Memutar kembali kenangan di jaman gue SD, SMP dan mungkin sampai SMA. Keseharian yang gue lewatin di daerah kota Tangerang, sebuah kota yang selalu saja terlihat hiruk pikuk. ‘Digadang-gadang’ sebagai kota ‘penyangga’ bagi ibukota Jakarta, membuat denyut nadi kehidupan Tangerang cukup berasa. Layaknya Jakarta, Tangerang merupakan kota dengan penduduk yang sangat heterogen. Orang dari berbagai suku, agama dan latar belakang tumplek blek di sini. Tidak ada satu suku dan budaya yang mendominasi membuat Tangerang tumbuh menjadi kota yang kadang sering kehilangan ciri khas-nya.

Bahkan sampai jaman kuliah di Jogja, gue selalu aja bingung kalo temen-temen gue nitip oleh-oleh. Gue bingung mau beliin apa. Karena gue nggak bisa nemuin oleh-oleh khas dari Tangerang. Makanan, misalnya. Apa Tangerang punya makanan tradisional yang menjadi ciri khas? Begitu juga dengan tempat-tempat yang menjadi landmark kota. Susah banget buat nemuin atau sekedar ‘menentukan’ tempat-tempat istimewa yang memiliki ciri khas dan keunikan sehingga bisa dijual di brosur pariwisata, misalnya. Tangerang ya kayak gitu itu. Kota dengan masyarakat dan budaya yang berbaur jadi satu. Penilaian tentang kota Tangerang yang gue tahu sejak dulu ya, paling seputar kota Industri (karena banyak pabrik), kota penjara (karena banyak lapas), atau bisa juga dihubungkan dengan masyarakat Cina Benteng-nya. Selebihnya, beneran susah untuk mencari hal yang benar-benar istimewa di Tangerang.

Karena itu, mungkin jadi agak ‘aneh’ kalo di tulisan ini gue ingin menarik kenangan gue sekaligus untuk bercerita mengenai kisah yang dulu lewati tentang dua buah jalan yang bernama jalan Kisamaun dan jalan Ki Asnawi. Kedua jalan ini memang menjadi pusat perniagaan di Tangerang. Letak keduanya bersebelahan di pusat kota Tangerang.

__________________________________________________________________

Menjadi istimewa dan mungkin sedikit berlebihan karena gue juga membanding-bandingkan jalan Kisamaun dan Ki Asnawi ini dengan jalan Malioboro yang legendaris itu! Tapi sebenarnya, yang gue coba ingin kisahkan di sini adalah; bagaimana kedua jalan ini dulunya pernah menjadi trend setter di kota Tangerang khususnya dalam hal tempat tujuan belanja dan pusat niaga; namun saat ini sudah mengalami banyak perubahan.

Jalan Kisamaun dan Kiasnawi sendiri letaknya di daerah sekitar Pasar Lama, yang sejak dahulu kala merupakan daerah yang menjadi ‘kantung’ penduduk masyarakat Cina Benteng. Boleh dibilang, kawasan ini dikenal sebagai Pecinan-nya kota Tangerang, sama dengan Malioboro yang dikenal sebagai kawasan Pecinan kota Yogyakarta.

Di sepanjang kedua jalan ini berderet toko-toko yang menawarkan beraneka ragam barang, dan di bagian trotoar-nya pun di penuhi pedagang kaki lima yang juga menawarkan barang aneka rupa. Sepintas memang mirip kawasan Malioboro, walaupun tidak banyak barang-barang khas ataupun kerajinan tangan yang bisa ditemukan di sini.

Tapi kalo ingin melihat ke belakang, kawasan jalan Kisamaun Ki Asnawi menjadi pusat belanja karena waktu itu kawasan belanja lain seperti plaza atau mal memang belum ada di Tangerang. Nggak heran kalo susana sehari-hari di kedua jalan ini selalu saja dipenuhi aktivitas jual beli yang menggairahkan. Istilahnya, kalo mau mencari sesuatu ya, ke sini. Cukup di satu daerah, dan nggak perlu kemana-mana lagi.

