Meringis, ketawa dipaksakan, celingak-celinguk, mondar-mandir, bangun-duduk-berdiri-melangkah, mendelik, menelan ludah…

Sepintas raut muka, mimik, serta gestur kelihatan lucu. Tingkah polah yang serba salah, kadang memang mengundang tawa. Dan mungkin mimik itu yang sering gue ‘perlihatkan’ ke orang di sekeliling gue. Mungkin aja gue jadi ‘bahan tontonan’ karena berperan cukup baik dalam sebuah adegan dagelan ketika gue sedang merasa khawatir…

Pinginnya sih mau enjoy aja jalanin sesuatu, tapi kadang kekhawatiran membuat tindak-tanduk gue menjadi ‘nyebelin’. Mungkin buat diri gue sendiri, mungkin buat orang-orang terdekat yang ada di sekitar gue, dan bisa juga buat orang lain yang sebenarnya gak ada hubungannya apa-apa. Segala hal yang gue lakuin jadi serba salah, serba ‘grasa-grusu’ dan mungkin bisa membuat orang lain menertawakan diri gue; layaknya menonton sebuah dagelan…

________________________________________

Dan gue akuin, kadang memang susah untuk menghilangkan begitu aja sebuah perasaan khawatir akan segala sesuatu. Kalau melihat dari segi etimologis, khawatir berarti:

takut – adjective (gelisah, cemas) thd suatu hal yg belum diketahui dng pasti;
meng·kha·wa·tir·kan v 1 khawatir thd suatu hal: ia ~ kesehatan anaknya;

2 menimbulkan rasa khawatir: keadaan jantungnya sangat ~;
ke·kha·wa·tir·an n perasaan khawatir; kecemasan: timbul ~ dl dirinya, kalau-kalau ia tidak lulus ujian

Jadi jelas kalo rasa khawatir itu sebenernya memang berhubungan dengan hal yang belum pasti. Tapi justru yang belum pasti itu yang seringkali menjadi alasan untuk membuat gue makin merasa lebih khawatir. Gimana kalo… atau gimana seandainya…

Padahal di sisi lain, sebuah ketidakpastian juga menyimpan banyak banget kemungkinan yang salah satu atau salah banyak diantaranya adalah hal yang ‘enak’ dalam arti nggak seburuk yang gue kira. Tapi emang, tetep aja susah. Bahkan saat gue menulis ini pun, gue masih aja punya rasa khawatir akan segala sesuatu; seandainya semua berjalan tidak sesuai dengan yang gue inginkan.

Memang sih, hal ini wajar dan manusiawi. Rasa khawatir adalah normal seperti rasa-rasa lain yang gue alamin. Misalnya aja rasa lapar. Mau ditahan kayak gimana ya kalo belum makan tetep aja berasa laper… Nah kalo gue udah mulai khawatir, apa yang harus gue lakuin dong buat menghilangkannya atau minimal untuk ngurangin perasaan itu di otak gue?

Dengan menulis di blog ini mungkin menjadi salah satu terapi buat gue. Dengan menulis tentang rasa khawatir, gue jadi bisa lebih memahami dan mengenali kekhawatiran itu. Jadi dengan semakin mengenal (awalnya dari definisi kata aja dulu) maka gue bisa mencari ‘celah’ untuk mencari cara yang enak buat ngilangin rasa kekhawatiran itu.

So, kalo menurut definisi kata kekhawatiran adalah rasa takut mengenai hal yang belum pasti, ada baiknya gue mulai belajar untuk takut hanya kepada hal yang memang saat ini (detik ini) sedang terjadi. Misalnya aja gue harusnya takut kalo emang saat ini (detik ini) gue melihat sebuah sebuah air bah berkecepatan 150 km/jam yang datang dari arah laut setinggi 20 m dan menyapu setiap hal yang dilewatinya. Dan gue berdiri  hanya 100 m dari arah datangnya arah air bah itu!! Mau kabur kemana coba loe…

Jadi kalo emang air bah itu nggak ada, atau emang ada tapi jaraknya masih 50 km di belakang, ya harusnya gue nggak perlu ngerasa khawatir dulu sekarang. Sekali lagi ini memang soal ‘mind control’ ; yang justru jadi susah buat gue. Karena  ‘melakukan sesuatu’ kadang menjadi hal yang lebih mudah ketimbang ‘memikirkan sesuatu’.

Hal yang masuk ranah pikiran yang seharusnya lebih bisa gampang di-kontrol justru menjadi hal yang malah seringkali bikin hidup jadi berat banget. Padahal kalo gue sedang melakukan pekerjaan seberat apapun, kadang nggak membuat gue jadi ‘susah’. Tapi sedikit aja rasa khawatir malah bisa bikin gue bisa nggak tidur semaleman, hiii….

Makanya gue kayaknya memang harus akrab sekalian sama yang namanya ‘hal kekhawatiran’ tadi. Semakin gue paham, semakin gue mengenal karakternya, maka gue pun bisa mencari cara ‘menghindarinya’. Seperti kalo gue tahu akibat jelek pake narkoba, maka dengan senang hati juga gue akan menghindari untuk menggunakannya… Walau kalo soal rokok, gue agak2 ndablek… hehehe

Tapi minimal gue nggak mau ngerugiin diri sendiri dan orang lain karena hal yang gue khawatirkan. Jadi ndak perlu lah gue memainkan lakon dagelan akan hal-hal konyol dan lucu yang gue lakuin hanya karena gue khawatir. Mending dagelan ini gue konsumsi pribadi aja, dan gue harus berubah sebelum orang lain ikut menertawakan kekonyolan gue… hehehe

Dan bukan sok religius kalo gue ingin mengutip salah satu injil Matius (dan sumpah! nggak bosen gue ngebacanya…)

Matius 6:25-34
6:25 “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?
6:26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?
6:27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
6:28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,
6:29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.
6:30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?
6:31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?
6:32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.

Jadi sekali lagi: khawatir = hal yang belum pasti.

dan ‘hal yang pasti’ = detik ini!

Dan sampai detik ini pun, gue belum melihat air bah itu…🙂🙂