Pada catatan kali ini, gue sengaja menyalinnya dari http://www.bola.kompas.com yang publised pada Selasa, 20 Juli 2011 mengenai sebuah catatan perjalanan kepelatihan Jose Maurinho hingga saat ini. Ada banyak prestasi dan ada banyak kontroversi. Tapi, semua hal itu semua sama sekali tidak menghilangkan kekaguman gue akan sosok ‘the special one’ sang satu ini.

Jujur, kekaguman dan kecintaan gue akan sosok pelatih jenius ini, berawal dan memuncak ketika dia menangani Internazionale Milano, klub yang gue juga kagumi dan cintai. Terlebih lagi, setelah pada tahun 2009-2010 Inter berhasil meraih treble, yaitu Liga Italia, Copa Italia dan Liga Champions. Dalam sejarah, baru Inter-lah satu-satunya klub Italia yang berhasil melakukan prestasi ini.

Mengenai kata turbulensi yang menjadi kata utama dan menjadi tema utama catatan ini, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti: gerak bergolak tidak teratur yg merupakan ciri gerak zat alir. Bisa diartikan sebagai keadaan yang tidak statis, selalu berubah, dan selalu menyesuaikan diri pada keadaan baru. Memang ini kelihatan sebagai bentuk kekacauan dan keadaan yang tidak baik. Tapi yang lebih penting, tim yang ditinggalkan Maurinho akan kembali ke jalur yang benar dalam berprestasi, karena fondasi kokoh telah diletakkan Maurinho pada saat ia melatih klub tersebut. Jadi bagaimanapun jalan akan tetap selalu dinamis dan bergerak ke arah positif sepeninggalan Maurinho. Sejarah sudah membuktikan…

Karenanya dengan kerendahan hati, gue mohon ijin kepada Kompas.com untuk menyalin catatan ini di blog gue, untuk kemudian gue share ke banyak rekan sesama pencinta Inter, para pengagum Maurinho, atau siapapun yang berkesempatan berkunjung ke blog pemanis buatan ini.

Forza Il’Biscione! Forza The Special One!

_______________________________________________________________

Turbulensi Pasca-Mourinho

Jose Mourinho adalah pelatih yang lekat dengan kontroversi. Namun tak bisa dimungkiri, ia penuh prestasi. Porto, Chelsea, Inter Milan, dan Real Madrid telah merasakan sentuhan midasnya dengan raihan berbagai macam trofi bergengsi. Namun setelah “The Special One” pergi, niscaya tim yang ditinggalkannya akan mengalami turbulensi.

Mourinho tiba di Porto pada Januari 2002 untuk menggantikan tempat Octavio Machado. Selama setengah musim berjalan, ia berhasil mengangkat tim dengan performa mantap melalui 11 kemenangan serta masing-masing dua kali seri dan kalah. Pada akhir musim, Porto dibawanya bertengger di posisi ketiga dan ia berjanji untuk memberi trofi juara kepada fans di musim selanjutnya.

Janji itu benar-benar ditepatinya dengan cara yang luar biasa. Pada awal musim 2002/2003, ia membeli pemain-pemain yang dirasa tepat untuk memperkuat serta menjadi tulang punggung tim. Jorge Costa dipanggil kembali dari masa peminjamannya di Charlton Athletic, Nuno Valente dan Derlei direkrut dari Uniao Leiria, Paulo Ferreira dari Vitoria Setubal serta Maniche dari Benfica. Hasilnya, Mourinho sukses mengantar Porto meraih treble winner dengan merengkuh trofi juara Liga Portugal, Piala Portugal, dan Piala UEFA.

