Tahun 1908 menjadi tahun yang mungkin biasa, tapi juga menjadi tahun yang istimewa. Di tahun ini Internazionale Milano – biasa disebut Inter Milan resmi berdiri. Sekali lagi, tulisan ini memang tentang sepakbola khususnya tentang klub Inter dimana gue maupun jutaan orang lainnya di dunia suka sama klub asal Italia ini selama bertahun-tahun…

Ini memang bukan sebuah catatan kaleidoskop yang detail, ini hanya sekedar catatan sederhana tentang sejarah yang coba merunut kembali kisah perjalanan, suka duka, dan berbagai peristiwa yang terjadi di dalam perjalanan seuah klub sepakbola. Alangkah mengasyikan (minimal buat gue) untuk melihat-lihat lagi setiap perjalanan klub ini dari tahun ke tahun yang membuat gue semakin ‘jatuh cinta’ sama klub ini…

Begini kisahnya…

______________________________________________

Semangat globalisme yang seringkali menjadi isu belakangan ini ternyata sudah menjadi salah satu pola pikir yang dianut dalam pembentukan klub Inter sejak awal oleh para pendirinya. Inter ingin menjadi sebuah klub yang mengglobal, mendunia, dengan salah satu ciri khas yang dimiliki sejak dahulu adalah para pemainnya yang direkrut dari berbagai belahan dunia. Alasan ini pula yang membuat ‘Internazionale’ dipilih sebagai sebuah nama sebuatan resmi bagi klub ini…

Maskipun Juventus sejauh ini merupakan klub paling sukses di kompetisi Seri A Italia, namun Internazionale Milan-lah yang sebenarnya berdiri di barisan paling depan. Ketika kompetisi ajang Eropa bergulir pada dekade 1950-an, Inter merupakan tim yang paling banyak mewakili Italia di ajang tersebut. Selain itu, juara Liga domestik Italia yang pertama  pun direbut oleh Inter pada 1938 setelah sebelumnya Liga berjalan dengan sistem regional.

Inter Milan -begitu klub ini sering disebut-, merupakan salah satu klub sepakbola terbesar di Eropa maupun dunia, bahkan boleh juga dibilang sebagai salah satu dari klub terkaya di dunia.

Saat ini dana terus mengucur bagi kelangsungan klub, baik dari Presiden Inter Massimo Moratti-raja minyak Italia-,  dari Pirelli selaku sponsor utama sekaligus pemilik sebagian saham Inter, dari sponsor-sponsor pendukung, dari penjualan merchandise Inter di seluruh dunia, serta dari pemasukan lain seperti tiket pertandingan, yang tentunya membawa pemasukan yang signifikan bagi keuangan klub.

Namun dibalik itu, Inter memiliki catatan sejarah yang panjang dengan rentetan prestasi baik di kompetisi domestik maupun internasional, serta berbagai peristiwa penting yang juga mewarnai perjalanan Inter selama satu abad. Hingga saat berusia 100 tahun pada 2008, Inter telah mengoleksi 16 gelar scudetto, 3 piala Italia, 1 Piala super Italia, 2 Piala Champion, 3 Piala UEFA, dan 2 Piala Interkontinental. Selain itu berbagai peristiwa yang tercatat dalam perjalanan panjang klub sejak berdiri hingga sekarang juga merupakan bagian lain yang tidak terpisahkan.

Awal pembentukan

Milan, kota yang dijuluki ‘ibukota sepakbola dunia’ sebenarnya hanya memiliki satu klub sepakbola pada awal mulanya. Alfred Edwards yang mendeklarasikan terbentuknya Milan Cricket and Football Club atau dikenal dengan sebutan AC Milan pada 1889. Dan selama beberapa waktu AC Milan menjadi satu-satunya klub kebanggan kota Milan.

Baru setelah 9 tahun AC Milan berdiri, sekelompok pria Italia dan Swiss yang kerap bertemu di ruang belakang restoran Orologio berniat memisahkan diri dan berniat membentuk klub sepakbola baru di kota Milan.memisahkan diri dan berniat membentuk klub sepakbola baru di kota Milan.  AC Milan pada saat itu memang sangat kental dengan warna Inggris. Selain pendirinya yang berasal dari Inggris, kebanyakan pengurus AC Milan pun kebanyakan berasal dari Inggris. Mereka kerap melakukan pertemuan-pertemuan di bar yang bernuansa Inggris.

