Menjadi seorang ‘Kolektor Sampah’. Istilah ini gue dapet dari salah seorang seorang dosen gue di ADVY beberapa tahun lalu. Memang ini ada kaitannya sama bidang ilmu yang saat itu gue pelajari, yaitu desain grafis. Intinya, sebagai seorang desainer (grafis), kita harus menjadi kolektor sampah. Sampah di sini adalah banyak hal yang bisa menjadi sumber inspirasi dalam menggali ide-ide kreatif. Entah itu kliping contoh Print Ad, contoh desain brosur, buku, poster (dan apapun jenisnya), serta segala macam barang/media yang memang memiliki nilai estetis secara visual.

Jogja beberapa tahun lalu mungkin agak sedikit berbeda dengan Jakarta saat ini. Mungkin saat ini, hal yang berhubungan dengan mengumpulkan ‘sampah’ yang estetis itu bisa dengan mudah kita temui pada galeri, toko barang antik, atau melalui internet sekalipun. Tapi memang, kegiatan ’mengumpulkan’ yang gue lakukan dengan mencari ke sana-sini dimana beberapa diantaranya adalah hasil pemberian, merupakan sebuah bentuk keasikan tersendiri. Dan gue nggak peduli kalo yang gue kumpulin itu sebenarnya hanyalah sampah!

_____________________________________________________

Walhasil gue jadi rajin ngumpulin banyak hal yang mungkin bagi kebanyakan orang adalah barang-barang yang nggak penting dan nggak berguna. Kumpulan barang-barang cetakan dengan desain yang bagus, potongan-potongan iklan cetak atau foto yang keren punya, sampe barang-barang unik yang memiliki nilai keindahan tiada tara (minimal menurut gue)… hehehe
Dan kebiasan itu kadang masih kebawa sampe sekarang…

Beberapa tahun kemudian, ceritanya gue lagi beberes lemari buku gue. Seperti kebisaan gue yang suka aja bongkar pasang barang-barang gueuntuk kemudian gue atur lagi, maka dengan semangat pula gue mengeluarkan isi dari beberapa lemari buku gue untuk sekedar merapikan dan sekaligus melihat-lihat lagi ‘koleksi sampah’ yang gue miliki.

Ternyata menarik juga.  Koleksi sampah yang gue kumpulin selama bertahun-tahun ternyata sangat beragam, dan kadang membawa gue ke banyak kenangan di jaman kuliah dulu. Semua masih tersusun rapi dan lengkap. Biasanya gue filing ke dalam beberapa bagian berdasarkan media/jenis desain. Misalnya, bagian brosur, buku, majalah, company profile, packaging, dan lain-lain. Dan memang kadang ketika gue membutuhkan banyak ide yang harus gue lahirkan dalam mengerjakan sebuah proyek desain, misalnya; koleksi sampah gue ini lumayan cukup memberikan ‘kesegaran’ dan ‘stimulus’ yang lumayan buat otak gue.

Di salah satu tulisan gue terdahulu yang berjudul ‘Dibuang Sayang’, gue pernah membahas mengenai kebiasaan gue yang selalu menyimpan banyak barang yang mungkin kadang udah nggak kepake. Dan malam itu pun gue kadang kala berpikir, apakah gue masih membutuhkan semua koleksi sampah gue ini, di tengah semakin mudahnya gue menemukan sumber inspirasi lewat cara yang lebih praktis saat ini? Tinggal googling, mau cari apa juga ada…

Biasanya kalo udah gini, faktor ‘kenangan’ yang seringkali juga akhirnya yang membuat gue tetap mempertahankan barang-barang lawas itu. Sayang gue buang, karena banyak kenangannya… halah! Kadang emang gue suka senyum sendiri ketika melihat salah satu koleksi sampah gue, misalnya adalah sebuah katalog pameran pada tahun 1999 dengan desain nuansa Jogja yang apik. Nah, berarti catalog itu udah tersimpan di lemari buku gue selama hampir 11 tahun kan? Luar biasa… Padahal bagi sebagian orang catalog itu mungkin udah dibuang bahkan seminggu setelah event itu berlangsung! Hehehe

Memang mau nggak mau, gue memang harus ‘mensortir’ lagi koleksi sampah gue agar tidak semakin memenuhi rak lemari buku gue. Memang sih sempet kepikiran untuk memindainya atau memfoto agar menjadi format JPG dan bisa disimpan di hard disk. Tapi tetep aja, yang namanya sensasi ‘sentuhan’ dan visual akan berbeda dengan bentuk desain yang sudah tercetak alias nyata.
Semua koleksi gue ini memang cuma ‘sampah’ yang kadang nggak berguna buat orang lain (dan mungkin udah nggak berguna lagi buat gue). Tapi kadang nilai keindahan, kenangan, menjadi sisi lain yang membuat gue tetap nggak pernah bosan untuk melihat dan melihat nya lagi. Mungkin nggak ada nilai ekonomisnya, tapi yang pasti bisa bikin otak gue jadi seger….

Namun, jika sampai pada satu titik, dimana gue harus ‘tegas’ karena ini menyangkut urusan tersedia atau tidaknya space di lemari buku gue, maka dengan berat hati pun gue akan memilah-milah sampah yang harus gue singkirkan. Tapi sebisa mungkin juga, gue akan kasih aja ke orang lain yang emang membutuhkan. Misalnya ke anak-anak kuliahan desain grafis, walau gue juga nggak yakin sih kalo mereka mau terima sampah dari gue walau gratis. Mungkin pikir mereka, ”Aduh gak ada tempatnya kali… Nggak praktis ah!”

Gue sih bisa mengerti alasan mereka. Karena emang nggak semua orang bisa ngerasain keasikan mengumpulkan sampah dan bisa menikmati keberadaannya, meskipun melalui sebuah proses yang bagi orang adalah: ’kurang kerjaan.’ Tapi kalo boleh mengutip salah satu pesan utama dari TVC Visa Card; kadang-kadang untuk bisa melakukan hal yang kita sukai nilainya: priceless! Alias nggak bisa dibayar dan diganti sama uang berapapun banyaknya… hehehe

Dan selama gue masih merasa senang akan keberadaan sampah-sampah gue itu, maka gue akan tetap menyimpannya, yang juga berarti umur mereka masih bisa bertambah lagi sampai beberapa tahun ke depan…