Ada beberapa tempat yang cukup punya kenangan di daerah ini buat gue. Karena memang di tempat-tempat inilah gue biasanya mencari dan memenuhi kebutuhan gue (bahasanya!) atau sekedar menghabiskan waktu bareng teman-teman jaman SMP dan SMA dulu:

Ujung Bakery. Tempat ini adalah toko roti sekaligus resto. Letaknya persis di ujung jalan pertemuan antara jalan Kisamaaun dan Kiasnawi. Bangunan berlantai tiga ini jaman dulu sangat ramai, bahkan untuk makan di sana sampe antri tempat duduk. Makanannya cukup beragam; dari makanan Indonesia sampai Chinesse food. Tapi jaman dulu yang paling banyak dipesan adalah Fried Chicken model-model KFC gitu deh. Secara jaman dulu gerai KFC dan sejenisnya memang masih jarang kali ya… Untuk kue dan roti juga cukup lumayan beragam. Kalo yang paling enak menurut gue adalah roti sosis. Sosisnya gede dan rotinya juga lembut… Dulu bude gue sering beliin roti sosis ini kalo pulang kerja. Sekarang, Ujung Bakery udah mulai sepi dan seakan-akan mati segan hidup tak mau. Konsumen udah nggak sebanyak dulu lagi, dan ini berimbas pada jenis menu yang tersedia di sana. makin lama makin dikit. Gue juga nggak ngerti apakah roti sosis kesukaan gue itu masih ada…

Bakmi Medan. Letaknya memang sedikit agak masuk dari jalan Kiasnawi. Jadi nggak di pinggir jalan persis. Tempat makan khas Medan ini memang sampe sekarang citarasa-nya nggak berubah walau dari segi harga udah jauhh banget.  Seporsi makanan yang mengandung B2 (maaf) ini dulunya mungkin hanya sekitar 5000-an perak. Kalo sekarang mungkin udah hampir 20.000 untuk porsi yang besar. Tapi ada satu hal unik di tempat makan ini. Ada seorang pengamen yang biasa ada di warung ini (kalo tebakan gue sih kayae dia masih keluarga jauh sama yang punya warung kali ya, hehehe). Pengamen ini setelah sekian belas tahun ternyata masih ada dan dengan gaya yang sama pula! Gila ya, emang dia yang nggak ada kemajuan dalam karir atau karena dia memang begitu mencintai pekerjaannya ya? ckckck…

Toko buku Pembina. Ini adalah toko buku dan alat tulis yang paling favorit se-Tangerang waktu itu. Di toko ini gue biasa mencari barang kebutuhan sekolah yang nggak dijual di toko buku di pasar deket rumah gue. Dan pada waktu itu, koleksi barang di toko ini sangatlah lengkap. Di toko ini pula gue inget pernah mendapatkan gitar pertama gue, trus buku lagu daerah yang waktu itu wajib dibeli, sampe suling! Aduh jadi geli kalo inget pas SMP kita semua diwajibkan untuk beli suling. Tapi gitu-gitu merk-nya Yamaha, bo! hehehe

Toko Kaset sebelah bioskop (gue lupa namanya). Jaman dulu ketika kaset dengan pita hitam kecoklatannya itu masih jadi primadona, toko ini jadi trend setter pecinta musik di Tangerang. Koleksi kasetnya luengkaap banget! Dari yang album terbaru sampe album yang udah agak jadul. Gue jadi inget sama toko kaset Popeye yang ada di Jogja atau Toga Mas kalo ndak salah yang ada di daerah malioboro. Pokoknya setiap gue maen ke toko kaset itu, selalu aja gue pulang dengan membawa daftar album apa aja yang bakal gue beli. Walau nggak semua juga akhirnya bisa dibeli, karena selain soal dana yang pas-pasan (maklum jaman sekolah), juga karena belum kesampaian beli, udah ada album lain yang lebih asik… hehehe

Sabar-Subur. Kalo yang ini adalah toko serba ada. Sekarang, Sabar Subur masih eksis, walau pamornya nggak kayak dulu. Selain Sabar Subur, ada satu toko serba ada lagi yang kayaknya sih masih ‘saudara sekandung’ yaitu Subur. Jaman dulu, Sabar Subur adalah tujuan utama kalo pingin nyari baju hingga belanja kebutuhan pokok sekalipun. Sekali lagi, ini juga karena model Matahari, Hypermart, Carefour, sampe Rimo emang belum eksis banget di Tangerang. Kalo pas deket lebaran, belanja di Sabar Subur berasa belanja di Tanah Abang! Penuh sesak. Tapi kalo melihat keadaannya saat ini, yah… gitu deh. Masih ramai, tapi udah nggak kayak dulu lagi. Ini mungkin yang membedakan dengan toko-toko batik di Malioboro. Meskipun sudah banyak sekarang galeri batik yang lebih modern, tapi toko-toko lamanya masih tetap aja eksis. Mungkin nilai historis-nya yang membuat kita selalu ingin kembali, kali ya…