Adalah Giovanni Paramithiotti yang memimpin sekelompok pria tadi untuk mendirikan klub baru di kota Milan. Akhirnya, dibentuklah klub baru yang bernama Internazionale Milano. Kata ‘Internazionale’ dipakai karena klub ini membuka diri terhadap siapapun yang ingin menjadi anggota dan klub ini pula yang mempelopori penggunaan pemain asing luar Italia. Bahkan, kapten Inter yang pertama adalah Manktl; pemain asal Swiss. Di dalam perjalanan sejarahnya, klub ini lebih dikenal dengan sebutan ‘Inter’. Dan karena berasal dari Milan maka menjadi ‘Inter Milan’.

Era Giuseppe Meazza

Reputasi Inter terjaga sepanjang masa dan dipuncaki oleh dua generasi emas Inter yang menghasilkan berbagai gelar domestik dan Eropa. Generasi pertama dimotori oleh maha bintang Inter yaitu Giuseppe Meazza pada dekade 30-an. Generasi kedua adalah tim yang dibidani oleh Helenio Herrera; pelatih besar saat itu pada dekade 60-an.

Inter merebut gelar pertamanya pada tahun 1910 atau 2 tahun setelah berdiri. Pada partai final kompetisi Pro Regional, Inter mengalahakan Pro Vercelli dengan skor 11-3. Saat itu Pro Vercelli datang dengan tim kedua karena permintaan pengunduran jadwal final-dengan alasan banyak pemain yang cedera- ditolak oleh Federasi. Protes dengan mengirim tim kedua membuat timnya dikecundangi Inter dengan skor telak. Kapten Inter saat itu adalah Virgilio Fossati. Namun ia tidak bertahan lama karena harus mengikuti wajib militer.

Gelar kedua Inter diraih pada tahun 1920. Inter berhasil juara karena pada saai itu telah lahir pemain legendaris yaitu Luigi Cevenini. Namun, tonggak sejarah bagi Inter adalah saat Inter merekrut Giuseppe Meazza dan ketika Meazza memainkan partai perdananya bagi Inter melawan US Milanesse. Meazza pada akhirnya menjelma menjadi pemain terbesar yang pernah dilahirkan Inter dan Italia.

Sejarah penting lain yang perlu dicatat adalah masuknya rezim fasisime yang dibawa oleh Musolini ke dalam tubuh Inter. Rezim ini masuk ke dalam Inter dengan berbagai cara karena presiden Inter saat itu yaitu Ferdinando Pozzani merupakan salah satu penganut paham fasisme.

Pengaruh fasisme dalam tubuh Inter diantaranya tampak dalam cara penerapan disiplin ala militer saat melatih pemain. Ada juga rencana untuk mengganti logo, warna kaos dan nama ‘Internazionale’ yang dirubah menjadi ‘Ambrosiana’ sehingga menjadi ‘Ambrosiana Milan’. Nama Ambrosiana sendiri diambil dari nama orang suci yang berasal dari Milan.

Namun tifosi Inter sangat menentang penggantian nama tersebut. Setiap Inter bertanding, para tifosi selalu berteriak, “Forza Inter! Forza Inter! “. Hal ini juga diperkuat oleh sang bintang Giuseppe Meazza yang dalam berbagai hal selalu menentang fasisme. Akhirnya terjadi kesepakatan. Nama ‘Ambrosiana Milan’ dirubah menjadi ‘Ambrosiana Inter’.

Walau dengan nama yang sedikit ‘memaksa’, Inter masih bisa meraih gelar juara pada 1930. Waktu itu Inter menjadi klub pertama yang memenangkan gelar liga nasional, -sebelumnya liga pro regional- yang baru saja digulirkan. Meazza menjadi bintang dengan raihan 31 gol, dan meraih gelar top skorer-nya yang pertama.

Gelar berikutnya mereka raih pada1938. Inter kembali juara berkat bintang-bintangnya seperti Meazza, Ferrari, Locateli. Tiga bintang inilah yang kembali mempersembahkan gelar juara pada 1940, ditambah satu gelar Copa Italia pada 1939.

