Sepulang dari Jogja, gue menemukan banyak hal menarik. Salah satu diantaranya adalah mengenai apa yang bisa gue beli sebagai oleh-oleh alias cinderamata. Salah satunya adalah Dagadu.

Seperti dicantumkan pada website resmi Dagadu di http://www.dagadu.co.id, ada banyak hal menarik yang melatarbelakangi berdirinya sebuah perusahaan yang bergerak di bidang usaha cinderamata dimana usaha awalnya adalah berjualan kaos oblong yang kemudian berkembang juga ke barang-barang lain yang sangat menarik sebagai oleh-oleh khas Jogja.

Ini sebagian yang saya sadur dari website Dagadu mengenai latar belakang dan perjalanan usaha dari Dagadu. (Sebelumnya saya dengan rendah hati mohon ijin kepada pihak Dagadu untuk mencantumkan informasi ini dalam blog saya…)

_________________________

CINDERAMATA ALTERNATIF

Cara dagadu melihat dunia, melihat dunia lewat kacamata smart-smile-djokdja

Sejak awal kelahirannya, Dagadu Djokdja telah memposisikan diri sebagai produk cinderamata alternatif dari Djokdja dengan mengusung tema utama: Everything about Djokdja. Ya artefaknya, bahasanya, kultur kehidupannya, maupun remeh-temeh keseharian yang terjadi di dalamnya. Terminologi “alternatif” digunakan untuk membedakan produk Dagadu Djokdja dengan cinderamata lain dengan karakteristik : memberi bingkai estetika pada hal-hal keseharian yang dianggap sederhana dan remeh; mengungkapkan gagasan dengan gaya bermain-main yang mudah dipahami; memberi penekanan pada asfek keatraktifan melalui bentuk-bentuk sederhana yang mencolok; memilih citra craft atau kerajinan ketimbang fabrikan, baik melalui material yang digunakan maupun unsur-unsur desain dari pemilihan warna hingga finishing.

Mungkin kita bisa mendapat gambaran bagaimana dunia yang universal dan berskala internasional dilihat dan diformulasikan oleh wong jogja, yang notabene mencintai jogjanya. Sejumlah disain seperti Absolut Djokdja: Love Djokdja Absolutely (1997) dan East or West, Djokdja is the best (1996) memberi gambaran bahwa dagadu memandang jogja dengan mesra, bukan dengan tatapan tidak percaya diri. Namun sikap kritis tetap melekat, karena disain dagadu sebisa mungkin memuat pesan yang smart.

Dengan begitu, realitas jogja dimunculkan lewat pengadopsian tema-tema universal, atau setidaknya dekat dengan wacana internasional namun tetap ada unsur jogjanya. Gambaran tentang Jogja yang nginternasional juga dihadirkan kembali lewat visualisasi yang sudah dikenal luas. Bukankah kita sebelumnya pernah mengenal disain dari merk minuman Absolute Vodka? Dalam iklannya, visualisasi botol sangat kental sekali. Dalam Absolut Djokdja , peran botol tetap dipertahankan dalam mewadahi secuil ke-jogja-an. Dengan imbuhan kata-kata Love Djokdja Absolutely dagadu mencoba menyampaikan bahwasanya keindahan Jogja nggak kalah dengan kenikmatan seteguk Vodka yang citarasanya bisa diterima secara internasional. Hampir mirip, penggunaan ikon juga dipakai pada disain MP Malioboro, Please (1995). Pada tahun itu serial MP (Melrose Place) memang lagi ngetop. Maka ikon ini sangat eye catching. Dengan bangga, tanpa bermaksud primodialis, dagadu ingin mengilustrasikan kalau Jogja secara mutlak mempunyai citarasa yang juga diterima dunia internasional.

Realita masyarakat juga ditampilkan secara cerdik dengan mengadopsi idiom-idiom internasional. Kalau di Inggris punya sebutan Slow but sure, orang Jogja tampaknya tidak keberatan menggambarkan potret dirinya dalam kalimat Alon-alon waton on time (1994) bukan lagi alon-alon waton kelakon. Disain tersebut memang terkesan membela diri, atau setidaknya menampik anggapan bahwa orang jogja itu lelet, nggak cak-cek, malas. Tema senada juga tampak pada disain How Slow can you go! (1998). Lewat pesan yang disampaikan disain itu, Dagadu ingin mengutarakan bahwa wong Jogja itu penuh pikir panjang dan perenungan sebelum melakukan tindakan. Sebab kalau tinggal di Jogja, orang relatif punya banyak waktu untuk berpikir dan merenung. Tak jarang, hasil perenungan panjang itu hasilnya lebih memuaskan, lebih mantap. Jadi, alon-alon tak mengapa, waton on time

Bagi Dagadu, kekurangan bisa saja dijadikan suatu kebanggaan. Keabstrakan bisa dimanfaatkan untuk meninggikan mutu, tanpa terkesan tinggi hati. Seperti halnya disain As you wish! As yo wis! Terserah! (1998) yang mengandaikan suatu mentalitas pasrah dan kurang mau berusaha. Kekurangan atau kemalasan lantas dijadikan idiom yang sedikit lebih cerdas dengan mengkait-kaitkannya dengan idiom yang berbau internasional.

Bolehlah, namanya juga usaha…

_______________________________

Gue pun menyempatkan membeli 2 buah kaos Dagadu plus 2 buah sticker saat gue mampir ke gerainya di mal Malioboro Jogja. Untung, kaosnya ada ukuran yang pas..🙂 Mumpung ke Jogja, gue pikir… Lagipula, Dagadu sudah menjadi ikon anak muda yang kreatif, menarik, unik, sekaligus membaggakan dari Yogyakarta. Jadi, sambil memutar kenangan, maka gue pun memutuskan untuk kembali ‘membawa serta’ kenangan yang unik ini dari Yogya.

Dagadu memang sebuah bisnis yang meskipun kelihatannya sederhana, namun tetap membawa sebuah gaya khas Jogja. Baik visual maupun teks pada desain selalu hadir secara jenaka, unik, sekaligus menambah wawasan mengenai budaya Jawa secara umum. Dan dari segi estetika dan kenyamanan-nya pun, tidak perlu disangsikan deh… Lha wong aku aja yang udah bertahun-tahun masih aja kangen buat memakai Dagadu… hehehe

Saat ini, spesifikasi produk maupun sasaran market Dagadu semakin beragam dan berkembang. Dan bagi gue, itu merupakan keharusan jika kita melihat perkembangan jaman yang sekarang juga makin cepat berubah. Asal, sekali lagi, orisinalitas ide dan kualitas produk selalu terjaga secara konsisten. Jadi awareness konsumen akan keunikan ‘nilai’ cita rasa lokal akan tetap kuat, dimana secara berbarengan pula, cita rasa lokal tadi harus juga tetap ‘menggoda’ sehingga selalu  melekat di setiap benak pribadi yang mengenakan produk dari Dagadu.

Jogja: Never Ending Asia.

Dagadu? Nggak ada matinya! hehehe