru, layaknya makanan yang akan aku santap dan pasti rasanya akan berbeda dengan makanan yang aku santap kemarin.

Aku pun kembali tersenyum…🙂