Toko olahraga Cahaya. Kalo yang satu ini sampe sekarang masih cukup beken di Tangerang. Karena selain lengkap, toko ini juga menjual perlengkapan olahraga berkualitas dengan harga yang tidak terlalu mahal alias terjangkau. Yah minimal beda harganya lumayan lah jika kita membeli di toko-toko olahraga besar yang ada di mal. Selain alat olahraga, toko ini juga memiliki koleksi pakaian olahraga dan piala-piala yang biasa digunakan untuk pertandingan. Pokoe, koleksi lumayan lengkap. Belum lama, gue juga mendapatkan raket bulutangkis merk RS di toko ini, sekaligus pasang senarnya. Sekarang toko Cahaya udah punya beberapa cabang dan saingan. Ada beberapa toko olahraga sejenis yang berdiri dengan menawarkan banyak juga pilihan koleksi peralatan olahraga yang cukup lengkap. Kalo gue sih seneng-seneng aja, soale kan jadi lebih ada banyak pilihan… hehehe

Jajanan dan cemilan. Di daerah ini pastinya juga berlimpah ruah segala jenis jajanan dan cemilan. Baik yang kemasan pabrik sampe yang bikinan rumahan. Semuanya rata-rata enak, dan memang agak susah nemuin di tempat lain. Jadi kalo ada keperluan yang berhubungan sama makanan memang gue dan keluarga gue pun akan berburu di daerah sini, walau seperti yang udah gue tulis di atas, nggak ada makanan yang bener-bener ciri khas Tangerang. Tapi yang ada, semua jenis makanan dari berbagi daerah justru bisa aja ditemukan di sini…

Itu mungkin beberapa tempat yang gue inget, walau masih banyak lagi yang lainnya. Tapi gue hanya ingin memutar kembali kenangan tanpa bermaksud ingin membandingkan susana jalan Kisamaun dan Kisamaun yang dahulu dengan sekarang. Nggak tega gue…😦 Sekarang kedua jalan ini terutama jalan Kisamaun makin kelihatan sepi dari tahun-ke tahun, kecuali saat lebaran, dimana banyak pedagang kaki lima kagetan yang membuat jalan ini kembali sedikit bergairah. Tapi di hari-hari biasa, nggak ada lagi kesibukan seperti beberapa tahun lalu. bahkan di beberapa toko mungkin tinggal menunggu waktu bangkrut aja sambil berharap bisa menjual sisa-sisa barang yang ada…

Beda dengan Malioboro yang tetap bisa eksis karena mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman. Di sisi lain, Malioboro juga mampu mempertahankan nilai-nilai budaya (dan ini jadi kelebihan) agar tetap menjadi tempat yang dituju oleh para pelancong. Jika sekedar menjadi tempat belanja, memang lambat laun daerah itu akan segera ditinggalkan para konsumen. Karena, selain makin menjamurnya pusat belanja modern, semua juga udah bukan soal harga aja, tapi lebih ke kualitas barang dan juga suasana belanja. Itu mungkin sebabnya tempat belanja kayak Pasar Baru, Tanah Abang atau Mangga Dua masih tetap eksis, walau sifatnya masih ‘semi tradisional’. Karena mereka tetap mampu menjaga nilai-nilai yang diinginkan sama konsumen. Baik itu kualitas barang, harga yang oke punya, dan suasana belanja yang menyenangkan. Tidak perlu identik dengan tempat yang bagus atau gedung berlantaikan marmer, mungkin. Tapi suasana yang penuh keramahan, lingkungan yang tertata rapi dan indah, atau dengan sering diadakannya event-event khusus, bisa membuat suatu tempat belanja yang udah ada sejak puluhan tahun bisa tetap bertahan di tengah persaingan dengan pusat perbelanjaan baru yang lebih modern.

Dan sebenernya memang berlebihan kalo sekarang membandingkan Kisamaun, Ki Asnawi dengan Malioboro. Bagi gue loh ya, Kisamaaun dan Kiasnawi lebih banyak tinggal kenangan aja. Karena daerah itu nggak lagi jadi primadona buat gue dan banyak orang Tangerang buat ‘mencari sesuatu’, kecuali untuk barang-barang tertentu seperti obat-obatan Cina, makanan khas, dan mungkin beberapa peralatan olahraga. Selebihnya, mending gue sekalian ke Jakarta kalo emang gue nggak nemuin apa yang gue mau di mal.

Sebenarnya sih bisa aja menghidupkan kembali suasana seperti dulu lagi, asal pihak pemerintah daerah mau melakukan sesuatu, sehingga Kisamaun dan Ki Asnawi tetap akan menjadi tempat belanja yang dituju di daerah kota Tangerang dengan segala kelebihannya.

Nggak perlu seperti Malioboro, tapi setidaknya gue bisa menemukan kembali gairah yang sama seperti beberapa tahun lalu di kedua jalan ini…