Ada dua sinetron yang membuat gue akan selalu menunggu kehadirannya di layar TV jaman dulu. Keluarga Cemara dan Si Doel Anak Sekolahan (SDAS). Keduanya memberi banyak inspirasi sekaligus hiburan dengan cara yang berbeda. Keluarga Cemara menjadikan kepahitan hidup sebagai sebuah kekuatan untuk bersyukur, sedangkan SDAS mengangkat kepolosan dan kejujuran sebagai sebuah pembelajaran dalam hidup.

Untuk kali ini gue ingin kangen-kangenan sama Keluarga Cemara. Kisah ini hadir dalam layar kaca beberapa tahun lalu -gue lupa kapan tepatnya, dan diangkat dari novel karangan Arswendo Atmowiloto. Sinetron ini bertutur tentang keseharian sebuah keluarga kecil yang terdiri dari Abah (Adi Kurdi) sebagai kepala keluarga, Emak (Lia Warokka) sebagai si ibu, Euis (Ceria HD) sebagai si sulung, Cemara (Anisa Fujianti) sebagai anak kedua dan Agil (Pudji Lestari) sebagai si bungsu.

Sinetron Keluarga Cemara adalah bentuk penggambaran kehidupan sederhana sebuah keluarga di sebuah desa kecil di pelosok Sukabumi, dimana dikisahkan, bahwa sebelumnya mereka tinggal di Jakarta. Dahulu, Abah adalah seorang pengusaha sukses, namun difitnah, dan seluruh harta kekayaannya terpaksa disita. Hanya Euis dari ketiga anaknya yang sempat merasakan kehidupan serba mewah di kota, sebelum akhirnya mereka  ‘jatuh miskin’ dan harus tinggal di desa.

_____________________________________________

Saat menjalani kehidupan barunya, Abah menjadi penarik becak, dan seringkali melakukan pekerjaan-pekerjaan sambilan di rumah tante Pressier; seorang tetangga kaya raya yang menjadi salah satu tokoh pendukung dalam cerita ini. Abah merupakan gambaran seorang kepala rumah tangga yang membawa beban berat namun selalu bisa tegar menghadapi semuanya. Berawal dari ‘kebangkrutannya’ lalu harus menghidupi keluarganya dengan kayuhan becak, serta harus sabar pada Emak dan Euis yang secara dulu pernah merasakan kehidupan yang lebih baik. Bagaimanapun Abah juga seorang manusia biasa. Kadang ia menangis dalam kesendiriannya. Karena kasihnya yang besar untuk keluarganya, membuat ia seringkali sedih ketika memikirkan keluarganya harus menjalani kehidupan yang berat. Namun senyum dan keceriaan Euis, Ara dan Agil, serta ketabahan Emak membuat Abah memiliki kekuatan untuk tetap berusaha menjadi suami dan ayah yang baik bagi keluarganya.

Abah dan Emak pun digambarkan sebagai orang tua yang tidak melulu sempurna. Walau keduanya selalu berusaha sabar, hidup bersahaja, saling menguatkan, dan selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, tapi kadang mereka juga lelah akan keadaan yang selalu susah karena banyak himpitan yang dirasakan. Namun sekali lagi, bagi mereka keluarga adalah harta satu-satunya yang mereka miliki dan karenanya, mereka tetap berusaha menjaganya dengan sepenuh hati.

harta yg paling berharga, adalah keluarga
istana yg paling indah, adalah keluarga

Euis sebagai si sulung yang pernah merasakan hidup berkecukupan pun berusaha tegar menghadapi semuanya. Euis juga yang pada akhirnya menguatkan hati agar ia bisa menjaga kedua adiknya, Cemara (Ara) dan Agil agar tetap bisa bersemangat dalam menjalani kehidupan. Euis menjawab kepercayaan Abah agar tidak lagi mengingat masa lalu, dan berusaha untuk menjalani hidup yang sekarang dengan hati yang sederhana dan bahagia. Bahkan Euis memiliki ‘tanggung jawab’ agar kedua adiknya bisa melewati hidupnya yang sekarang dengan penuh cinta tanpa perlu tahu masa lalu keluarga mereka.

