Awal yang baru dalam sebuah relasi terkadang memerlukan energi yang nggak sedikit. Saat harus memahami, saat harus menyelami sisi pribadi orang lain, adalah sebuah proses yang selalu saja menarik, walau nggak jarang menjadi begitu melelahkan; dalam konteks apapun itu.

Mengenali seseorang belum tentu memahami orang itu. Ingat nama, ingat rupa fisik, ataupun wajah dari orang lain juga bukan berarti gue lantas bisa beranggapan kalo gue juga mengerti pribadi seseorang. Memang, nggak semua orang perlu gue selami. Hanya orang-orang yang memang ingin gue selami. Keluarga, pacar, sahabat, rekan satu tim bekerja, tetangga dekat, adalah beberapa diantaranya.

Proses saling memahami antar pribadi memang gampang-gampang susah. Ada yang boleh mengaitkannya dengan teori komunikasi; dimana ada komunikator-pesan-komunikan termasuk ‘noise’ di dalamnya. Ada juga yang mengaitkannya dengan banyak teori tentang psikologi, etika, dan banyak teori yang lainnya. Tapi ada satu hal yang menjadi persamaan dari semua itu, yaitu saat-saat dimana kita melalui proses ‘ice breaking’; walau makna harfiahnya berarti: ‘memecahkan es’, dimana kita melalui tahapan dan sungguh mengalami saat-saat menyenangkan ketika melihat es itu (pecah menjadi bagian-bagian kecil) dan kemusian mencair. Kebekuan, suasana ‘dingin’ pada akhirnya hilang, sehingga proses menyelami pribadi seseorang pun bisa segera dimulai.

___________________________________________________

Kadang gue bukan tipe orang yang mudah akrab dengan seseorang. Dan mungkin ini juga dirasakan oleh banyak orang. Gue cenderung harus berada di zona yang cukup nyaman, untuk sampai pada tahap ‘memecahkan es’ tadi… Kebekuan, kekakuan, kadang gue hadapi saat gue ingin mengenal lebih jauh dengan pribadi lain di sekitar gue.

Jaim, takut salah ngomong, kadang menjadi alasan. Ini yang membuat proses menjadi sedikit bertele-tele. Tapi memang dalam istilah Jawa pun dikenal ungkapan basa-basi yang kadang menjadi jembatan paling praktis untuk mencoba mengenali seseorang secara lebih intens.

Basa-basi bisa menjadi proses yang efektif, asal nggak dilakukan secara berlebihan. Kadang basa-basi yang ‘basi’ pada akhirnya bisa menjadi penghalang utama yang membuat es itu nggak kunjung mencair. Salah-salah, malah bisa bikin makin beku!

Makanya kadang gue seringkali harus melalui momen ‘ice breaking’ ketika gue hadir dalam sebuah acara komunitas yang sama sekali baru. Terbukti kalo pecah dan mencairnya es dalam sebuah relasi menjadi sebuah syarat awal untuk bisa membina kedekatan lebih lanjut. Dan bagaimana metodenya, loe semua pun kadang udah pernah mengalaminya di banyak kesempatan.

Dalam hubungannya membina relasi pribadi, selama ini sih gue mencoba untuk selalu bisa berbasa-basi dengan jujur. Maksudnya jujur di sini adalah dengan niat baik dan dilakukan dengan apa adanya dan dengan cara yang juga sederhana. Saat memulai sebuah percakapan, saat mulai memahami gestur masing-masing, dan saat kesempatan beriteraksi makin banyak, di situlah kunci yang sebenarnya untuk mulai proses panjang memahami pribadi seseorang menjadi makin asik buat dilaluin.

Gak perlu pusing untuk memikirkan seberapa besar es yang harus dicairkan, dan gak perlu pusing memikirkan berapa lama waktu yang dibutuhkan. Yang perlu dan kadang harus gue pahami, setidaknya gue sudah melakukan hal-hal untuk mulai sebuah usaha untuk mencairkan suasana. Mencairkan kebekuan yang mungkin pada awalnya kelihatan mustahil untuk dilakukan.

Gak perlu menjadi orang lain, dan gak perlu memaksakan diri terlalu keras. Yang mungkin perlu gue lakukan hanyalah untuk menikmati setiap proses dan kesempatan yang ada dalam proses pencairan es itu. Mungkin saja, proses ini pun, sadar atau nggak sadar dilakukan bukan hanya oleh gue, tapi juga orang yang kebetulan saat itu ingin gue selami. Jadi minimal ada upaya dari kedua belah pihak sehingga membuat proses menjadi lebih mudah.

Jadi memang, bisa butuh waktu beberapa minggu atau beberapa bulan untuk mencairkan es ini, tapi nggak jarang proses ini pun bisa berlangsung dalam waktu hitungan menit. Well, gue memang nggak bisa memastikan dan menaruh harapan terlalu besar pada awalnya. Yang perlu gue lakukan hanyalah jujur, berniat baik, dan membiarkan semua mengalir apa adanya.

No rush, cause only fool rush in…

Semakin hari gue pun semoga semakin bisa memahami pribadi orang lain. Dan saat itu terjadi, gue akhirnya sungguh sadar kalo es itu sudah sungguh mencair. Suasana pun tiba-tiba menjadi hangat… hmmm