Musim selanjutnya, Mourinho mencoba mengangkat tim ke level lebih tinggi dengan melabuhkan Benny McCarthy dari Celta Vigo yang sukses menjadi tumpuan di lini depan tim untuk beberapa tahun ke depan. Selain itu, pemain internasional Portugal, Sergio Conceicao, juga direkrut untuk membimbing dan membagi pengalamannya selama bermain bagi timnas Portugal dan tim-tim papan atas Italia, seperti Lazio, Parma, dan Inter Milan. Itu belum termasuk beberapa pembelian lainnya, seperti Pedro Mendes dari Vitoria Guimaraes dan Bosingwa dari Boavista.

Pada musim keduanya membesut Porto, Mourinho dan timnya terlihat jauh lebih matang dan terorganisasi. Piala Super Portugal berhasil diraih di awal musim dan trofi Liga Portugal pun sukses mereka pertahankan kembali. Di Liga Champions, mereka membuat kejuatan dengan mengempaskan Manchester United di babak 16 besar. Gol telat Costinha berhasil mengantarkan mereka maju ke babak selanjutnya. Mourinho meluapkan kegembiraannya dengan berlari menyisir pinggir lapangan selayaknya ia yang mencetak gol tersebut. Hal itu pun menjadi awal dari timbulnya perseteruan antara dirinya dan Sir Alex Ferguson.

Selanjutnya, Porto secara berturut-turut menyingkirkan Olympique Lyon dan Deportivo La Coruna untuk berjumpa AS Monaco di babak final. Kemenangan telak dengan skor 3-0 menjadi pembuktian bagi Mourinho dan timnya sebagai raja Eropa baru musim itu. Pengatur serangan Porto, Deco, dinobatkan sebagai UEFA Club Footballer of The Year, UEFA Best Midfielder, dan Man of The Match di babak final Liga Champions 2003/2004. Mourinho sendiri ditasbihkan sebagai Coach of The Year dalam acara UEFA Club Football Awards 2003/2004.

Menyusul sukses yang direngkuh bersama Porto, Mourinho melanjutkan kariernya sebagai pembesut tim kaya baru asal London, Chelsea. Dia mendapat mandat dari taipan kaya asal Rusia, Roman Abramovich, untuk membawa Chelsea menjadi kekuatan sepak bola baru di Inggris dan Eropa. Pada awal kedatangannya, ia mengatakan, “Jika aku ingin berlindung dalam sebuah pekerjaan yang tenang, aku bisa memilih untuk tetap bertahan bersama Porto. Aku bisa menjadi yang kedua, setelah Tuhan, di mata para pendukung, bahkan bila aku tak pernah lagi bisa memenangkan sesuatu (di Porto).”

“Tolong jangan menyebutku arogan, tetapi aku adalah juara Eropa dan aku pikir aku adalah ‘The Special One’ (Sang Istimewa),” tandas Mourinho.

Pada musim pertamanya, ia sukses meraih dobel dengan menjuarai Piala Liga dan Liga Inggris dengan performa yang meyakinkan. Chelsea dibawanya menjadi pemuncak klasemen akhir dengan unggul 12 poin atas Arsenal di posisi kedua. Dari total 38 pertandingan, Chelsea sukses memenangkan 29 di antaranya, delapan kali seri dan hanya satu kali mencicipi kekalahan. Gelar ini menjadi yang pertama bagi klub dalam 50 tahun sejak terakhir kali menjuarai liga pada 1955.

Pada musim 2005/2006 atau musim keduanya, pelatih bermulut pedas itu berhasil mengalahkan Arsenal di FA Community Shield serta mempertahankan gelar liga, juga dengan keunggulan 12 poin atas runner-up Manchester United. Sayangnya, ia kembali harus menelan pil pahit di Liga Champions. Bila musim sebelumnya Chelsea harus angkat koper karena kalah pada babak semifinal oleh Liverpool, kali ini mereka tersingkir di babak 16 besar oleh Barcelona. Ironinya, dua tim tersebut, Liverpool dan Barcelona, akhirnya sukses mengakhiri kompetisi tertinggi Eropa itu sebagai juara.