Pasca Perang Dunia II

Berakhirnya PD II membawa hikmah bagi Inter. Mereka kembali memakai nama ‘Internazionale’ dan bukan ‘Ambrosiana’. Semangat orisinalitas Inter yang multietnis membuat Inter melakukan pembelian besar-besaran. Diantaranya Faas Wilkes, penyerang sayap asal Belanda yang dijuluki ‘The Flying Tulip’ karena kecepatan larinya. Lalu ada penyerang Perancis kelahiran Hungaria Stefano Nyers, dan bintang Swedia Lennart ‘Nacka’ Skoglund.

Inter merupakan klub yang bisa cepat bangkit setelah berakhirnya PD II. Pada kompetisi tahun 1950-1951 Inter sebenarnya sudah sangat ‘beringas’ dengan memasukkan 107 gol ke jala lawan. Namun ironisnya Inter gagal menjadi juara karena Inter kebobolan hampir sama banyaknya.

Pada awal 1950-an datang pelatih Alberto Foni. Pelatih ini sukses menerapkan system bertahan grendel atau catenacio pada Inter. Inter pula yang akhirnya mempopulerkan sistem ini hingga banyak klub seri A yang memakainya.

Alfredo Foni membenahi pertahanan Inter dengan mengandalkan komandan pertahanan yang lugas yaitu Attilio Giovanni dan kipper Giorgio ‘Kamikaze’ Ghezzi yang terkenal dengan keberaniannya menghadang serangan lawan.

Hasilnya dengan mencetak 46 gol Inter berhasil juara pada tahun 1953 dan kembali sukses pada 1954. Jasa pemain Swedia Skoglund sangat besar pada saat itu. Ia yang memasok umpan-umpan matang bagi Nyers.

‘Il Mago’

Pada tahun 1955 Angelo Morati menjadi presiden Inter. Masa muda Angelo memang dihabiskan dihabiskan di Inter, hingga dia menjadi jutawan pemilik belasan sumur minyak, dan akhirnya memutuskan untuk membeli Inter. Sayang dia datang saat kondisi Inter mulai jatuh. Ini karena generasi Skoglund yang mulai dimakan usia. Akibatnya, Inter waktu itu kalah dari Barcelona dalam Inter City Fairs Cup yang kini dikenal dengan nama piala UEFA.

Salah satu gebrakan Angelo adalah dengan mengontrak pelatih asal Argentina Helenio Hererra. Hererra merupakan pencetus system grendel catenacio yang terkenal. Ia dibeli seharga 65 ribu pounds dari Barcelona. Sosok Pria yang dating ke Inter tahun 1960 itu langsung menjadi figur paling berperan dalam kiprah Inter selanjutnya.

Hererra datang ke Inter dengan membawa pemain kesayangannya playmaker Luisito ‘Luis’ Suares. Ia lalu terbang ke Cile untuk memburu bintang asal Brasil Jair yang beroperasi di sayap  kanan. Jair dipasangkan dengan sayap kiri local Mario Corso. Untuk pemain depan Hererra mengandalkan duet Domenghini dan Sandro Mazzola, putra Valentino Mazzola yang gugur bersama beberapa pemain Torino lain dalam musibah ‘Superga’.

Untuk pertahanan, Hererra mempunyai Armando Ricchi, Tarcisio Burgnich, Guarneci, Bedin, full back Giacinti Fachetti, dan kipper Giuliano Sarto yang merupakan pelakon era emas pertahanan catenacio yang legendaris. Inilah formasi yang banyak membawa gelar  bagi Inter sehingga begitu melegenda.

Sistem bertahan man to man, pengawalan ketat, dan libero yang tangguh membuat pertahanan Inter paling sulit ditembus. Ditambah serangan balik yang cepat melalui kedua sayap membuat pers Eropa saat itu menjuluki Inter dengan julukan ‘LeGrande Inter’ atau Mesin Perang Maut Inter.

Hererra yang dijuluki ‘Il Mago’ atau sang penyihir mempunyai kemampuan dalam melakukan pendekatan psikologis untuk memotivasi kemampuan anak buahnya. Kalimat kunci yang diucapkan Hererra di kamar ganti yang selalu dikenang para tifosi Inter adalah, “Bertahan, jangan sampai kebobolan 30 gol., Serang lawan! Hancurkan dengan 100 gol!”

