Membuat gue mengerti,

bahwa hidup kadang tidak mudah walau semua bisa menjadi sederhana.

Membuat gue memahami,

kekuatan penghiburan bisa tercipta kapan saja dan dimana saja.

____________

Hari ini gue mau berikrar untuk lebih banyak tersenyum. Buat diri gue dan buat orang lain. Soale beberapa hari ini gue akuin gue udah mulai jarang tersenyum. Nggak di rumah, nggak di kantor apalagi di jalan. Setiap waktu lewat tanpa sebuah senyum dan jujur itu sungguh membuat hidup gue jadi ‘biasa’. Padahal hanya lewat sebuah gerakan kecil di bibir gue, bisa membuat diri gue maupun orang lain ikut ngerasa bahagia. Dalam konteks apapun, sebuah senyum kadang memang nggak butuh alasan dan banyak penjelasan. Cukup sebuah senyuman, dan gue kembali bersyukur buat hari yang sebenarnya sangat dan cukup melelahkan buat gue jalani.

Kadang bagi gue, sebuah senyuman memang menjadi sesuatu yang menjadi sedemikian susah buat dilakuin.

Padahal Sang senyum – lengkungan yang bisa meluruskan banyak hal – adalah hal yang luar biasa. Ia seperti oase di tengah gurun pasir.  Ia seperti setetes air jernih dari mata air yang bisa menghilangkan dahaga.  Ia seperti udara bagi yang tercekik.  Ia seperti sumbangan uang bagi fakir miskin yang dirawat di rumah sakit.  Ia seperti mangga muda bagi ibu muda yang sedang ngidam.  Ia seperti pinjaman uang bagi yang sedang membutuhkan.  Ia juga seperti semangkuk mie instan bagi pengungsi yang kelaparan. (Gede Prama)

Gue juga seringkali lupa kalo senyum memiliki banyak kekuatan buat diri gue maupun buat orang lain. Gue sering lupa aja meluangkan waktu sekin detik untuk mulai tersenyum. Justru biasanya gue akhirnya  melakukan sebuah ‘lengkungan’ senyum itu setelah gue ‘tertular’ dari orang-orang di sekitar gue. Gue tersenyum karena ada orang lain yang tersenyum sama gue. Gue tersenyum setelah melihat orang lain tersenyum meskipun senyumnya nggak ditujukan ke gue. Semua itu yang secara tiba-tiba sadarkan gue kalo gue belum memberi satu senyuman-pun sepagian ini sampai waktu makan siang, baik buat gue maupun untuk orang lain.

Senyum bagi gue dan bagi sebagian orang memang bisa menjadi bentuk perwujudan dari banyak hal. Senyum  bisa berarti ucapan syukur, sebuah ungkapan kekaguman, awal dari sesuatu yang nyenengin, bentuk ekspresi akan hal lucu yang terjadi di sekitar, atau bisa juga sebagai ungkapan salam yang paling hangat meskipun gue nggak ngucapin sepatah kata pun.

Senyum memang bisa menjadi bentuk media komunikasi yang paling efektif. Solusi atas semua kesalahpahaman dan semua masalah. Mungkin tidak dalam bentuk ‘solusi’ yang paling nyata, tapi setidaknya sebuah senyuman bisa menjadi stimulus yang menggerakkan sensor positif di otak gue untuk melakukan satu, dua, atau banyak tindakan yang mungkin salah satunya bisa menjadi ‘solusi’ yang sebenarnya gue cari selama ini.

Gue pingin kalo gue tersenyum di depan kaca kamar di pagi hari, akan membuat gue yakin kalo hari ini yang akan gue lalui adalah sebuah pengalaman yang sama sekali baru dan akan membuat gue mengalami banyak hal yang luar biasa.

Gue pingin kalo senyuman yang gue kasih sama orang yang kebetulan satu KRL sama gue bisa menjadi bentuk komunikasi paling sederhana untuk saling memberikan semangat antar sesama penumpang yang akan memulai perjalanan, kemanapun stasiun tujuan yang dituju. Syukur-syukur gue malah bisa punya temen ngobrol, teman baru, dan mungkin aja bisa jadi calon klien gue suatu saat…🙂

Gue pingin kalo senyuman gue saat gue mulai membuka email-email kantor gue di pagi hari bisa menjadi obat kuat paling manjur ketika mendapati banyaknya deadline yang harus gue kejar hari ini.

Gue pingin kalo senyum yang gue kasih ke rekan-rekan seruangan di kantor gue pagi itu bisa menjadi bentuk sapaan selamat pagi yang paling hangat, dan dengan begitu minimal mereka akan berbagi juga sapaan yang sama. (Kalo ada yang berbagi sarapan, itu jelas-jelas bonus nyata dari sebuah senyuman! hehehe)

Gue pingin kalo gue tersenyum pada ibu warung nasi dimana gue biasa makan siang bisa membuat mereka semakin yakin kalo mereka sudah menjalankan bisnis dengan benar. Masakan enak, harga murah….🙂

Dan pastinya buat gue, kalo gue tersenyum gue ingin menjadi diri gue yang punya semangat dan melihat semuanya dengan cara pandang yang baru!

Dan jika gue melihat mereka semua yang ada di sekeliling gue tersenyum, gue sungguh mau tertulari. Kalo perlu dalam hitungan detik. Gue mau membalas senyuman mereka, dan bahkan memulai senyuman baru. Dan semua ‘transaksi’ dan proses pertukaran senyum bisa dilakukan tanpa biaya, tapi bisa dirasakan efeknya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Jadi ketika melihatmu tersenyum, adalah sebuah ucapan terima kasih dalam hati yang ingin gue kasih, karena saat itu gue disadarkan kalo ada bumbu penyedap yang ketinggalan gue masukin ke dalam menu hari ini yang bakal  gue rasain; yang bakal gue santap, apapun nanti rasanya. Tapi minimal, gue yakin kalo bumbu penyedap itu mampu sedikit banyak ‘menetralisir’ seandainya menu hari ini nggak sesuai rasanya dengan yang gue harapkan.

Mulai besok pagi, gue akan mulai sesering mungkin membuat ‘lengkungan’ senyum itu dengan penuh semangat. Kalo bisa sih, jangan sampe keduluan sama orang lain.

Ia sederhana, tapi dahsyat luar biasa.

Ia kecil, tapi bermakna raksasa.

Ia mudah, tapi sangat berharga.

Karenanya,….

Tersenyum lah saudara

Nikmati keajaiban-keajaiban dalam hidup anda.

Dan…

Bagikanlah keajaiban bagi hidup sesama kita. (Supardi Lee)

Cheeeesssseee!!!!