Pada musim ketiganya, Mourinho mendatangkan Andriy Shevchenko, juara Liga Champions bersama AC Milan, serta Ashley Cole dan Michael Ballack, finalis kompetisi yang sama bersama Arsenal dan Leverkusen. Geliat transfer ini menunjukkan hasrat “The Special One” untuk memenuhi ambisi Abramovich melihat Chelsea sebagai juara Eropa. Akan tetapi, harapan itu harus pupus di tengah jalan.

“The Blues” kembali tersingkir oleh Liverpool pada babak semifinal serta gagal mempertahankan hegemoninya di liga akibat keberhasilan MU menjadi juara dengan keunggulan enam poin di atas mereka. Mereka memang tetap bisa membawa pulang trofi Piala Liga dan Piala FA ke Stamford Bridge, tetapi Abramovich tampaknya mulai kehilangan kesabaran.

Mourinho mengawali musim 2007/2008 dengan hasil yang kurang memuaskan. John Terry dkk harus menelan kekalahan dari Aston Villa serta dua kali bermain imbang melawan Blackburn Rovers dan Rosenborg. Setelah beberapa saat, para petinggi Chelsea memutuskan untuk mengakhiri ikatan kerja sama mereka dengan Mourinho. Sebuah akhir yang tak mengenakkan bagi manajer tersukses sepanjang sejarah Chelsea itu.

Setelah menganggur selama hampir satu musim, Mourinho menampik tawaran menjadi manajer timnas Inggris dan menerima jabatan sebagai suksesor Roberto Mancini di Inter Milan. Ia segera merekrut Ricardo Quaresma, Amantino Mancini, dan Sulley Muntari untuk memperkuat timnya di tengah dan sisi sayap. Sayangnya Quaresma dan Mancini gagal bersinar dan lebih sering menjadi penghangat bangku cadangan sepanjang musim. Quaresma bahkan sempat dipinjamkan ke Chelsea dengan tujuan untuk mengembalikan performanya. Akan tetapi, ia tetap tampil melempem.

Musim pertama, Mourinho sukses melaluinya dengan meraih Piala Super Italia dan menjuarai Serie A. Lalu seperti layaknya tim-tim yang ditangani Mourinho sebelumnya, mereka punya kebiasaan untuk mencapai puncak performa pada musim kedua bersama mantan asisten Sir Bobby Robson itu. Setelah beradaptasi dan memperkuat fondasi tim pada musim pertama, musim kedua adalah saatnya unjuk gigi.

Hal itu didukung kedatangan pemain-pemain baru yang sukses menjadi tumpuan Inter di berbagai lini, seperti Lucio di belakang, Wesley Sneijder di tengah, serta Samuel Eto’o dan Diego Milito di depan. Terbukti, Inter sukses menjadi tim Italia pertama yang meraih treble winner dengan menjadi yang terbaik di tiga ajang berbeda, Serie A, Piala Italia, dan Liga Champions. Mourinho pun berubah dari sosok antagonis paling dibenci, menjadi protagonis yang dipuja berbagai media Italia.

Kesuksesan yang didapat tidak menghalangi Mourinho untuk menerima pinangan raksasa Spanyol, Real Madrid. Hubungannya yang kurang harmonis dengan media dan beberapa pelatih klub Italia juga menjadi pemicu terjadinya transfer ini. Selain itu, Spanyol adalah satu-satunya negara dengan kompetisi liga terbaik di Eropa yang belum ditaklukkan Mourinho. Kesempatan untuk membesut “Los Blancos” tentu tidak ia tolak begitu saja.

Seperti biasa, Mourinho menatap musim pertama dengan membentuk fondasi dengan mendatangkan pemain-pemain yang dirasa tepat bagi kebutuhan tim. Duo Jerman Mesut Oezil-Sami Khedira, pemain sayap asal Argentina Angel Di Maria, serta eks anak asuhnya di Porto dan Chelsea, Ricardo Carvalho, ia labuhkan di Santiago Bernabeu. Dengan berpusat pada Cristiano Ronaldo, Oezil dan Di Maria di lini serangnya, Madrid menjadi tim tersubur di Liga Spanyol musim 2009/2010. Mereka sukses mencetak 102 gol, lebih banyak tujuh gol dari sang juara Barcelona.

