Celotehan pulang kerja:

Sering banget ya, gue nggak pernah mau mulai sesuatu kalo segala sesuatunya belum jelas, dan nggak bisa meyakinkan gue bagaimana harus menjalaninya. Gue nggak mau aja nanti ribet di tengah jalan, atau harus menemui kegagalan. Gue akuin, ini memang nggak adil. Gue seringkali jadi orang yang penakut, terlalu berhati-hati dan selalu penuh pertimbangan dalam memulai segala sesuatu.

Sebenarnya ini hanya masalah persepsi atau selalu aja berhubungan sama perasaan gue. Mungkin aja semua nggak seburuk dan sesulit yang gue kira. Gue seringkali melihat sebuah bayang-bayang besar ketakutan yang sebenarnya nggak ada. Gue seringkali sok tahu dan selalu memberikan penilaian sepihak atas apa yang sebenarnya belum sepenuhnya gue jalanin. Dan ini yang biasanya membuat gue nggak pernah bisa memulai untuk melangkah dan membuat langkah gue ke depan menjadi ‘tersendat-sendat’…

Dan gue seringkali sadar, kalo banyak nggak enaknya dengan bersikap begini. Gue memang hanya nggak mau salah. Tapi seringkali kenapa itu selalu aja jadi satu-satunya alasan untuk gue nggak mulai serius melangkah. Padahal salah atau benar, baik atau buruk, biasanya akan gue ketahui setidaknya setelah gue mau mulai melangkah. Seharusnya ini yang selalu harus ada di barisan paling depan pikiran gue, dan bukan perasaan yang malah membuat gue makin bingung.

Makanya beberapa hari ini, gue mencoba untuk kembali berpikir positif. Karena jujur, hal ini butuh latihan terus menerus; minimal buat gue. Karena kalo nggak gue latih terus, bisa aja gue balik lagi jadi orang yang ribet kalo udah mau mulai segala sesuatu. Padahal, udah cukup banyak hal yang gue lalui dan semuanya membuktikan bahwa ‘pikiran positif yang akhirnya akan menentukan bagimana kita akan melakukan segala sesuatu dengan baik’. Dan ‘it really works’ pada beberapa kesempatan lalu! So, harusnya nggak ada alasan untuk gue berhenti berlatih berpikir positif, dan membiarkan gue menemukan apa yang gue cari sambil gue menjalaninya…

Memang kadang gue berpikir kalo banyak jawaban atas semua pertanyaan yang ada di benak gue nggak akan gue temukan kalo gue belum memulai. Dan itu udah jadi hukum alam, kalo gue boleh menyebutnya begitu. Jadi, harusnya apa gunanya gue bolak-balik mencari sesuatu yang memang belum tersedia buat gue? Jawaban-jawabana yang mungkin menambah keyakinan gue memang harus gue temukan nanti setelah gue mau memulai. Dan bukan sekarang. Yang ada sekarang hanya sebuah pintu masuk, dimana ketika gue memutuskan untuk masuk kedalamnya, mungkin setelah itu gue akan menemukan jawaban yang gue cari.

Atau, gue sering terbebebani dengan harapan untuk menemukan jawaban yang paling gue inginkan ketika gue ingin memulai sesuatu, ya? Harapan-harapan yang seharusnya jadi motivasi malah menjadi sesuatu yang lagi-lagi bikin gue jadi seorang pengecut. Seseorang yang akan selalu ragu untuk melakukan hal yang bahkan menurut gue adalah baik adanya. Gue takut kecewa. Gue takut gue ngak bisa nerima hal yang nggak gue inginkan di perjalanan nantinya.

Tapi…

Pada akhirnya, satu-satunya alasan yang membuat gue ‘berani’ untuk kembali mengayunkan langkah dan segera memasuki pintu yang tersedia di hadapan gue adalah: gue nggak mau menjadi orang yang sok tahu. Gue nggak mau sok ngerti bahwa segala sesuatunya akan begini atau akan begitu. Gue jadi mulai berasa gue paling pinter, dan sumpah! gue nggak mau kayak gitu lagi. Gue nggak mau sok tahu akan apa yang gue alamin, akan apa yang akan gue hadapin, dan yang pastinya gue nggak mau sok tahu sama hidup yang gue sendiri. Walau gue bertanggungjawab atas semua pilihan yang gue buat di dalamnya, tapi gue yakin gue akan dikasih setidaknya banyak petunjuk akan arah yang harus gue lewatin yang akhirnya bisa menuntun gue ke akhir perjalanan yang mau gue tuju.

_________________________________________________________________

Celotehan gue di beberapa paragraf di atas mungkin menjadi teori yang klise, dan paling sering banget ditulis, diomongin, atau disampaikan oleh siapapun! Tapi buat gue, ini menjadi berharga karena gue berharap dengan kembali menuliskannya, gue niat untuk nggak akan berhenti belajar menjalani ‘teori usang’ ini, dan gak cuma memahaminya. Dengan begitu, siapa tahu gue akan sungguh menemukan jawaban atas semua pertanyaan gue.

Yah namanya juga orang usaha…🙂