Jakarta hujan. Dan seringkali datang menjelang sore. Panas di tengah hari, mulai gelap gulita karena mendung di sekitar jam 3 sore, dan akhirnya hujan tumpah ruah sekitar jam 4 sore hingga malam… Seringkali seperti itu. Dan setiap sore menjelang malam, gue selalu saja membenamkan diri untuk tetap berada di kantor sampai hujan benar-benar reda. Dan pemandangan hujan deras, angin kencang, dan kota Jakarta yang seakan-akan ‘ditelan’ badai selalu aja gue lihat dari kaca kantor gue di lantai 21. Agak serem juga… Tapi lama2 jadi agak terbiasa juga menyaksikan perubahan cuaca yang super ektrim…

Jakarta hujan. Berarti akan ada banyak kisah dan cerita. Dan selalu tentang hiruk pikuk lalu lintas yang makin ‘nggak jelas’, genangan (yang kalo banyak istilahnya: banjir!) yang seringkali menjadi sesuatu yang akrab dengan warga ibukota, dan banyak hal lain yang seakan saling berhubungan satu sama lain hanya karena satu alasan: hujan!

________________________________________________________

Udah jam setengah delapan. Gue nekat aja mau balik dari kantor, walau hujan masih lumayan agak deras. Gue keluarin payung kecil yang biasa gue simpen di tas, dan gue mulai berjalan mencari kopaja 66 yang akan menghantarkan gue ke stasiun Sudirman. Sepanjang jalan gue melihat banyak kendaraan, motor, mobil, yang pasrah menunggu antrian yang seakan tanpa ujung. Macet dimana-mana. Dari wajah-wajah para pengendara terlihat raut yang penuh kelelahan, kemarahan mungkin, plus kelaparan tentunya.

Helm dan mantel setebal apapun seakan nggak bisa membuat otak para pengendara sepeda motor jadi lebih tenang. Dan gue pikir, di musim hujan kayak gini, berkendara motor memang membutuhkan tenaga, kemuan dan perbekalan yang ekstra. Ketika lelah mendera saat di kantor, pulangnya kita harus kembali berhadapan dengan alam yang nggak kalah ‘galak’. Dan pastinya, walau ingin secepatnya berakhir, kemacetan akhirnya membuat perjalanan kala hujan menjadi berasa makin lamaaa… Jakarta memang nggak nyaman buat para pengguna sepeda motor, atau mobil sekalipun…

Gue udah sampai di seberang jalan, menunggu kopaja. Masih hujan, dan perasaan mulai nggak enak ketika melihat kerumunan orang yang menunggu bis makin banyak, tanpa ada tanda-tanda satu pun bis yang nongol. Yup! 10 menit kemudian akhirnya muncul kopaja yang gue tunggu; tapi percuma. Penuh! So, kembali harus menunggu. Masih dalam hujan. Sedikit angin agak besar membuat jaket gue mulai basah terkena tampiasan air hujan… Mulai dingin, dan mulai berasa laper…

Setengah jam nggak dapet bis. Hanya 3 yang lewat dan semuanya penuh. Taksi pun tiada. Semua juga penuh. Mulai BT. Karena kebayang jadwal naik KRL gue pun pastinya meleset. Okelah gapapa gue akan naik KRL berikutnya. Tapi soal jadwal KRL sih gampang. Yang penting gue nyampe stasiun dulu lah… Makanya gue langsung menuju ke pangkalan ojek. Sebenarnya sih gue agak males, karena ngelihat dari tampang para tukang ojek udah menunjukkan tampang yang jutek abis… Dan bener aja. No mercy! Tanpa ampun para tukang ojek memberikan harga ‘spesial hujan’ yang bikin gue makin sebel aja. Tarif yang biasa dari kuningan ke St. Sudirman cukup 10.000 perak kini melonjak jadi 30.000! Mentok di 25.000 perak. Bah!

Bukannya gue orangnya ngalahan sama ‘ketidakadilan’, tapi gue emang nggak punya plihan lain, karena gue harus nyampe stasiun 20 menit lagi. Akhirnya gue memutuskan naik ojek ke st. Sudirman dengan menyerahkan duit 25 ribu perak. Masih hujan, sedikit deres, sedikit ringan. Tapi tetep aja baju dan jaket gue agak basah. Ya sutralah… yang penting gue bisa cepet sampe stasiun dan nggak ketingalan KRL. Sambil kebut, si tukang ojek meliuk-liuk di jalan menyalip puluhan hingga ratusan mobil yang terjebak macet. Yah, setidaknya gue masih merasa sedikit beruntung walau kebasahan karena hujan daripada mereka yang seakan pasrah menunggu kapan macet akan berakhir…

Sampai stasiun kurang 5 menit. Penuh sesak calon penumpang KRL. Di peron, di loket, di tempat jajan. Penuh. Ada yang mau ke Serpong, ke Tangerang, ke Bogor, atau ke Bekasi. Semua dengan kondisi yang nyaris sama. Cape, basah kuyup dan laper! Dan rasa lapar gue makin menjadi (plus rasa kesel tentunya) ketika gue dapet kabar dari petugas peron kalo KRL ke Serpong mengalami keterlambatan cukup lama karena jalur di daerah Bintaro kebanjiran. Gue dan ratusan penumpang lain harus menunggu lagi… Bisa 1 jam, bisa 2 jam…

Hujan bukan makin pelan tapi malah makin nambah daya… Dengan basah kuyup yang masih belum hilang ketika naik ojek tadi, akhirnya gue cuma bisa ketawa ketiwi dalam hati. Melihat betapa Jakarta menjadi kota yang sangat menyusahkan jika hujan turun. Dan mungkin yang ada di pikiran gue sama seperti ratusan orang yang terjebak di stasiun, terjebak di kemacetan dari balik kemudi atau yang bersepeda motor, terjebak di warung-warung pinggir jalan, dan siapapun yang terjebak sama keadaan yang emang harus dilalui. Selalu banyak cara menuju rumah memang, tapi saat hujan di Jakarta, cara apapun nggak ada yang mudah.

Badan dan otak gue akhirnya bisa lumayan hangat ketika gue memesan sepiring bakwan malang dan segelas teh hangat di stasiun. Bersama penumpang setia KRL yang juga sama-sama lapar dan lelah, akhirnya gue pun mulai menikmati suasana Jakarta kala hujan. Nggak ada pilihan yang lebih enak memang saat ini. Dan mungkin dengan menikmati makanan sambil menunggu jadwal KRL yang belum jelas juga menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa dan paling ‘aman’. Karena gue ogah banget harus mengarungi belantara jalan raya di tengah hujan dan banjir di mana-mana.

Masih hujan. Saat susah, saat senang dan saat basah, semua dilakoni bebarengan. Dan mungkin kebersamaan semacam ini masih akan gue lalui dalam beberpa bulan ke depan… Brrr….