Madrid juga berhasil memecundangi Barcelona pada final Piala Raja melalui gol tunggal Ronaldo di laga yang berlangsung sengit dan keras. Akan tetapi, mereka mendapatkan nasib yang berbanding terbalik saat berhadapan dengan Barcelona di liga dan dan Liga Champions. Mereka harus kalah 0-5 oleh tim besutan Pep Guardiola itu di liga, dan tersingkir di babak semifinal Liga Champions oleh lawan yang sama. Barcelona pun menjadi pemuncak klasemen akhir La Liga dengan keunggulan empat poin atas Madrid sebagai runner-up.

Mourinho kali ini benar-benar diajak berpikir keras untuk menemukan cara mengalahkan Barcelona pada musim depan. Akan tetapi, bek andalan Madrid, Carvalho, mengungkapkan optimismenya. “Ia selalu ingin berkembang, dari hari pertama dan setiap hari,” kata mantan bek Porto itu. “Bersamanya, Anda selalu belajar setiap hari; tahun keduanya lebih baik dari yang pertama karena pemain saling mengenal satu sama lain dengan lebih baik, dan itu sudah terjadi di Porto dan Chelsea.”

Efek pasca-Mourinho

Tim asuhan Mourinho selalu sarat dengan yang namanya trofi. Mereka terbiasa mencapai klimaks performanya di musim kedua bersama Mourinho. Akan tetapi, mereka juga memiliki kebiasaan untuk mengalami turbulensi sesaat setelah ditinggal pelatih berusia 48 tahun itu.

Turbulensi atau gerakan bergolak tidak teratur, sering terjadi pada tim-tim yang ditinggalkan Mourinho. Sesaat setelah ditinggalkan “The Special One”, Porto berusaha mempertahankan kejayaan yang telah diraih dengan mendatangkan pelatih asal Italia, Luigi Del Neri. Tidak sampai dua bulan, bahkan kompetisi belum sempat berjalan, mantan pelatih Chiveo Verona itu dipecat klub dengan alasan ia sering mangkir latihan. Del Neri sempat beberapa kali absen dalam latihan pra-musim tim, salah satunya karena ia ketinggalan pesawat yang seharusnya membawanya kembali dari liburan di luar negeri.

Pengganti Del Neri adalah Victor Fernandez, pelatih yang membawa Real Zaragoza menjuarai Piala Winner pada 1995. Harapan digantungkan tinggi pada Fernandez. Ia sempat membawa tim memenangi Piala Interkontinental 2004. Namun tidak sampai dua bulan kemudian, manajemen Porto juga memecatnya karena serangkaian hasil yang kurang memuaskan di kompetisi domestik. Jose Couceiro menjadi nama selanjutnya yang mengisi kursi panas pelatih Porto musim 2004/2005.

Couceiro dikontrak selama 18 bulan, tetapi memutuskan untuk mengundurkan diri pada akhir musim karena gagal membawa Porto menjuarai liga. Pada pertandingan terakhir, Porto hanya bisa menelan hasil imbang dari Academica dan mengakhiri kompetisi di posisi kedua, tertinggal tiga poin dari sang juara, Benfica. Mantan pelatih AZ Alkmaar, Co Adriaanse, ditunjuk sebagai suksesornya. Pelatih asal Belanda itu akhirnya berhasil membangun kembali kejayaan “Os Dragoes”, julukan Porto, dengan membawa tim merebut gelar Liga Portugal dan Piala Portugal musim 2005/2006.

