Hidup memang penuh warna. Ada banyak hal yang melingkupinya. Ada suka, senang, sedih, sukses, kesedihan, semangat, keberhasilan dan banyak hal lain yang kadang seringkali menguras emosi.

Hidup memang dikondisikan demikian. Setiap hal yang terjadi merupakan sebuah kesatuan sistem yang saling berhubungan, suka atau tidak suka. Dan semuanya berjalan beriringan bersama diri kita. Bagaimana kita menjalaninya itu adalah soal pilihan. Mau gampang, dibuat susah, dibawa senang, itu sekali lagi merupakan hak asasi kita untuk memilihnya.

Kelihatannya memang sederhana walau kadang agak sulit. Terlebih jika kita mengalami banyak hal yang tidak menyenangkan sementara kita harus tetap berusaha untuk tersenyum, dan untuk tetap menjalaninya dengan perasaan syukur dan bahagia. Ini yang kadang butuh perjuangan ekstra. Dan biasanya, nggak semua orang bisa melalui tahapan ini… 

______________________________________________________

Berkat, anugerah, ujian atau cobaan dalam hidup memang seringkali datang silih berganti. Begitu juga yang gue alami. Sebagai anak pertama dari dua bersaudara dan berasal dari keluarga yang sederhana, ternyata bukan jaminan kalo gue bisa melalui hidup dengan mudah. Memang, gue selalu melatih rasa syukur setiap saat, tapi gue juga nggak memungkiri kalo kadang gue sering mengikuti emosi yang bisa berujung pada ‘keletihan mental’.

Dan walau gampang diucapkan atau dipikirkan, persoalan ‘menghadapi hidup’ memang kadang butuh upaya ekstra. Misalkan aja gue lagi dapet banyak rejeki karena kebetulan proyek desain gue ada yang gol. Otomatis gue seneng dong… Tapi tanpa diduga, di sisi lain gue harus mendapati kenyataan kalo adek gue lagi sakit. Secara otomatis, gue pasti akan memberikan penghiburan buat adek gue. Meskipun harus berkorban waktu, tenaga hingga uang.

Nah, di posisi inilah, akhirnya gue akan bisa menemukan banyak hal yang membuat gue berpikir makin dewasa. Gimana gue harus mendahulukan kepentingan yang lebih utama ketimbangan kesenangan diri gue semata. Walau tenaga dan uang yang gue keluarkan melulu soal bagaimana adek gue sembuh, tapi semuanya adalah karena alasan kasih. Dan bagi gue alasan ini yang paling utama. Walau agak berat, terbukti di banyak contoh kejadian semacam ini gue berhasil melaluinya. Dan sekali lagi, ini buka soal untung rugi, melainkan hanya soal kasih, kasih dan kasih.

Semua proses yang gue lalui ini adalah sebuah bentuk latihan diri. Sebuah proses penempaan yang pada akhirnya akan berujung pada kepuasan batin dan kebahagiaan. Semua ini memang nggak mudah, dan butuh banyak latihan, bahkan ada beberapa yang harus mengalami hal nggak enak. Tapi sebagaimana sebuah proses pembelajaran, semuanya nggak akan percuma. Pada akhirnya kita akan muncul sebagai pemenang yang mengalahkan nafsu, emosi dan kemarahan, serta kekecewaan. Semua akan terbayar lunas pada waktunya…

Jadi apapun masalah yang kita hadapi, tidak perlu gentar dan berkecil hati. Semua pasti ada cara menghadapi dan solusinya. Bagaimana kita berpikir dan bertindak merupakan sebuah proses pendewasaan tiada akhir yang akan tetap berbuah baik. Jadi, yuk mulai sekarang, cobalah untuk tidak pernah bosan melatih kesabaran. Bukan sekedar ngomong: sabar, sabar… Tapi, bisa dengan kesungguhan hati menjalani kesabaran tadi dengan pikiran jernih, kesadaran penuh, dan pastinya dengan rasa syukur.

Semua hal yang sulit niscaya akan terlihat lebih mudah. Karena dengan melatih kesabaran, perlahan kita juga otomatis sedang belajar untuk melatih mengubah cara pandang terhadap suatu keadaan atau masalah. Dan susah atau gampang, kita harus bisa nemuin caranya yang paling enak. Syukur-syukur malah bisa dapet bonus, yaitu mendapatkan hikmah ataupun pembelajaran akan hidup yang lebih mendalam. Hmmm…..boleh juga kan?….🙂

Jadi apapun yang gue jalanin, gue akan selalu berusaha menjalani dan melihatnya dari banyak kaca mata atau pandangan. Karena dengan begitu, gue nggak akan terpaku pada satu titik pandangan aja, yang mungkin nggak bagus. Gue harus bisa mencari titik-titik pandangan lain yang bisa membuat gue lebih nyaman dan tenang. Dan tentu, yang dibutuhkan hanya satu: kesabaran… Dan tetap, hal ini membutuhkan latihan. Sampai kapan? Sangat tergantung dari sejauh mana kita belajar, memahami dan menikmati hidup… Sederhana bukan?…🙂

Berarti nggak ada lagi alasan buat gue untuk tidak mencintai kehidupan. Apapun keadaannya. Dengan begitu, kesabaran gue akan makin terlatih, dan rasa syukur gue pun akan makin besar….

Life is good…