Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya.

Indonesia sejak dulu kala, selalu dipuja-puja bangsa.

Di sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda.

Tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata….

Ketika gue duduk di salah satu sudut tribun stadion Gelora Bung Karno Jakarta, dan mendengarkan sekitar 95.ooo penonton menyanyikan bersama lagu ini sesaat sebelum dimulainya partai final AFF Suzuki Cup 2010, yang gue rasakan hanya satu: merinding!

Gue pernah menulis di catatan gue beberapa waktu lalu yang berjudul Ijinkan Gue bahagia Sedikit Lebih Lama! mengenai pengalaman gue nonton di Senayan yang selalu membawa atsmofer berbeda walau hasilnya nggak jauh beda: kalo nggak kalah ya seri! Dan sore itu gue juga datang dengan semangat yang sama sekaligus ‘mempersiapkan diri’ untuk menerima apapun hasil yang akan dicapai timnas Indonesia pada partai final kedua melawan Malaysia. Defisit 3 gol, sama sekali tidak membuat gue ragu bahwa timnas bisa membalikkan keadaan di Senayan. Tapi ketika melihat, merasakan dan mengalami langsung atsmofer senayan yang luar biasa, membuat gue nggak lagi memikirkan apapun hasil akhir di pertandingan nanti. Gue udah keburu jatuh cinta sama semua suasana ini. Dan ada yang bilang, ketika orang jatuh cinta, tai kucing pun berasa coklat! ^^

__________________________________________________

Tahun ini sebenarnya bagi gue merupakan momentum terbaik buat timnas Indonesia meraih impian juara setelah hadir di partai Final untuk keempat kalinya. Permainan yang impresif sejak awal di partai penyisihan grup, kombinasi pemain muda-berpengalaman yang kompak, pelatih bertangan dingin, gugurnya Thailand, Singapura dan Vietnam (sebagai 3 rival terberat), serta dukungan dari seluruh rakyat Indonesia yang nggak ada habisnya. (Walaupun ada yang bilang, dukungan yang berlebihan juga bisa membuat segala sesuatunya menjadi anti klimaks). Dan ternyata, lagi-lagi Indonesia harus menahan diri untuk mengangkat trophy juara sekali lagi. Dan untuk kedua kalinya, kegagalan ini harus dirasakan saat bertanding di Senayan.

Tapi, ketika akhirnya gue  memutuskan untuk bergabung bersama ratusan ribu rakyat Indonesia di Senayan (walau hanya 1/3-nya yang bisa masuk stadion), ketika gue mengenakan syal kebanggan yang gue beli setahun lalu, dan ketika gue harus membeli tiket dari calo dua kali lipat harganya, saat itu juga gue bersiap untuk merayakan kemenangan sekaligus kekalahan. Dan sepeti ada pepatah; ringan sama dijinjing, berat sama dipikul, kekalahan agregat yang membuat Indonesia kembali gagal juara terasa begitu ringan, dan bahkan boleh dibilang tetap menghadirkan suasana yang menggairahkan!

Kedewasaan suporter, semangat tanpa henti, dan banyak pengorbanan lain yang dilakukan hanya untuk mendukung kesebelasan timnas kita selama 90 menit sore itu seakan menjadi saksi, kalo rakyat Indonesia sebenarnya merupakan bangsa yang pemberani. Berani untuk datang ke stadion walau harus menempuh ratusan kilometer, berani bertahan dalam ketidak pastian ketika mengantri tiket, berani mengeluarkan uang tidak sedikit buat transport, bayar tiket dan makan, serta pastinya berani untuk menerima apapun hasilnya nanti, menang atau kalah.

Keberanian untuk berpesta dibuktikan di Senayan. Semua merayakan kemenangan 2-1 timnas Indonesia walau tanpa mahkota. Gue dan banyak lainnya larut dalam euforia sukacita, karena kita sama-sama memiliki semangat dan kebanggan yang sama sebagai sebuah bagian dari sebuah bangsa. Dan jujur, ini hanya bisa gue dapatkan saat di Senayan, bukan di lapangan upacara apalagi di istana merdeka!

Kejuaraan boleh berakhir. Para pengurus federasi yang tetap sok bener juga masih ada. Tapi, semangat Gelora Bung Karno di setiap pertandingan akan selalu dikenang sebagai sebuah bentuk keberanian rakyat Indonesia. Berani untuk mengejar kemenangan, berani untuk menerima kekalahan, dan berani untuk menjadi saksi mata dengan kepala yang tetap tegak. Jika berani menang, berani kalah dan berani berpesta, jangan ragu untuk datang ke Senayan!

Dan pastinya: ke Senayan gue akan kembali!