Chelsea juga memiliki masalah yang kurang lebih sama dengan Porto. Pemecatan tiba-tiba Mourinho di awal musim 2007/2008 membuat tim menjadi limbung. Direktur Sepak Bola Chelsea saat itu, Avram Grant, ditunjuk sebagai pelatih baru “The Blues”. Pengalaman dan latar belakang formal kepelatihannya yang minim membuat fans menjerit untuk mengembalikan Mourinho ke tim. Hal itu dipicu pula oleh kekalahan Chelsea atas MU tiga hari setelah Grant menjabat. Akan tetapi, Abramovich bergeming.

Beberapa pemain yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan bahwa metode kepelatihan Grant ketinggalan zaman. Beberapa hasil kurang memuaskan pun harus Chelsea terima di bawah kepemimpinan pelatih asal Israel itu. Mereka didepak Barnsley dari FA Cup dengan skor 0-1. Mereka sukses mencapai babak final Piala Liga untuk berhadapan dengan Tottenham Hotspurs, tetapi harus menelan pil pahit berupa kekalahan akibat gol Jonathan Woodgate pada babak tambahan.

Selain itu, Chelsea juga sukses melaju ke babak final Liga Champions, sesuatu yang tak pernah bisa dicapai Chelsea era Mourinho, tetapi kembali kalah saat adu penalti akibat kegagalan John Terry melakukan tendangan penentu kemenangan. Kapten dan pemain asli didikan Chelsea itu terpeleset saat menyepak bola akibat lapangan yang basah dan licin karena hujan. Lalu, kegagalan itu diikuti oleh penendang selanjutnya, Nicolas Anelka. MU juara, Terry pun menangis. Awan kelabu seakan tak berhenti memayungi Chelsea.

Serangkaian kekalahan serta kegagalan mengangkat mental dan performa pemain Chelsea membuat Grant dipecat pada akhir musim. Luiz Felipe Scolari, pelatih yang membawa Brasil menjuarai Piala Dunia pada 2002, diangkat menjadi suksesornya. Chelsea merekrut Deco, anak asuh Scolari di timnas Portugal, dan sukses menampilkan penampilan menawan pada awal musim 2008/2009. Akan tetapi, selanjutnya Chelsea asuhan Scolari malah konsisten dengan inkonsistensi. Performa tim yang naik turun dan melempemnya penampilan pemain-pemain bintang “The Blues” membawa Scolari pada pemecatan di awal Februari 2009.

Guus Hiddink, yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan Abramovich, ditunjuk sebagai pelatih dan sukses mengangkat performa tim serta membawa Piala FA ke Stamford Bridge. Musim selanjutnya, Hiddink memutuskan mundur agar bisa fokus menangani timnas Rusia. Carlo Ancelotti, penggantinya, berhasil membawa Chelsea kembali menjuarai liga dan Piala FA di musim perdananya.

Inter Milan pasca-Mourinho juga sempat tampil amburadul di bawah asuhan Rafael Benitez. Kekalahan di Piala Super Eropa dan beberapa pertandingan liga menunjukkan jauhnya perbedaan performa dibanding ketika mereka dilatih Mourinho. Pertahanan yang digalang duet Lucio-Walter Samuel terlihat begitu rapuh seperti kaca, dan berlubang seperti jala. Pencetak gol musim sebelumnya, Milito, seperti kehilangan kegarangannya di depan gawang lawan. Benitez mengeluh tentang usia para pemainnya yang tua dan rentan cedera sehingga ia butuh asupan pemain baru.

“Masalah yang dihadapi Inter bukan di bursa transfer pemain, melainkan pelatih. Inter kehilangan pelatih terbaiknya, bahkan terbaik di dunia. Posisi Mourinho tak tergantikan,” kata mantan Pelatih Palermo, Walter Zenga.

Setelah membawa tim menjuarai Piala Dunia Antarklub 2010, mantan pelatih Liverpool itu mengancam untuk pergi bila tak mendapatkan pemain baru yang dimintanya. Moratti memilih untuk mendepaknya. Mantan pemain dan pelatih AC Milan, Leonardo, menggantikan Benitez dan sukses membawa klub kembali ke persaingan juara dan meraih Piala Italia pada akhir musim.

