Beban merupakan sebuah keadaan yang gue dan semua orang ingin menghindari. Bagi gue, beban menjadi sebuah keadaan dimana gue akan mendapati keadaan yang sulit yang harus gue lalui. Beban juga bisa menjadi hal yang nggak mudah dan kadang mengganggu pikiran serta cukup menguras energi untuk membawanya serta dalam langkah hidup gue.

Beban tidak selalu identik dengan masalah. Tapi beban kurang lebih menjadi sebuah keadaan yang cukup berat dalam hidup dan membutuhkan cara khusus untuk membawanya serta; kalo memang gue ingin membawanya serta.

Tapi, mungkin ada cara yang lebih mudah dalam ‘mengatur’ beban yang ada dalam keseharian hidup gue. Gue akan tetap memahami kalo gue punya banyak beban. Tapi mungkin, gue nggak perlu membawanya sekaligus yang malah akan membuat hidup gue makin susah. Yang mungkin dan paling mudah, adalah gue mencoba menyusun banyak beban itu dalam sebuah rak kehidupan. Istilahnya dalam pikiran, gue akan menciptakan rak khusus yang memang sengaja gue siapkan untuk menyusun beban agar rapi tersimpan. Sewaktu-waktu, gue bisa mengeluarkan semua beban tadi satu demi satu agar rak kehidupan gue nggak bertambah berat yang kemungkinan malah bisa jebol dan rusak karena nggak kuat menampung. Kebijaksanaan gue juga yang akhirnya membuat semua beban itu tersusun rapi, tanpa harus gue bawa kemana-mana.

______________________________________

Kadang semua ini memang nggak mudah. Butuh energi ekstra dan suplemen buat otak dan diri gue agar tetap bisa memiliki semangat yang konstan. Terkadang efek dari beban sering muncul tiba-tiba, meskipun kita sebenarnya udah mencoba menyimpannya dengan rapi. Beban kadang harus dikeluarkan paksa dari rak kehidupan, sebelum gue menemukan solusi yang paling tepat buat menghadapi beban itu sendiri secara langsung.

Kalo udah begini, biasanya gue langsung kepikiran dan seringkali membuat gue nggak bisa lagi menikmati hidup dengan wajar. Beban seakan menjadi sebuah luka yang suka atau enggak akan tetap menempel dan pedihnya akan tetap dirasakan. Obat yang tepat belum gue temukan, dan efeknya, gue tetap harus kembali ngerasaain berat dan sakitnya.

Memang mudah untuk membuat teori pengendalian diri. Yang susah adalah menjalaninya dengan kesabaran dan kesungguhan hati. Beban memang bukan untuk dihindari, melainkan harus dihadapi dan dibawa serta. Karenanya, dengan menyusun banyak beban tadi dalam satu wadah yang luas dalam hati menjadi sebuah keharusan.

Ini semua agar hidup gue bisa tetap indah walau beban lagi banyak-banyaknya. Tapi jujur, yang paling paham mengenai semua ini ya tentunya hanya gue sendiri. Bagaimana gue menjalaninya tentu menjadi ‘kebebasan mutlak’ buat gue. Bagaimana ‘menikmati’ beban juga menjadi tantangan dan pilihan yang walau sulit, harusnya sih bisa gue tangani. Caranya? Ya, tentu dengan proses menyusun dan merapikan semua beban itu tadi dalam ruang rak kehidupan di hati gue.

Semua memang nggak ada yang nggak mungkin buat dijalanin. Tapi kalo gue nggak berusaha mencari cara yang paling tepat, paling mudah, dan nggak memberatkan, tentunya gue nggak akan kemana-mana. Beban akan selamanya ada di diri gue, sebelum gue sempat menyusunya dengan rapi, apalagi sampe melepaskannya.

Gue nggak mau bilang kalo hidup gue udah tanpa beban. Tapi gue akan berusaha selalu belajar untuk menyusun beban-beban gue itu agar minimal nggak terlalu bikin susah dan repot. Gue nggak mau sok yakin dengan pendapat gue ini, karena gue pribadi masih dalam proses pembelajaran yang nggak tahu kapan selesainya. Tapi gue percaya, kalo cepat atau lambat, gue akan menikmati kebersamaan bareng semua beban gue tanpa gue harus merasa terusik dan terganggu.

Ketika gue mendapatkan kekuatan menyusun beban dan bisa menjalaninya dengan sabar dan penuh sukacita, gue sih yakin kalo gue akan melalui sebuah tahapan langkah dalam hidup dengan persepsi yang baru. Dan ketika itu terjadi, nggak ada alasan buat gue untuk nggak bersyukur atas hidup gue. Terlepas itu susah, rumit, nyebelin, bahkan menggangu sekalipun.

Life will find a way. Believe it or not!

Praise the Lord….