Hererra begitu akrab dengan pemainnya seperti keluarga. Namun ia memegang kendali tim dengan disiplin dan kepemimpinan ala godfather. Konsep Hererra yang masih relevan hingga saat ini adalah ‘risiro’ yaitu pemusatan latihan tiga hari sebelum bertanding dan ‘tifosi’.

‘Tifosi’, dahulunya sangat identik dengan sebutan bagi penggemar Inter yang setia mendukung timnya dengan mengibar-ngibarkan bendera dan mengikuti kemanapun Inter bertanding. Saat pertama berada di San siro, ia merasa kehilangan gairah supporter seperti saat di Nou Camp. Karena itu ia meminta Angelo Moratti untuk mengorganisasi supporter fanatik. Itulah cikal bakal lahirnya tifosi fanatik klub alias ‘ultras’.

Pasukan Hererra merebut gelar scudetto pada 1963. Dan pada tahun berikutnya berhasil maju ke final Piala Champion untuk yang pertama kali. Lawan yang dihadapi saat itu adalah real Madrid yang dianggap superior. Namun secara mengejutkan, pada partai yang berlangsung di Wina Inter berhasil mengalahkan Madrid 3-1. Dukungan tifosi yang fanatik saat itu cukup mencengangkan. Mereka cukup berperan dalam kesuksesan Inter meraih gelar Eropa pertamanya.

Di tahun yang sama Inter juga berhasil meraih Piala Interkontinental (antar benua) dengan mengalahkan Independiente  (Argentina) 2-0 di San siro setelah saat tandang kalah 0-1.

Pada tahun 1965 Inter kembali merebut scudetto. Mazzola sukses menjadi top skorer dengan raihan 17 gol. Kesuksesan Inter makin lengkap saat Inter berhasil merebut Piala Champion untuk yang kedua kali dengan mengalahkan Benfica 1-0 pada partai final yang berlangsung di San siro. Ditambah piala Interkontinental yang kembali direbut,-setelah menekuk lawan yang sama Independiente dengan skor total 3-0 (3-0), (0-0)- membuat Inter menjelma menjadi kekuatan Eropa dan Dunia.

Di tahun 1966 kesuksesan pasukan Helenio Herrera berlanjut. Inter berhasil merebut scudetto yang kesepuluh sehingga berhak mendapatkan tanda bintang di atas logo tim.

Pada tahun 1967 Inter kembali berhasil meraih partai final Piala Champion untuk yang ketiga kali. Namun tanpa Suarez dan Jair yang tidak tampil, Inter gagal mengimbangi Glasgow Celtic-lawan di final-, dan kalah 1-2.

Beberapa hari kemudian kiper Giuliano melakukan kesalahan fatal sehingga gelar scudetto direbut Juventus. Publik San siro pun berduka. Ketika Inter memasuki masa-masa suram, Hererra akhirnya memutuskan untuk mundur. Namun andil Hererra bagi Inter pada dekade 60-an selalu dikenang tifosi Inter sepanjang masa.

Pasca ‘Il Mago’ dan era Trio Jerman

Sebagai pengganti Hererra, Angelo Moratti menunjuk pelatih Ivanoe Fraizzoli. Inter kembali berbenah untuk memodifikasi peninggalan Hererra. Faccheti masih beroperasi di bek kiri. Namun Mazzola digeser sebagai jendral lapangan tengah untuk memberi tempat kepada penyerang muda Roberto Boninsegna yang dibeli dari Cagliari.

Dengan 3 pemain andalan itu, Inter masih mampu merebut scudetto pada tahun 1971. Boninsegna menunjukkan sinarnya di Inter dengan merebut top skorer dengan 24 gol, dan diulanginya tahun berikutnya dengan 22 gol. Sukses Inter saat itu juga ditopang oleh sang penjaga gawang Vieri yang memecahkan rekor saat itu dengan tidak kebobolan selama 685 menit.

Walau lumayan di Seri A, Boninsegna dan kawan-kawan tidak mampu menandingi Cruyff dan kawan-kawan di final Piala Champion tahun 1972 di Roterdam. Inter takluk 0-2 dari Ajax.