Alasan di balik kemunduran

Ada beberapa alasan mengenai turbulensi yang dihadapi para tim era pasca-Mourinho. Pertama, “The Special One” terbiasa membeli bintang yang sedang berada di puncak performanya. Lucio datang ke Inter Milan saat berusia 31 tahun, Milito dan David Suazo 30 tahun, sedangkan Eto’o 28 tahun. Ketika Mourinho masih melatih, ia bisa mengeluarkan kemampuan terbaik para pemain tersebut karena memang mereka berada dalam usia puncak sebagai seorang pesepak bola. Namun ketika Mourinho pergi meninggalkan klub, performa mereka pun perlahan-lahan melempem.

Hal yang sama terjadi pada Drogba dan Carvalho yang datang di usia 26 tahun ke Chelsea, Cole pada 25 tahun, serta Ballack dan Shevchenko pada 29 tahun. Kebanyakan dari mereka saat ini telah kehilangan kemampuan terbaiknya sebagai pesepak bola. Mourinho memang membawa pemain yang bisa bersinar untuk klub saat ia melatih, tetapi mereka tidak bisa diandalkan untuk program jangka panjang klub.

Pengecualian terjadi saat ini ketika ia melatih Madrid. Ia mulai mengubah gayanya dengan mendatangkan pemain-pemain muda potensial yang punya umur sepak bola lebih panjang. Oezil didatangkan pada usia 21 tahun, Di Maria dan Nuri Sahin pada 22 tahun, serta Sami Khedira dan Fabio Coentrao pada 23 tahun. Mourinho sepertinya ingin membangun sebuah proyek sukses jangka panjang dengan Madrid, berbeda halnya dengan saat dia di Porto, Chelsea, dan Inter Milan.

Kedua, Mourinho gemar mengajak tim suksesnya untuk pergi bersamanya membangun karier di tempat baru. Para staf manajemen dan pemain kepercayaannya pun memiliki loyalitas yang tinggi terhadap “The Special One”. Ketika sebuah klub kehilangan struktur manajemen yang kuat dan para pemain yang menjadi tumpuan selama beberapa tahun terakhir, jelas mereka akan terguncang.

Hal ini terjadi saat Carvalho dan Paulo Ferreira ikut meninggalkan Porto bersama Mourinho ke Chelsea. Hal ini turut mengikis kekuatan lini pertahanan Porto di musim berikutnya. Carvalho bahkan kembali direkrut Mourinho saat ia telah membesut Madrid di musim 2010/2011. Pemain bertahan asal Portugal itu pun masih bisa menunjukkan performa terbaiknya, walau untuk jangka waktu yang mungkin tidak lama lagi, mengingat usianya yang telah menginjak 32 tahun.

Saat Mourinho tiba di Stamford Bridge, ia juga membawa tim suksesnya di Porto, seperti asisten manajer Baltemar Brito, pelatih kebugaran Rui Faria, kepala pencari bakat Andre Villas Boas, pelatih kiper Silvino Louro. Beberapa di antaranya bahkan terus mendampingi Mourinho saat melatih Inter dan Madrid.

Alasan ketiga adalah kualitas individu dari Mourinho sendiri. Ketika datang ke suatu klub, ia selalu sukses membangun hubungan interpersonal yang sangat baik dengan para pemain dan staf yang ada. Ia juga terkenal sebagai orang yang perfeksionis dalam menyiapkan diri sebelum pertandingan. Analisis yang mendalam terhadap kelemahan lawan serta kata-kata motivasinya kepada para pemain asuhannya begitu luar biasa.

Kemampuannya menerapkan taktik berbeda untuk lawan berbeda untuk meraih kemenangan, juga mengagumkan. Mourinho juga bisa membangun mental juara di benak para pemainnya. Oleh karena itu, wajar bila banyak orang yang merasa kecewa ketika mereka ditinggalkan olehnya.

