Hari Rabu besok tanggal 31 Agustus 2011 umat muslim di Indonesia dan di seluruh dunia merayakan Idul Fitri. Peristiwa ini menjadi penting, karena saat Idul Fitri semua umat muslim merayakan kembalinya mereka ke fitrah, ke dalam kesucian. Dan salah satu ciri khas yang sudah menjadi tradisi dalam perayaan Idul Fitri adalah saling memafkan satu sama lain.

Soal memaafkan memang kelihatannya sederhana. Tapi jika dijalani, kadang seringkali menjadi sebuah perkara sulit walau tetap sederhana. Kita sering hidup bersama masa lalu yang kadang baik, tapi juga bisa pahit dan mengecewakan. Katika hal yang pahit itu disebabkan karena kesalahan orang lain dan kita yang menjadi korban, seringkali akan sangat sulit memaafkan orang yang bersangkutan. Terlepas besar kecil kesalah yang diperbuat orang lain terhadap kita. Lalu bagaimana cara yang paling mudah untuk memafkan?

Satu-satunya cara adalah dengan memiliki hati yang besar, dan tidak lagi hidup bersama masa lalu. Bahkan ketika kita berhasil dan bahagia, kita tidak boleh terus hidup dengan kenangan indah itu. Apalagi jika kita punya kenangan yang buruk di masa lalu, sudah saatnya kita melepaskan beban masa lalu agar kita bisa belajar memafkan dan membuat hidu menjadi lebih indah.

Sekali lagi, ini memang nggak gampang. Kita kadang merasa diperlakukan tidak adil dan merasa menjadi orang yang teraniaya walau sudah melakukan hal yang benar. Mungkin cara yang bisa menambah kekuatan untuk memafkan adalah untuk mencoba lebih memahami jika tidak semua orang sempurna, termasuk diri kita. Karenanya jika kita diperlakukan tidak adil dan merasa disudutkan, kita harus bisa melihatnya sebagai sebuah proses dalam sebuah perkembangan diri yang menuju ke arah pembentukan pribadi yang lebih matang.

Bisa saja, kita juga sempat melakukan hal yang kurang baik, sehingga orang lain bersikap sama kepada kita. Dan dengan kerendahan hati, ini bisa menjadi momen instropeksi diri yang positif agar ke depannya kita bisa mengurangi kejadian yang tidak menyenangkan ini.

Memaafkan memang sebuah proses yang juga butuh pembelajaran. Memafkan adalah sebuah hal yang bisa saja menyulitkan dan seringkali kita nggak tahu gimana cara yang paling baik. Karena itu, jangan pernah berhenti untuk berusaha belajar dan menjalani proses dengan penuh kerendahan hati. Jika pelan-pelan kita tetap berusaha, maka yakinlah, sebuah kelegaan besar akan kita rasakan, walaupun kita pada awalnya tetap merasa kalo kita ada di posisi yang benar.

Banyak kisah dari orang-orang besar yang mampu memafkan sesamanya yang berbuat tidak baik kepadanya. Paus Yohanes Paulus II salah satu contohnya. Ia pernah mengampuni seseorang yang menembaknya dan hampir membuatnya kehilangan nyawa. Begitu juga Mahatma Gandhi. Ia tetap sabar dan konsisten dengan kekuatan hati untuk memafkan. Hasilnya, sungguh luar biasa. Selain mampu memberikan pengaruh positif, ada banyak hal yang juga menginspirasi orang lain untuk berbuat kebaikan yang sama.

So, kembali lagi ke makna Idul Fitri, sudah saatnya kita berusaha untuk mencoba memafkan; bukan hanya sekedar di bibir, tapi bisa menyentuh hati yang yang paling dalam. Dengan begitu, kekuatan memaafkan akan sungguh bekerja dalam hati kita, dan secara tidak langsung, hidup kita pun akan semakin terberkati.

Selamat Idul Fitri semua rekan-rekan yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga kedamaian dari sebuah kekuatan memafkan selalu menyertai kita semua, amin…