Setelah era ini prestasi Inter naik turun. Inter ‘hanya’ mampu meraih gelar Copa Italia pada 1978. Barulah 2 tahun kemudian pada 1980 Inter kembali berhasil merebut scudetto. Saat itu Inter memiliki penyerang Alesandro Altobelli dan Evaristo Becalossi yang cukup produktif dengan raihan 15 gol sepanjang musim. Pelatih Eugenio Bersellini yang saat itu membawa Inter juara juga mengandalkan Gabriele Orialli dan Giuseppe Baresi-saudara kandung Franco; pemain Milan-, dan Karl Heinz Rummeniege. Sukses itu juga ditandai dengan turunnya Milan ke Seri B.

Dengan materi yang saat itu tergolong biasa biasa saja, Inter gagal mempertahankan kesuksesannya. Inter kalah bersaing dengan tim-tim lain yang pada waktu itu memiliki pemain bintang di jamannya. Namun Inter masih bisa menambah gelar Copa Italia pada tahun 1982.

Inter butuh waktu 7 tahun untuk kembali sukses. Giovanni Trapattoni yang datang dari Juventus membawa angin segar bagi Inter. Dengan mengandalkan trio Jerman Andreas Brehme, Lothar Matheus, dan Jurgen Klinsman, Trapattoni berhasil membawa Inter meraih Scudetto pada 1989. Saai itu Trapattoni memang memiliki materi pemain yang lebih dari cukup. Selain trio Jerman, ia juga memiliki pemain-pemain pilar tim nasional Italia seperti Giuseppe Bergomi, Walter Zenga, Ricardo ferri, Nicola Berti dan goalgetter Aldo Serena. Dan akhirnya tahun tahun 1989 dilengkapi dengan merebut Piala Super Italia untuk yang pertama kalinya.

Era Moratti II

Inter masih mengandalkan pemain yang sama saat menjadi scudetto Seri A, ketika merebut Piala UEFA yang pertama pada 1991. Inter juara setelah mengalahkan AS Roma pada putaran final dengan skor total 2-1. Dua gol Inter yang dicetak di San siro oleh Matheus dan Berti tidak mampu dibalas oleh AS Roma.

Pada tahun 1994, Inter kembali maju ke final Piala UEFA dan juara. Inter mengalahkan klub Casino Salzburg dua kali dengan skor 1-0. Pertama di Vienna dengan gol dari Berti dan di Milan dengan gol dari Jonk. Saat itu, Inter juga memiliki bintang di belakang yaitu Roberto Carlos yang beroperasi di bek kiri.

Namun ironisnya, pada masa itu Inter sedang memiliki masalah. Pembelian pemain asing secara besar-besaran membuat keuangan Inter goyah. Akhirnya presiden Ernesto Pelegrini melepas jabatannya dan menjual saham Inter senilai US$ 25 juta kepada Massimo Moratti, putra ketiga Angelo Moratti. Maka dimulailah generasi kedua dalam kepemimpinan Inter dengan sebutan waktu itu yaitu generasi ‘Moratti II’.

Langkah awal yang diambil Moratti untuk menaikkan pamor Inter dengan menempatkan bintang masa lalu Inter seperti Mazzola, Fachetti, dan Suarez sebagai penanggung jawab klub. Walau begitu prestasi Inter masih berkutat di sekitar papan atas Seri A.

Moratti yang ambisius juga terus merogoh koceknya untuk memburu pemain bintang seperti Youri Djorkaef (perancis), Alvaro recoba (Uruguay), Ze Ellias (Brasil), Ivan Zamorano (Cile), Diego Simeone (Argentina) dan Nwanko Kanu (Nigeria).

Dan  perekrutan pemain yang paling heboh tentu saat Inter menarik Ronaldo dari Barcelona. Pemain asal Brasil yang bernama lengkap Ronaldo Luis Nazario da Lima ini ditransfer seharga 30 juta dollar, dan merupakan transfer termahal pada saat itu. Morrati juga merekrut pelatih asal Inggris Roy Hodgson untuk mewujudkan ambisinya. Tahun 1997 Inter kembali melaju ke final Piala UEFA, namun kalah adu penalti dari Schalke 04 (Jerman).