Hal ini juga diakui sendiri oleh Marco Materazzi. Sebelum masuk ke lapangan dalam pertandingan final Liga Champions 2009/2010 melawan Bayern Muenchen, ia sempat berusaha membujuk Mourinho untuk tetap tinggal di Inter.

“Aku berbicara sebelum masuk ke lapangan. Aku berucap, ‘Aku mohon bertahanlah. Kau tidak akan dicintai sebanyak di sini’. Kemudian ia menangis, dia bilang, ‘Aku harus pergi’. Lalu aku masuk ke lapangan. Setelah itu, aku pun menitikkan air mata juga,” cerita Materazzi kepada La Gazzetta dello Sport.

Sumber: http://www.bola.kompas.com

Gelar Klub

Dengan Porto (6):

  • Portuguese Liga (2): 2002-03, 2003-04
  • SuperCup Cândido de Oliveira (1): 2003
  • Piala Portugal (1): 2002-03
  • UEFA Cup (1): 2002-03
  • UEFA Champions League (1): 2003-04

Dengan Chelsea (6):

  • Premier League (2): 2004-05, 2005-06
  • FA Cup (1): 2006-07
  • English League Cup (2): 2004-05, 2006-07
  • Community Shield (1): 2005

Dengan Inter Milan (5):

  • Serie A (2): 2008-09, 2009-10
  • Coppa Italia (1): 2009-10
  • Supercoppa Italiana (1): 2008
  • UEFA Champions League (1): 2009-10

Dengan Real Madrid (1)

  • Copa del Rey (1) : 2010-11

Penghargaan Individu

  • Primeira Liga Manager of the Year (2): 2002–03, 2003–04
  • Premier League Manager of the Year (2): 2004–05, 2005–06
  • Premier League Manager of the Month (3): November 2004, January 2005, March 2007
  • Serie A Manager of the Year (2): 2009, 2010
  • Albo Panchina d’Oro Coach of the Year (1): 2010–2011
  • UEFA Manager of the Year (2): 2002–03, 2003–04
  • UEFA Team of the Year Coach of the Year (4): 2003, 2004, 2005, 2010
  • BBC Sports Personality of the Year Coach Award (1): 2005
  • La Gazzetta dello Sport Man of the Year (1): 2010
  • Onze d’Or Best Coach (1): 2005
  • FIFA Ballon d’Or Best Coach (1): 2010
  • IFFHS World’s Best Club Coach of the Year (3): 2004, 2005, 2010
  • World Soccer Magazine World Manager of the Year (3): 2004, 2005, 2010
  • International Sports Press Association Best Manager in the World (1): 2010
  • CNID Best Portuguese Manager in Foreign Countries (2): 2008–09, 2009–10

Rekor-Rekor Jose Maurinho

  • Dua kali merasakan Treble Winners, bersama Porto (musim 2002-03 ;memenangkan Piala UEFA) dan Inter Milan (musim 2009-10).
  • Termasuk jajaran pelatih istimewa dalam sejarah Liga Champions, meraih juara dengan dua klub berbeda, Porto 2004 dan Inter 2010.
  • Pelatih pertama yang mampu meraih piala domestik di empat negara yang berbeda (Piala Portugal 2003, Piala FA 2007, Coppa Italia 2010, dan Copa del Rey 2011).
  • Terhitung sejak 23 Februari 2002 hingga 2 April 2011, memainkan 150 partai kandang di liga dengan tim-tim asuhannya tanpa tersentuh kekalahan satupun. Rekor sembilan tahun itu dimulai sejak Porto kalah 2-3 dari Beira Mar pada 23 Februari 2002.
  • Pada 2011, menjadi pelatih pertama dalam sejarah Liga Champions yang berhasil membawa empat klub berbeda menuju babak semifinal. Dia melakukan itu bersama Porto 2004, Chelsea 2005 dan 2007, Inter 2010, serta Real Madrid 2011.

Sumber: http://id.wikipedia.org/