Ara dan Agil menjadi permata yang selalu membuat keluarga menjadi ceria. Tingkah dan polah mereka begitu jujur dan apa adanya. Mereka pun berusaha mengerti bahwa kehidupan yang dijalani tidaklah mudah, sehingga mereka pun tumbuh menjadi pribadi anak-anak yang selalu bersyukur. Memang kadang mereka memiliki keinginan-keinginan layaknya anak-anak lain yang sedikit ‘lebih beruntung’. Tapi kadang mereka tidak ingin membebani Abah dan Emak dengan keinginan mereka. Dan ini tidak mudah, karena pada seusia mereka; Ara (TK) dan Agil (sekitar 4 tahun), mereka harus memiliki kekuatan untuk bisa menahan banyak keinginan yang tidak bisa diwujudkan. Disilah yang pada akhirnya menjadi gambaran kekuatan dari sosok kakak mereka Euis, karena sang kakak ini yang berusaha mewujudkan keinginan-keinginan kedua adiknya walau dengan cara yang aneh dan tidak biasa, tapi minimal bisa membuat kedua adiknya tidak lagi bersedih.

puisi yg paling bermakna, adalah kluarga
mutiara, tiada tara, adalah kluarga

Nilai-nilai dalam keluarga memang nggak ada habisnya dipaparkan dalam kisah Keluarga Cemara. Dan semua dibiarkan mengalir apa adanya. Tanpa dibuat-dibuat, tanpa dipaksakan, sekaligus tanpa ada niat untuk mengeksploitasi kemiskinan.

Dengan meyaksikan keluarga cemara, gue diajak untuk selalu bersyukur tanpa harus mengasihiani keadaan yang digambarkan pada kisah cerita. Kemiskinan yang dihadirkan tidak perlu didramatisir, apalagi dieksploitasi untuk kemudian menjual air mata. Keluarga Cemara hanya memaparkan realita secara jujur, dan kita semua yang menonton termasuk gue boleh memiliki interprestasi yang bebas juga untuk kemudian bisa terinspirasi dengan cara yang berbeda-beda. Kisah Keluarag Cemara juga tidak berusaha menggurui dengan kisah-kisahnya. Dan jujur, selama gue menonton 283 episodenya (walau nggak semua, mungkin), gue sama sekali gak merasa digurui untuk bagaimana menjalani hidup. Justru dengan melihat pengalaman dalam kisah Abah, Emak, Euis, Cemara dan Agil, gue bisa menemukan cara gue sendiri untuk menikmati hidup yang gue punya.

Tidak perlu menjadi miskin dulu untuk menjadi bahagia. Dan tidak perlu mengalami banyak masalah dulu dalam keluarga untuk membuat keluarga itu kuat dan bisa survive dalam menjalani hidup. Tapi apapun yang keluarga gue dan juga keluarga loe semua jalani; tentunya juga dengan masalah masing-masing, yang diperlukan hanya kesederhanaan hati buat ngejalani semuanya.

Keluarga gue mungkin mungkin tidak hidup serba kekurangan seperti keluarga Abah. Tapi keluarga gue mungkin juga seperti keluarga tante Pressier yang hidup berkecukupan. Keluarga gue juga bukan keluarga yang selalu memiliki masalah, tapi juga bukan keluarga sempurna yang bebas dari masalah. Tapi minimal, gue berusaha untuk selalu bersyukur buat semua yang gue miliki dan buat semua yang gue jalani bersama keluarga; apapun bentuknya itu.

Keluarga, apapun jenis dan bentuknya tetaplah keluarga. Dia akan tetap jadi istana yang megah, yang akan selalu memiliki ‘banyak ruang’ untuk ditempati oleh seluruh anggota keluarga, meskipun masing-masing membawa serta beban, masalah, dan apapun yang ada pada tiap pribadi. Keluarga akan selalu menjadi tempat yang nyaman yang akan selalu memberi kelegaan.

Mungkin aja, bangunan istana tidak berubah. Dari dulu ya begitu aja. Atau mungkin juga sifat dan karakter tiap anggota keluarga juga masih sama; ada yang pemarah, ada yang cuek, dan lainnya. Tapi yang pasti gue udah bisa merasakan kehadiran indahnya kesederhaan dalam melihat segala sesuatu, dan selalu bisa menemukan cara menikmati segala sesuatu bersama keluarga.

Dan harusnya sih, ini bukan menjadi hal yang susah dengan apa yang sudah gue punya dan gue miliki saat ini di keluarga gue…