Inter kembali ganti pelatih. Kali ini adalah Luigi ‘Gigi’ Simoni, pelatih dengan karakter agak bertahan. Di tahun 1998 Inter bersaing ketat dengan Juventus dalam usaha meraih scudetto. Namun akhirnya Juventus yang keluat sebagai pemenang. Prestasi Juve saat itu agak ternoda, karena disinyalir pihak wasit selalu berpihak pada Juve. Hal ini mencapai klimaksnya saat Inter bertandang ke Turin. Keputusan-keputusan controversial wasit turut ‘memenangkan’ Juve 1-0 atas Inter. Karena demikian panasnya persaingan, kasus inipun sempat sampai ke meja Parlemen Senat Italia. Bahkan sempat terjadi perselisihan antara dua anggota Parlemen yang membela Inter maupun Juve.Tapi semuanya tetap tidak merubah apa-apa. Juventus tetap scudetto 1998.

Kalau hasil di Seri A kembali mengecewakan, tidak dengan ajang Piala UEFA. Pasukan Luigi Simoni berhasil menorehkan sukses ketiga kali di ajang ini. Dengan format final satu pertandingan (tidak menggunakan format home-away), Inter berhasil mengubur sesama tim Italia Lazio di stadion Parc de Princes, Paris dengan skor 3-0. Inilah gelar yang akhirnya menandai usia Inter selama 90 tahun.

Calciopoli dan Era Kebangkitan di Seri A

Sembilan dekade yang dilalui Inter dengan penuh liku, dan telah menjadikan Inter sebagai sebuah fenomena tersendiri dalam percaturan sepakbola Italia, Eropa dan dunia. Namun Inter masih harus bersabar dengan gelar serie A yang terakhir kali direbut pada tahun 1989. Setiap tahun Inter seringkali menemui kegagalan untuk merengkuh gelar tertinggi di kancah persebakbolaan Italia. Dan ini menjadipersoalan yang seringkali menjadi tanda tanya besar.

Pada tahun 2001, Giacinto Facheti, salah satu legenda besar mantan pemain Inter resmi menjadi presiden Inter. Pergantian di pucuk pimpinan ini diharapkan membawa perubahan dari segi prestasi yang seringkali mandek. Dan hasilnya cukup lumayan. Inter mulai menunjukan potensi sebagai tim besar yang semakin dekat dengan gelar serie A. Pada 2002, Inter sudah sangat dekat dengan gelar, namun sayang di partai terakhir harus kalah dari Lazio dengan skor 4-2 yang ditandai dengan keputusan kontroversial wasit. Akhirnya gelar kembali lepas, kali ini ke tangan Juventus. Kenangan pahit kehilangan peluang di partai terakhir dalam perebutan scudetto sekan mengulang memori mengenakkan tahun 1967.

Pada 2004, Inter mulai kembali menunjukkan taji di Eropa, ketika Hector Cuper membawa Inter ke seminal Liga Champions melawan saudara tuanya AC Milan, walau akhirnya harus kalah selisih gol tandang.

Namun pada tahun 2005 Inter akhirnya kembali merasakan gelar juara walau tetap belum mampu meraih Scudetto. Inter dibawah pelatih Roberto Mancini berhasil memenangi gelar Copa Italia mereka yang keempat kalinya. Kali ini lawan yang mereka kalahkan di Final adalah As Roma lewat gol Adriano di Olimpico dan tendangan bebas Sinisa Mihajlovic di Giuseppe Meazza. Tahun ini juga dilengkapi dengan gelar Piala Super yang kedua untuk Inter setelah mengalahkan rival abadi mereka Juventus 1-0 di partai yang berlangsung di Turin.

Pada 2006 Inter berhasil mempertahankan gelar Copa Italia mereka, dan kali ini dengan mengalahkan lawan yang sama AS Roma (1-1, 3-1) dengan gol-gol dari Julio Cruz di kedua partai ditambah gol dari Cambiasso dan Obafemi Martins. Namun hal yang paling dicatat dalam sejarah persepakbolaan Italia adalah terbongkarnya kasus suap yang melibatkan banyak klub besar seperti Juventus, Ac Milan, Lazio dan Fiorentina. Kasus yang terkenal dengan sebutan ‘Calciopoli’ membawa pengaruh yang besar. Juventus harus degradasi ke Seri B, dengan 2 gelar mereka pada 2005 dan 2006 dicabut. Bahkan akhirnya Federasi Sepakbola Italia ‘melimpahkan’ gelar Scudetto Juventus pada 2006 kepada Inter yang saat itu berada di posisi ke tiga, sebagai pengakuan bahwa Inter merupakan tim yang tidak terlibat skalndal pengaturan skor yang melibatkan banyak wasit dan presiden klub di Italia.

Inilah akhir penantian Scudetto bagi Inter meskipun bersifat ‘gelar limpahan’. Namun sekali lagi Inter membuktikannya dengan kualitas tim sekaligus spotivitas dalam olahraga yang mereka jaga. Tahun 2006 akhirnya ditutup Inter dengan menjuarai Piala Super Italia yang ketiga kalinya dengan mengalahkan AS Roma di partai dimana Inter bangkit dari ketertinggalan 3 gol, untuk kemudian menang 4-3.

Pada tahun 2007, Roberto Mancini menjadi pelatih ketiga dalam sejarah Inter Milan yang membawa Scudeto ‘back to back’ alias mempertahankan gelar, setelah Alfredo Foni (1952/53 and 1953/54) dan Helenio Herrera (1964/65 and 1965/66).Hasil ini sekaligus tercatat sebagai Scudetto yang ke 15 untuk Inter.

Akhirnya Inter menutup perjalanan seratus tahun ‘Centenario’ klub dengan hasil yang manis. Tangan dingin Roberto Mancini menghasilkan scudetto yang ketiga kali berturut-turut. Ditambah satu gelar Piala Super Italia, perayaan Centenario Inter menjadi sempurna. Pesta yang dirayakan di Milan dan di seluruh dunia seakan menandakan eksistensi sebuah klub yang akan terus menorehkan tinta emas dalam sejarah persepakbolaan di Italia maupun di dunia. Dan bagi gue sebagai salah seorang dari jutaan interisti akan selalu tetap berharap yang terbaik, sambil tentunya berharap prestasi demi prestasi berhasil ditorehkan, simana khususnya gelar di Eropa yang sudah cukup lama dinantikan oleh seluruh tifosi Inter di seluruh Dunia.

__________________________________________________________

Era Treble di tahun 2010

Dua tahun setelah perayaan 100 tahun, Inter kembali menggoreskan tinta emas dalam sejarahnya. Setelah berhasil meraih Scudetto 5 tahun berturut-turut, Inter kembali menegaskan supremasinya di dunia dengan meraih Treble (Juara Liga Italia, Juara Copa Italia dengan mengalahkan AS Roma 1-0, dan Juara Liga Champions dengan mengalahkan Bayern Muenchen dengan skor 2-1) plus satu gelar Juara Dunia antar Klub dengan mengalahkan klub Mazembe dengan skor 3-0. Keempat gelar tambahan plus satu gelar Copa Italia pada 2011 membuat Inter semakin menegaskan supremasinya di Italia dan dunia.

Total gelar Inter hingga akhir musim 2010-2011 adalah:

18  Scudeto – Juara Liga Italia   1909/10 1919/20 1929/30 1937/38 1939/40 1952/53 1953/54 1962/63 1964/65 1965/66 1970/71 1979/80 1988/89 2005/06 2006/07 2007/08 2008/09 2009/10

7  Copa Italia   1938/39 1977/78 1981/82 2004/05 2005/06 2009/10 2010/11

5 Piala Super Italia   1989 2005 2006 2008 2010

3 Piala/Liga Champions   1963/64 1964/65 2009/10

3 UEFA Cup  1990/91 1993/94 1997/98

2 Intercontinental Cup  1964 1965

1 World Cup  2010

Torneo di Wareggio 1962, 1971, 1998, 2002, 2008, 2011

__________________________________________________________

Apapun, io sono interista! Gue akan selalu menjadi Interisti yang akan selalu menemani langkah klub kesayangan gue yang satu ini… Forza INTER!

– dari berbagi sumber mostly from Inter.it official website. Special thanks: M.Kusnaeni  dalam buku Sepakbola Italia

__________________________________________________________

Baca juga:

Kumpulan catatan-catatan lain mengenai Internazionale Milano

__________________________________________________________